Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 31


__ADS_3

***


"Saatnya mengakhiri ini semua," satu pria berujar; menaikkan satu tangan nya, bersiap untuk menembaknya dengan peluru yang sama yang semula mereka pakai untuk melumpuhkan gadis yang Nero dan Vicenzo lihat. Pria itu bersiap untuk menembaknya. Hanya dalam hitungan detik dan, benda itu melesat cepat keluar dari dalam jamnya. Melesat mengarah pada Nero disana.


"Gawat! Bagaimana ini!" Nero was-was, namun ketika peluru itu hampir mengenainya; secara tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah gelombang yang tiba-tiba melindungi dirinya dan Vicenzo. Mereka terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Gelombang itu membentuk sebuah perisai bundar yang melindungi Nero dan Vicenzo, membuat mereka seakan berada dalam sebuah gelembung pelindung yang menghalangi setiap benda asing untuk masuk ke dalam sana. Dari dalam sana, Nero dapat melihat sedikit percikan listrik yang terdapat dari perisai tersebut, dan Nero dapat melihat warna merah muda yang samar-samar terlihat ketika suara percikan listrik itu saling beradu satu sama lain.


"K-kekuatan apa ini?" Gumam Nero pelan. Ia terus mendongak dan menatap gelombang yang melindungi nya. Peluru berbentuk jarum yang semula hampir mengenai diri nya, itu bahkan sampai tertahan di antara perisai itu, dan mengapung di udara sampai kemudian peluru itu hancur akibat tekanan tinggi.


Beberapa pria di hadapan nya, juga di buat terkejut oleh kehadiran benda itu. Mereka terbelalak, menatap ke arah benda itu dengan sangat terkejut. "Apa itu?!" Salah satu pria berujar, menatap bingung ke arah Nero yang seakan terkurung dalam gelombang energi di hadapan mereka.


"Evolver pengendali medan gaya," gumam pria yang semula hendak menembak Nero dengan peluru nya, namun gagal.


"Medan gaya?" Yang di sana mengulangi ucapan nya, ia masih belum mengerti dengan kekuatan yang satu itu. "Ap—" belum sempat diri nya mengaju kan pertanyaan, tiba-tiba secara tanpa sadar sesuatu menghantam keras kepala bagian belakang nya yang spontan mencipta kan suara keras yang berdengung di telinga nya.

__ADS_1


TRANG!!!


Keras. Amat keras ia rasakan, sampai-sampai ia tersungkur jatuh ke tanah bersemen dalam keadaan tidak sadarkan diri.


BRUKKKK!!!


Mendengar suara itu, spontan membuat pria lain menoleh ke arah nya dengan raut wajah terkejut. Namun bersamaan dengan itu, dirinya menangkap sekelebat bayangan yang bergerak sangat cepat; melintas di antara mereka yang sesekali menciptakan hembusan angin yang cukup kencang. Pria itu sampai celingukan di buat nya, bingung sekaligus penasaran tentang apa yang sebenar nya baru saja melintas di antara nya itu.


Di sisi lain, fokus Nero yang semula menatap medan gaya pelindung yang membentuk perisai bulat yang melindungi nya, seketika beralih pandang ketika telinga nya menangkap ritme suara seseorang yang berlari dengan sangat amat cepat. Nero beralih pandang pada pria yang sibuk mencari sosok yang baru saja melintas di antara diri nya. Walaupun pria itu tidak bisa melihat sosok nya dengan jelas, tapi Nero dapat melihat warna yang muncul ketika sosok itu melintas. Warna nya hijau, bergerak sangat cepat; bak petir yang menyambar di kala hujan badai.


*


Melihat pemandangan yang terjadi di bawah sana, membuat pria dengan wajah tampan itu tersenyum. Kedua sepupu nya sudah bergerak, hanya tinggal diri nya saja yang belum turun tangan untuk membantu dua pemuda yang tengah dalam kesusahan, dua pemuda yang salah satu di antara nya tidak sadarkan diri akibat kehabisan energi.

__ADS_1


"Sekarang mari buat ini lebih menarik," gumam nya. Pria itu kemudian menunduk kan kepala nya, menatap salah satu sepupu nya yang kini tengah sangat aktif membuat salah satu pria di sana kebingungan akan sosok nya, sedang kan satu pria lain yang baru saja di pukul nya keras dengan tutup tong sampah, terkulai lemas dalam keadaan tidak sadar kan diri di tanah bersemen.


"Will, bawa dia untuk pergi menjauh dari sana," pria itu berbicara dengan si hijau dengan kemampuan telepati nya. Berkomunikasi tanpa perlu membuka mulut nya untuk mengucapkan sepatah kata pun.


"Baiklah, aku akan membawa nya jauh dari ini. Kalau begitu, kalian urusan sisa nya," sahut si hijau.


"Iya, tenang saja." Ujar si biru membalas.


Di bawah sana, si biru dapat melihat si hijau yang mulai sesekali menampak kan diri nya pada pria yang baru saja di buat bingung oleh nya. Sesekali ia mengejek nya dengan cara menjulurkan lidah nya pada pria itu. Pria yang semula tampak bingung, kini mulai kesal. Ia mulai tersulut emosi dan hendak menyerang si hijau; namun karena pergerakan yang sangat cepat, membuat setiap serangan pria itu berakhir gagal. Ia yang geram lantas berusaha mengejar si hijau, sedang kan si hijau mulai bergerak menjauh dari tempat itu; menuntun pria itu untuk pergi dari tempat semula ia berada. Satu hilang, satu tumbang, dan hanya tinggal satu lagi. Pria yang bisa mengetahui setiap kemampuan para evolver yang ada, pria yang semula hendak menembak Nero dengan peluru bius yang terdapat pada jam di tangan nya. Pria itu masih tampak berusaha mencari keberadaan di merah muda yang semula menciptakan medan gaya pelindung yang berhasil melindungi Nero dan Vicenzo yang terbaring tidak sadar kan diri.


"Sekarang saat nya bergerak," si biru di sana bergumam. Ia kemudian memejamkan matanya sekilas lalu kembali membuka matanya yang spontan membuat warna matanya berubah. Ia lantas menatap ke arah pria di bawah sana, bersamaan dengan itu pria itu seketika terbakar di bagian dimana ia menatap nya. Kobaran api mulai menyala, membuat pria di bawah memekik ke panasan. Semakin lama kobaran api nya semakin besar hampir membakar seluruh tubuh nya. Hal itu membuat pria tersebut kelabakan. Ia berguling di tanah bersemen, berusaha untuk mematikan api yang berkobar pada tubuh nya, namun selalu berakhir gagal. Sampai akhir nya pria itu berlari berusaha mencari air untuk mematikan nya. Berlari menjauh dari tempat semula, mengikuti kemana arah pria yang tadi di bawa di hijau pergi.


Setelah melihat pria itu pergi, si biru kemudian kembali memejamkan mata nya sekilas lalu kembali membuka nya, membuat warna mata nya kembali seperti semula. Ia yang melihat rencana yang di susun oleh nya itu berhasil, kemudian tersenyum senang. Sejurus berikut nya, ia mulai bergerak hendak turun dari sana.

__ADS_1


***


__ADS_2