Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 39


__ADS_3

***


"Ah, ini dia! Ya, benar. Pasti ini," gumam pria itu ketika diri nya tiba tepat di depan sebuah bangunan tua nan kumuh di ujung gang yang sejak tadi ia lewati. Di ujung gang gelap yang sangat amat jauh dari keramaian yang menjamah kota di luar sana.


Pria itu—Trish, menatap bergantian antara secarik kertas yang ia pegang dan nomor rumah yang ada di hadapan nya.


"Benar, ini rumah nya," gumam Trish yang merasa yakin jika itu adalah rumah orang yang di cari oleh nya. Trish tersenyum senang. Akhirnya setelah menempuh perjalanan cukup lama dan memakan hampir beberapa hari untuk bisa menemukan informasi mengenai orang yang di cari oleh nya, akhirnya ia bisa mendapat kan informasi dan menemu kan tempat orang yang di cari nya tersebut tinggal.


Beberapa hari yang lalu…


"Kalau begitu aku permisi, sampai jumpa," Trish melangkah pergi dari sana, meninggalkan Agne seorang diri di dalam ruang guru.


Tiba di luar, Trish dengan tergesa-gesa bergegas pergi dari sana mencari tempat yang aman untuk menyelesaikan penyelidikannya mengenai hal ini.


"Tadi itu hampir saja," gumamnya seraya mengelus dadanya berusaha mengatur degup jantung nya yang sejak tadi tidak karuan.


"Sekarang lebih baik aku mencari tempat yang aman untuk menyelidiki kasus ini," Trish melangkah pergi dari koridor yang masih amat sepi tanpa seorangpun penghuni itu.

__ADS_1


"Aku hampir saja menemukannya, sekarang yang harus aku lakukan hanyalah mengulang pencarian ku. Aku yakin jika artikel itu masih ada dan bisa aku temukan," gumamnya amat yakin. Trish mengeluarkan ponselnya lalu mulai di sibukkan berkutat dengan benda pipih berbentuk persegi panjang itu, sementara itu, kakinya terus melangkah


BRUKKKK


Tanpa sengaja, Trish menabrak seseorang yang berjalan dari arah yang berlawanan dengan nya. Ponsel milik nya yang semula berada dalam genggaman tangan nya, sampai jatuh terhempas ke lantai dalam keadaan masih menyala. Trish terkejut bukan main. Bergegas ia mendongak menatap sosok yang baru saja menabrak nya dari arah yang tidak terduga itu.


"A-ah, maaf pak. Saya tidak sengaja," ucap Dean, yang kemudian meraih ponsel milik Trish, hendak memberikan nya kembali pada sang pemilik nya. Namun fokus nya tersita ketika secara tidak sengaja, mata nya menangkap isi layar ponsel milik guru nya itu. "I-ini…" gumam nya, mata nya beralih melirik pada Trish sang pemilik ponsel, namun belum sempat diri nya bertanya mengenai apa yang di lihat oleh nya, Trish sudah lebih dulu menarik nya paksa dengan cukup kasar.


"Terima kasih!" Ucap Trish yang kemudian melangkah meninggalkan Dean. Trish berjalan tergesa. Melangkah dengan cepat, menjauh dari tempat lelaki itu berdiri saat ini.


*


"Dan kalau tidak salah, pada beberapa tahun berikutnya. Setelah kejadian itu, orang-orang yang sempat menghilang. Itu kembali secara tiba-tiba, dan pada saat itu mereka sudah memiliki kemampuan.…"


"…Jika memang kejadian ini terulang kembali, apa yang sebenarnya terjadi? Masalahnya di sini, yang hilang adalah para evolver, bukan manusia biasa seperti waktu itu…" Trish bergumam, otak nya sibuk berkutat dengan semua pertanyaan yang bermunculan di pikirannya.


"…Dan lagi, siapa sosok di balik semua ini? Siapa yang telah melakukan ini? Dan apa tujuan serta alasan nya melakukan semua ini? Aku sangat yakin, pasti ada seseorang di balik semua ini. Di balik semua tragedi dan kejadian yang sekarang tengah terjadi," gumam Trish lagi. Rasa penasaran perlahan mulai timbul pada diri nya. Rasa penasaran akan siapa yang telah melakukan semuanya, apa tujuan nya, dan mengapa mereka melakukan ini. Trish amat yakin. Karena tidak mungkin akan ada asap, jika tidak ada api. Semua pasti memiliki alasan dan semua pasti memiliki penjelasan. Namun di balik semua alasan dan penjelasan itu, masih menjadi suatu misteri yang bahkan membuat rasa penasaran nya semakin lekat dalam diri nya.

__ADS_1


TAP-TAP-TAP!


Seketika terdengar suara langkah kaki, memecahkan keheningan yang ada dan sontak membuat Trish yang tengah sibuk dengan teori nya, tiba-tiba tersadar dari lamunan nya. Ia terbelalak bukan main ketika telinga nya menangkap suara itu. Bergegas Trish mematikan ponsel nya, memasuk kan kembali benda itu ke dalam kantong celana yang di kenakan olehnya.


"S-siapa itu?" Trish membatin, ia benar-benar mulai merasa panik saat ini.


"Aku harap itu bukanlah pak Cato. Karena jika dia sampai tahu bahwa aku di sini secara diam-diam tengah menyelidiki apa yang sebenar nya terjadi, ini akan berakibat sangat buruk bagi ku," pikir nya. Untuk sesaat Trish diam tanpa bergerak sama sekali, berusaha untuk tidak membuat gerakan sekecil apapun yang bisa menarik perhatian dari seseorang di luar pintu bilik yang ia tempati itu.


Setelah beberapa saat diri nya terdiam, telinga nya mulai mendengar suara seseorang tersebut yang tampak tengah melakukan hal kecil. Setelah nya ia mendengar langkah kaki dari seseorang di sana mulai melangkah keluar dari dalam toilet, meninggal kan diri nya sendiri di dalam sana.


BLAM!


Pintu masuk itu tertutup yang spontan membuat Trish bisa bernapas lega karena sosok nya telah menghilang di balik pintu masuk itu.


"Huft~" Trish menghela napas lega.


"Syukurlah dia sudah pergi, sekarang aku bisa bernapas dengan lega," ucap Trish dengan suara yang sangat amat pelan bagai bisik kan. Trish lantas menyandar kan punggung nya, merasa lebih tenang. Perlahan kepala nya menengah menatap ke arah langit-langit toilet di sana.

__ADS_1


"Tampak nya, untuk bisa memecah kan semua ini… aku harus mencari reporter yang dulu menulis artikel mengenai hal ini. Tapi… pertanyaan nya adalah, di mana aku bisa menemukan reporter itu, jika aku sendiri tidak mengetahui siapa dan dari redaksi mana, website ini di tulis. Dan seperti nya aku tahu, dari mana aku harus memulai semua nya. Aku harus mulai dari mencari mengenai dari mana artikel ini berada, karena dengan begitu aku akan tahu siapa yang telah menulis nya, dan selanjut nya aku bisa bertanya padanya."


***


__ADS_2