
...***...
"Baiklah, kalau begitu selamat malam untuk kalian, semoga tidur nyenyak," Rei tersenyum ke arah mereka begitu mereka baru saja menyelesaikan acara makan malam bersamanya.
"Ya, selamat malam untuk kalian juga," sahut Dean mewakili teman-temannya yang lain. Sejurus kemudian Dean dan keempat sahabatnya itu lantas beranjak pergi dari tempat mereka saat ini. Melangkah menuju lantai dua dimana kamar mereka berlima berada.
Sepeninggalan Dean dan teman-temannya, Rei, Elvina dan William kini mulai di sibukkan dengan membereskan meja makan mereka yang kini di isi dengan beberapa piring kotor bekas mereka makan.
Ketiganya bekerja sama untuk membereskan meja dan membersihkan cucian kotornya.
"Rei," panggil Elvina pada Rei yang kini tengah mencuci piring kotornya dengan kemampuan yang ia miliki. Sementara itu, Elvina bertugas mengelap meja kotor, sedangkan William membereskan piring-piring bersih yang telah kering ke rak piring yang tersedia di sana.
"Hm?" Sahut Rei seraya menoleh sekilas ke arahnya.
"Aku hanya ingin bertanya."
"Bertanya apa?"
"Menurutmu mengapa dirimu di masa lalu meminta mu untuk melindungi Dean dan teman-temannya? Dan kenapa harus Dean yang menjadi kunci kita untuk bisa menemukan pulau itu?" Tanya Elvina yang seketika membuat William menghentikan kegiatannya.
"Benar, aku juga penasaran," tuturnya seraya menatap Rei. Rei yang mendapatkan pertanyaan itu lantas menggunakan kemampuan nya yang lain, kemampuan menggerakkan benda dan mengendalikan air secara bersamaan. Membuat piring-piring yang masih kotor di sana bergerak sendiri.
Rei lantas membalikkan tubuhnya ke arah kedua sepupunya itu. Ia bersandar pada wastafel di belakang nya.
"Itu karena hanya ingatan mengenai pulau itu saja yang menghilang dan tidak akan bisa kembali ke dalam memori otak kita, dan lagi, karena Dean adalah keturunan dari Joe. Kau ingat kan?"
"Keturunan dari Joe?" Beo Elvina. Dan Rei di sana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tunggu! Tapi kenapa hanya ingatan itu yang tidak akan pernah bisa kembali ke dalam memori otak kita?" Tanya William dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Itu karena, kita berada dalam time paradox. Sebuah garis waktu yang kusut, yang membuat ingatan kita bercampur satu sama lain. Terlalu sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata. Tapi yang pasti, apa yang belum kita alami di masa lalu saat ini, sudah berada dalam ingatan kita. Terlalu rumit menjelaskan penjabaran teorinya dengan kata-kata, dan sangat sulit untuk di pahami."
"Begitu ya," William menanggapi.
"Iya."
"Lalu, apa maksudmu dengan Dean adalah keturunan dari Joe?" Tanya Elvina yang sejak tadi tak bisa melupakan kalimat Rei yang satu itu.
"Itu memang benar. Dean adalah cucu dari adiknya Joe."
"Huh? Benarkah?"
"Iya. Dan kalian tahu sendiri kan, kemampuan apa yang di miliki oleh adiknya Joe?"
"Iya, kami tahu. Tapi ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin Dean mewariskan kemampuan dari kakeknya sementara saat itu kedua orangtuanya adalah seorang manusia murni?" Tanya William yang masih belum mengerti.
Rei menggerakkan tangannya, yang dalam satu kali gerakan tangan, semua benda-benda itu berhenti bergerak.
Di belakang nya, Elvina dan William termangu di tempat mereka. Keduanya penasaran, tapi mereka berusaha menunggu waktu itu tiba.
"Karena semuanya sudah selesai. Bagaimana jika kita istirahat?"
