
...***...
BLAM!
Pintu itu di tutupnya rapat. Rei, Elvina, dan William lantas berjalan cepat menyusuri koridor rumahnya. Mereka hendak pergi ke ruang tengah untuk memikirkan cara lain agar mereka bisa mendapatkan solusi atas masalah yang tengah mereka alami.
"Aneh, kenapa rumah ini tampak sepi seperti tidak ada penghuninya? Kira-kira kemana Dean dan yang lainnya?" Gumam William yang kini berjalan bersebelahan dengan kakaknya—Elvina. Melangkah di belakang Rei yang kini berada di hadapan mereka.
"Kau benar, rumah ini tampak sepi. Kira-kira kemana orang-orang?" Sahut Elvina.
"Mereka tidak mungkin keluar kan?"
"Tidak, mereka masih di sini," sahut Rei seraya terus melangkah.
"Kau tahu darimana?"
"Instingku, di tambah lagi. Aku masih bisa merasakan aura tubuh mereka."
"O-oh, begitu rupanya."
"Kalau mereka masih ada, lalu dimana mereka sekarang?" Tanya Elvina.
"Mungkin saja mereka sedang menikmati fasilitas di rumah ini," sahut Rei. Mereka terus melangkah, melewati lorong bercabang tiga di sana dan mereka mengambil arah tengah.
...*...
"Rumah ini benar-benar luar biasa. Ini bahkan lebih besar di bandingkan dengan rumah yang kita miliki," Marko terus melangkah. Kepalanya tak henti mendongak seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mengagumi keindahan rumah tempat dimana Rei dan kedua sepupunya itu tinggal.
"Ya, aku setuju. Rumah ini memang lebih besar di bandingkan dengan rumah yang kita tempati," sahut Taz tanpa menoleh dan terus fokus berjalan.
"Aku jadi penasaran, apakah Rei, Elvina dan William tidak lelah merawat rumah sebesar ini? Bahkan mereka kan hanya tinggal bertiga?"
"Untuk itu jangan tanyakan padaku, karena ini bukan rumahku," ujar Taz di sana seraya terus melangkah.
"Ya, aku tahu," kata Marko seraya terus berjalan mengikutinya dari arah belakang. Pria itu masih berusaha untuk mengimbangi langkah kaki Taz yang mana merupakan sepupunya itu. "Bisakah kau pelankan langkahmu sedikit? Aku kesulitan mengimbangi langkahmu," protes Marko.
"Langkahku memang begini, kau saja mungkin yang terlalu lamban seperti seekor siput," sahut Taz tak mengindahkan permintaan sepupunya.
"Ck dasar, bercandaan mu sama sekali tidak lucu," Marko menatapnya kesal. Sementara yang di tatapnya hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan sepupunya.
Fokus mereka seketika tersita saat secara tiba-tiba mereka melihat Rei, Elvina, dan William baru saja melintas di lorong yang hendak mereka lalui.
"Oh, itu Rei!" Seru Marko.
__ADS_1
"Kau benar. Ayo kejar mereka."
"Ayo," sahut Marko sembari mempercepat langkah kakinya bersamaan dengan Taz. Mereka berdua berusaha untuk mengejar Rei dan kedua sepupunya yang baru saja melintas. Begitu mereka tiba di koridor yang semula di lewati Rei, Elvina dan William, mereka lantas segera berhenti dan menyerukan nama Rei yang sudah hampir jauh dari tempatnya.
"Rei!" Teriak Taz membuat Rei, Elvina dan William dalam seketika menghentikan langkah kaki mereka dan serentak menoleh ke arah mereka yang ada di belakangnya.
"Taz? Marko?" Rei menatap keduanya. Taz dan Marko berjalan menghampiri tempat mereka berada saat ini, dan berdiri tepat di hadapan mereka.
"Kalian darimana?" Tanya Elvina pada mereka.
"Kami baru saja dari ruang permainan," sahut Marko.
"Lalu dimana yang lain?" Kali ini Rei yang bertanya.
"Maksudmu adalah Dean, Nero, dan Vicenzo?" Marko memperjelas.
"Iya. Dimana mereka saat ini?"
