Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 66


__ADS_3

...***...


"A-argh…"


Perlahan Nero membuka kedua matanya. Hal yang pertama kali di lihatnya adalah langit-langit kamar yang tampak luas dengan ukiran mewah berwarna keemasan. Di langit-langit kamar itu, ia dapat melihat sebuah lampu gantung antik yang tampak berharga ratusan juta.


"Dimana aku?" Gumamnya pelan. Nero mengerjap, berusaha memperjelas penglihatannya. Dan begitu ia dapat melihat dengan jelas, ia merasa bahwa tempat itu seakan tidak asing dalam ingatannya.


Nero mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan benar, tempat itu tidak asing baginya.


"Kamar ini…" Nero beranjak bangun secara spontan. Kini posisinya terduduk tepat di atas ranjang empuk besar yang tengah di duduki olehnya. Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya mencoba memastikan untuk yang ke sekian kalinya.


"Bukankah ini kamarku dulu?" Gumamnya. Nero melirik ke arah bingkai foto yang tergantung di dinding. Di dalam sana ada gambar dirinya yang berfoto bersama dengan keluarga besarnya. Ada dirinya, nenek, kakek, mama, papa, dan… kakak perempuannya.


"Ya, benar. Ini adalah kamarku di rumah nenek."


"Tapi… itu artinya aku berada di Norwegia?"


"Bagaimana bisa? Padahal jelas-jelas aku ingat bahwa aku ada Indonesia. Aku sedang di sekolah dan pak Cato memintaku untuk menaruh buku-buku ke gudang. Setelah itu aku bertemu dengan seorang pria berpakaian serba putih yang secara tidak sengaja aku tabrak, kemudian ia memberikan aku sebotol minuman," Nero bergumam. Otaknya mulai menelisik menelusuri jejaknya sebelum tiba-tiba terbangun di dalam kamarnya di rumah nenek yang berada di Norwegia.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Kenapa aku bisa tiba-tiba ada di sini?"


"Apakah semua ini hanya mimpi? Atau…"


"…Justru sebaliknya?"


Nero terdiam untuk sejenak berusaha untuk mencerna setiap kejadian yang dia alami.


CEKLEK!


Pintu kamarnya tiba-tiba di buka dari arah luar, membuat dirinya yang termangu berkutat dengan pikirannya seketika beralih menatap ke arah suara yang di dengarnya.

__ADS_1


Matanya menatap ke arah pintu masuk. Dan perlahan pintu itu terbuka sampai menampakkan seorang wanita cantik yang masuk dengan membawa sebuah nampan berisi makanan yang baunya sangat harum menusuk ke dalam hidungnya.


Wanita itu melangkah masuk, menutup pintu kamarnya rapat kemudian menghampiri dirinya di sana.


DEG!


Nero tersentak kaget melihat sosok wanita yang di lihatnya. Jantungnya seketika bergemuruh dan bersamaan dengan itu matanya mulai memerah, air mata mulai tampak berkaca-kaca di kedua manik matanya.


Wanita itu duduk di tepi ranjang tidurnya. Menaruh nampan di tangannya ke atas meja nakas kecil yang letaknya berada tepat di dekat ranjang tidurnya di sana.


"Du har reist deg?" Ucap wanita itu seraya tersenyum senang menatapnya. Matanya menatap lekat ke arah Nero di hadapannya.


(Du har reist deg/ Kau sudah bangun?— dalam bahasa Norsk ‘Bahasa Norwegia’)


Nero terdiam tanpa menjawab di sana. Matanya masih menatap lekat sosok wanita di hadapannya. Sosok wanita yang benar-benar ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya, sosok wanita yang selama ini membuatnya kehilangan pegangan hidup sampai-sampai melampiaskan semua kesedihannya dengan belajar dan terus menyibukkan diri dengan kehidupan beratnya di asrama.


"Har du sovet godt?" Sekali lagi wanita itu bertanya, menatapnya dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Senyuman yang benar-benar ia rindukan.