"Ya, aku juga sudah lelah. Mari istirahat," sahut Elvina yang kemudian menaruh lap di tangannya ke tempat semula. Begitu pula dengan William yang baru saja selesai membereskan piring-piring nya.
"Ayo kita istirahat," tutur William. Mereka bertiga lantas beranjak pergi dari ruang dapur setelah mereka selesai membereskan semua piring-piring kotor di sana.
...*...
"Kau akan aman berada disini!" Ucap wanita itu seraya memeluknya. Wanita itu lantas beranjak bangun, menatap ke arah pria tua yang kini memegang tangan anak kecil berusia sekitar tiga tahun itu.
__ADS_1
"Apakah kau yakin akan melakukannya seorang diri? Bukankah ini terlalu gegabah? Jika kau sampai tertangkap juga, masalahnya akan bertambah rumit. Setidaknya bawalah salah satu anak buahku, dengan begitu kau akan aman," pria tua itu berkata seraya menatap lekat wanita dihadapannya itu.
"Aku tidak bisa pa. Ini terlalu berbahaya untuk papa nantinya. Biarkan aku pergi sendiri, dengan begitu akan lebih aman. Walaupun jika aku tertangkap nanti, setidaknya aku bisa kembali bersama dengan Dam."
"Tapi apakah kau tidak merasa kasihan pada Dean? Dia masih sangat kecil, dan dia membutuhkan sosok kedua orangtuanya untuk menemaninya hingga dewasa nanti. Dia akan sangat sedih jika menyadari jika kau sebagai orangtuanya tidak ada disisinya ketika ia berusia sekecil ini."
"Bukannya aku tidak kasihan padanya, dan bukan berarti aku juga tidak menyayangi nya. Tapi bagaimana pun, aku tidak ingin membuat Dean berada dalam bahaya. Jika dia terus bersama denganku, yang ada mereka akan berusaha untuk merebut Dean dariku karena mereka tahu jika Dean memiliki DNA istimewa dariku dan Dam. Maka dari itu aku tidak ingin membuatnya terancam bahaya. Lagipula dengan Dean bersama dengan papa, aku yakin dia akan aman karena tempat ini sudah di rancang agar tidak terdeteksi oleh alat apapun. Jadi aku mohon jaga Dean dengan baik pa," katanya penuh harap.
"Baiklah kalau begitu, papa akan berusaha," ucapnya kemudian.
"Kalau begitu aku pergi," wanita itu berbalik lantas melangkah pergi. Dean yang melihat wanita itu pergi seketika menangis dan berusaha mengejarnya tapi tidak bisa.
"MAMA!!!!!" Dean seketika membuka kedua matanya, keringat dingin mengucur deras di keningnya, jantungnya berdebar hebat dan napasnya terengah-engah. Ia mengedarkan pandangannya, namun ia baru sadar jika dirinya kini tengah berada dikamar.
Dean yang tiba-tiba berteriak, spontan membuat teman-temannya di dalam sana terkejut dan terbangun dari tidur mereka.
"Dean?" Nero di sana bangkit lantas turun dari ranjang tidurnya yang berada di atas, ia kemudian menatap Dean yang kini duduk tepat di ranjang tidur yang berada di bawah.
"Astaga kau itu mengejutkan ku saja. Kenapa kau teriak malam-malam?" Taz terbangun. Ia lalu menoleh ke arah Dean di sana.
"Apakah ada masalah?" Tanya Vicenzo yang tidur di ranjang satu di sana, ia berjalan menghampiri Dean dan Nero.
"Benar, apakah ada masalah? Kenapa kau teriak-teriak?" Marko menimpali di atas sana.
Dean terdiam, ia masih berusaha untuk mengatur napasnya yang terengah-engah dan jantungnya yang masih berdegup kencang.
"Dean, apakah kau bermimpi lagi?" Tanya Nero.
...***...
__ADS_1