
...***...
"Ayolah jelaskan padaku, memangnya kita sedang mengintai siapa?" Trish terus berjalan mengikuti Tessa. Sudah sejak tadi pria itu terus di buat penasaran dengan gelagat aneh dari wanita yang bersama dengannya itu.
"Bisakah kau diam? Jika kau terus berbicara yang ada orang-orang itu akan sadar kalau kita sedang mengintai mereka!" Tukas Tessa kesal, ia mendelik menatap Trish yang cerewet nya minta ampun.
"Lagipula kenapa kau tidak menjawab pertanyaan dariku? Aku ini benar-benar penasaran sebenarnya apa yang kita lakukan selama dua hari ini? Kenapa kita terus bepergian? Kau tahu? Aku bahkan sampai harus membeli semua barang-barang ini!" Trish menunjukkan tas backpack yang di bawanya.
"Sudah aku bilang aku tidak memintamu untuk ikut, lagipula siapa suruh kau mengikuti ku?!"
"Aku mengikuti mu karena aku ingin meminta jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku tanyakan padamu!"
"Sudah aku bilang aku tidak ingin menjawabnya!" Tessa menekan kalimatnya.
"Oke kalau kau tidak ingin menjawab pertanyaan ku yang itu, tapi jawab aku. Kenapa kita di sini? Dan apa yang akan kau lakukan?"
"Ah kau ini cerewet seka—"
CRACK!
Tessa menghentikan kalimatnya saat secara tiba-tiba ia menangkap suara langkah kaki seseorang yang secara tidak sengaja menginjak ranting pohon kering dari arah yang sedang di awasi nya.
"Apa it—"
"Sembunyi!" Bisik nya yang kemudian menarik tubuh Trish untuk bersembunyi pada semak-semak yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berada.
__ADS_1
"Apa yang—"
"Sttt… diamlah!" Tessa membekap mulut Trish agar pria itu diam. Sementara yang di bekapnya berusaha untuk membebaskan diri.
"Aku bilang diam!" Ucap Tessa semakin menekan kalimatnya, meminta Trish agar diam.
Tessa mengalihkan perhatiannya menoleh ke arah yang semula tengah di awasi nya. Di sana tidak ada siapa-siapa, yang di lihatnya justru seekor kucing liar yang tengah berjalan dengan santainya.
"Ternyata hanya kucing," gumamnya sembari melepaskan dekapan tangannya dari mulut Trish.
"Kau ini kenapa?!" Trish mulai kesal.
"Apa lagi?" Tessa mendelik padanya.
"Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan semua ini. Sekarang jawab aku! Apa yang sebenarnya akan kau lakukan? Dan siapa yang sedang kau intai?"
"Dengar! Jika kau benar-benar ingin tahu apa yang aku lakukan, maka kau harus dengarkan aku!" Ucap Tessa seraya menatap Trish di sampingnya.
Mendengar ucapan Tessa yang tampaknya pasrah pada dirinya membuat Trish sumringah. Ia mengulum senyum, menatap serius ke arah Tessa.
"Baiklah, aku akan mendengarkan dengan seksama," ujar Trish.
"Oke. Begini, setiap beberapa belas tahun sekali selalu ada sebuah kejadian dimana para evolver di seluruh penjuru dunia menghilang tanpa jejak, dan tanpa ada yang tahu apa yang terjadi dengan mereka."
"Maksudmu seperti saat ini?" Trish memotong.
__ADS_1
"Iya."
"Jadi memang benar, kejadian ini benar-benar pernah terjadi sebelumnya? Berarti apa yang di tulis mendiang ibu mu itu benar?"
"Betul. Dan kejadian ini terus berulang, tapi tidak ada yang tahu dan hanya sedikit orang saja yang menyadari hal ini. Karena banyak dari evolver lainnya tutup mulut dan bungkam mengenai semua ini, maka dari itu tidak pernah ada siaran berita secara langsung mengenai evolver yang menghilang. Mungkin ada beberapa yang menginformasikan mengenai hilangnya para evolver dari seluruh penjuru dunia ini lewat informasi di media internet seperti web dan lain sebagainya. Tapi kebanyakan orang yang menulis itu adalah orang seperti kita, yang merupakan manusia murni."
"Lalu apa hubungannya ini dengan itu semua?" Trish tidak mengerti.
"Dengar! Mendiang ibuku memiliki sebuah bukti yang dulu di kumpulkan olehnya mengenai para evolver yang menghilang, beliau menuliskannya pada situs web di mana tempatnya bekerja sebagai seorang reporter, tapi sayangnya berita yang ditulisnya malah di kecam oleh banyak orang yang menyebabkan ibuku harus mengalami banyak sekali kesulitan sampai beliau meninggal. Sejak saat itu aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa semua orang harus mengecam tulisannya dan mengapa semua orang bersikap seolah-olah apa yang selama ini kita pertanyakan adalah sesuatu yang tabu? Sampai kemudian setelah kedua orangtuaku meninggal, aku terus di datangi oleh beberapa orang dari pemerintahan yang berusaha untuk menangkap ku dan memastikan apakah aku memiliki bukti lain atau tidak. Aku bahkan sampai harus hidup dalam pelarian dan harus terus berpindah tempat tinggal agar bisa selamat. Semenjak itu, aku semakin curiga dengan apa yang terjadi dan aku berusaha untuk mencari bukti lain yang mungkin bisa membuat semua pertanyaan ku terjawab. Tapi kala itu, beberapa bukti yang aku pikir bisa menjadi jawaban dari pertanyaan ku, tiba-tiba di rebut dan di musnahkan oleh beberapa orang pemerintahan. Padahal itu adalah satu-satunya hal yang aku pikir akan menjadi titik terang dari pertanyaanku. Kemudian aku menunggu tahun berikutnya datang, tapi yang aku dapat justru orang-orang yang hilang itu telah kembali dengan selamat tanpa luka sedikitpun."
"Huh? Benarkah?" Trish tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Penjelasan dari Tessa cukup membuat dirinya tertarik.
"Iya."
"Jadi itu sebabnya sejak awal kau mencurigai ku?"
"Ya, aku curiga karena kau tiba-tiba datang ke rumahku. Padahal kita sama sekali tidak saling kenal."
"Aku mengerti bagaimana perasaan mu. Kau selama ini pasti tidak bisa hidup tenang kan?"
"Begitulah."
"Tapi, yang membuatku heran adalah kenapa mereka bisa tiba-tiba kembali setelah satu tahun menghilang? Dan mereka kembali dengan selamat?"
"Iya. Itulah yang ingin aku selidiki. Dan setelah kejadian itu aku pikir di tahun berikutnya akan terjadi lagi, tapi ternyata tidak. Kasusnya kembali muncul setelah bertahun-tahun kemudian."
__ADS_1
...***...