"T-tidak mungkin… tidak mungkin semua ini nyata! Karena Nat… dia sudah meninggal sejak usiaku sepuluh tahun. Aku yakin ini pasti mimpi! Tapi walaupun begitu, aku senang bisa melihatnya walaupun hanya dalam mimpi. Aku benar-benar merindukanmu Nat…" Nero membatin, matanya terus menatap sosok wanita di hadapannya itu. Matanya semakin berkaca-kaca dan ia masih berusaha untuk membendung air matanya agar tidak jatuh.


Wanita itu beralih pandang pada makanan yang di bawanya. Meraih piring di atas sana kemudian menaruhnya dalam pangkuan.


"Aku sudah membuatkan sarapan untukmu," ucapnya dalam bahasa Norsk.


"N-nat…" lirihnya dengan suara bergetar. Tanpa sadar air matanya lolos begitu saja membasahi kedua pipi mulusnya. Ia tidak dapat membendung air matanya lagi.


Melihat pria itu tiba-tiba menangis membuatnya terkejut dan spontan menaruh piring itu kembali ke tempat semula.


"Astaga, kenapa kau menangis?" Wanita itu mengulurkan kedua tangannya. Menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.


Nero terdiam seketika. Sentuhan wanita itu benar-benar terasa nyata saat bersentuhan secara langsung dengan kulitnya. Ia dapat merasakan kehangatannya.


"S-sentuhan ini… benar-benar terasa nyata," batinnya. Nero menggenggam tangan wanita itu, mencengkeramnya erat seakan-akan memberikan isyarat padanya untuk tidak pernah lagi meninggalkan dirinya sendiri. Nero menatapnya lekat, menyelam lebih dalam ke kedua manik mata indah milik wanita itu.

__ADS_1


Yang di tatapnya malah memandanginya dengan raut wajah bingung.


"Ada apa? Apakah kau bermimpi buruk?" Tanyanya bingung.


"D-dia baru saja berbicara denganku? I-itu artinya… ini benar-benar nyata?" Pikir Nero.


"Nata!" Ucapnya keras yang spontan menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya. Ia mendekap wanita itu erat dalam pelukannya sampai-sampai wanita itu tidak dapat bernapas.


"A-aku merindukanmu…" Nero bergumam pelan, tepat di telinga wanita itu. Air matanya semakin deras kala ia benar-benar merasakan sentuhan wanita itu yang benar-benar terasa nyata.


"Hiks…"


"J-jangan pernah tinggalkan aku lagi… a-aku tidak ingin sendirian lagi. A-aku takut…" Nero mengencangkan pelukannya. Wanita itu terdiam sesaat, ia masih berusaha untuk mencerna apa yang di katakan oleh pria yang menjadi adik laki-lakinya itu.


"Astaga. Kau pasti bermimpi buruk! Sudah. Tenanglah, aku tidak akan meninggalkan mu," wanita itu—Nata. Berusaha menenangkan Nero yang menangis dalam pelukannya. Ia balas memeluk tubuh Nero, mengusap punggung pria itu penuh kelembutan.


"Kau tidak perlu takut lagi. Karena aku tidak akan pernah pergi meninggalkan mu. Aku akan selalu berada di sisimu," gumamnya pelan tepat di telinga Nero.


Nero melerai pelukannya, kemudian memegangi kedua pundak wanita itu dan menatapnya lekat.


"Kau benar-benar Nata kan? Nata Zoilos. Kakak perempuan ku?" Nero memastikan. Tanpa sadar sejak tadi Nero berbicara dengan bahasa Norsk.


"Haha, astaga. Pertanyaan mu konyol sekali. Tentu saja ini aku, kakakmu! Memangnya kau pikir aku ini apa?" Nata terkekeh mendapati pertanyaan aneh dari adik satu-satunya itu.


Nero beralih. Ia memegangi wajah Nata di sana dan mencubitnya pelan.


"Akh! Sakit!" Ringisnya saat Nero mengencangkan cubitannya.


"I-ini benar-benar nyata?" Nero membatin. Ia semakin dibuat bingung dengan situasi yang tengah dihadapi olehnya.


"Jika ini nyata. Lalu selama ini yang aku alami itu apa?" Innernya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2