"Mereka sedang ada di perpustakaan. Nero dan Vicenzo datang untuk membaca buku, sementara Dean bilang kalau ia datang ke perpustakaan karena ingin menyelidiki mimpinya. Karena dia merasa kalau mimpinya memiliki arti tersembunyi yang ingin ia ketahui." Jelas Taz.
"Mimpi?" Beo William.
"Iya. Semalam Dean bermimpi mengenai entah apa, tapi yang jelas semalam ia sempat berteriak dan mengigau memanggil mamanya."
"Rei, apakah jangan-jangan…" Elvina menoleh pada Rei. Pria yang di tatapnya itu terdiam.
...*...
"Aku… ingat isi mimpinya," sambung Dean. Ada jeda sejenak pada kalimatnya.
Mendengar ucapan dari Dean spontan membuat Nero dan Vicenzo terkejut.
"A-apa?" Nero terbata.
"Benarkah kau mengingat semuanya?" Vicenzo mencoba memastikan.
"Iya… aku dapat mengingat semuanya," Dean memperjelas. Menatap kedua manik mata Vicenzo untuk menyakinkan.
"Lalu, apa isi mimpinya?" Tanya Nero yang kini mengubah air mukanya menjadi serius.
"Itu…"
BRAKKK!
__ADS_1
Fokus mereka seketika tersita saat mendengar suara pintu ruang perpustakaan yang tiba-tiba di buka dari arah luar. Dan begitu pintu itu terbuka seutuhnya, mereka bertiga dapat melihat Rei, Elvina, William, Taz, dan Marko yang kini melangkah masuk menghampiri mereka bertiga di dalam sana.
"Rei?" Gumam Nero seraya menatap ke arahnya.
"Kalian sudah kembali?" Gumam Vicenzo begitu mereka berlima sudah tiba di hadapan mereka.
"Ya, kami sudah kembali. Omong-omong apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Rei.
"Ah, kami sedang membaca buku."
"Begitu rupanya."
"Iya. Oh, jadi bagaimana Dean? Apa isi mimpinya?" Vicenzo mengalihkan perhatiannya kembali pada Dean yang ucapan nya sempat terpotong oleh Rei yang tiba-tiba saja muncul bersamaan empat orang lainnya.
"Mimpi?" Ulang Rei berusaha memastikan.
"Kau bilang apa Vice? Dean sudah mengingat isi mimpinya?" Tanya Marko.
"Iya. Dean baru saja mengatakan padaku dan Nero kalau dia sudah berhasil mengingat isi mimpinya."
"Benarkah? Wah, itu bagus." Taz memberikan tanggapan.
"Semuanya begitu tepat. Saat aku kehilangan rute jejak mereka, dan saat itu juga. Aku mendapatkan cara lain untuk bisa tiba di tempat yang selama ini aku cari," Rei membatin.
"Rei!" Elvina menepuk pelan pundak sepupunya itu.
"Ya?" Rei menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Ini semua, sangat kebetulan. Seakan-akan semuanya telah di rancang untuk membantu kita," tuturnya pelan.
"Ya. Benar," sahut William.
"Aku setuju dengan kalian. Tapi ini bagus. Karena dengan begitu, kita hanya perlu fokus untuk memunculkan kepercayaan Dean akan kekuatan yang ia miliki. Agar dengan begitu kita bisa segera menemukan pulau dimana mereka menyekap para evolver."
"Benar sekali," kata Elvina membenarkan.
"Dean," panggil Rei yang sontak membuat semua pasang mata itu menoleh ke arah datangnya suara.
"Ada apa?" Dean menatapnya bingung.
"Bisakah kau ceritakan pada kami semua mengenai isi mimpi yang kau alami?"
"Ya. Kalau begitu duduklah akan aku ceritakan semuanya," tutur Dean.
__ADS_1
Rei, Elvina, William, Taz, dan Marko lantas beranjak menghampiri satu persatu kursi yang ada di sana. Duduk bersama di satu meja yang sama. Mengelilingi meja tersebut dan bersiap mendengarkan cerita dari Dean mengenai isi mimpi yang selama ini terus ia alaminya berulang kali. Ketujuhnya menatap kearah Dean serius.
...***...