Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 68


__ADS_3

...***...


"Apakah kau ingat sekarang?" Tanya Nata menyadarkan Nero.


"O-oh ya… aku ingat. Tapi seingatku, kau bertanya seperti itu saat aku berusia tujuh atau delapan tahun."


"Pfffttt! Omong kosong apa yang kau bicarakan! Jelas-jelas kemarin aku bertanya seperti itu. Tampaknya karena bermimpi buruk, kau jadi lupa banyak hal," Nata terkekeh menanggapi ucapan adiknya itu. Nero justru hanya diam dan menatapnya dengan seribu tanya.


"Sudahlah. Sekarang ayo bangun. Jika kau ingin makan bersamaku di ruang makan, cepat bangun!" Nata beranjak dari sana dengan piring di tangannya. Ia menghampiri meja di sana dan menaruh kembali piring di tangannya ke atas nampan dan membawanya di tangan.


"Cepatlah!" Nata mengintruksikan.


"Ah, ya. Baiklah. Aku bangun," gumam Nero seraya beranjak dari tempat duduknya. Ia lantas melangkah mengikuti Nata yang sudah berjalan lebih dulu di hadapannya.


BLAM!


Pintu kamarnya itu di tutup perlahan. Tiba di luar, Nero mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan rumah itu benar-benar sangat mirip dengan rumah yang di tempati oleh kakek dan neneknya dulu. Saat ia masih tinggal di Norwegia bersama anggota keluarganya lengkap.


Nero menghentikan langkahnya sejenak begitu ia tiba di lorong. Fokus matanya beralih menatap lukisan di dinding yang sejak kecil selalu menyita perhatian nya saat ia melewati lorong itu. Maka tak heran saat pertama kali datang ke rumah neneknya, Nero langsung memilih kamar paling besar yang letaknya menghadap langsung ke arah lorong yang dimana di lorong itu ada lukisan indah yang di sukainya.


Ia berhenti di sana. Menatap lekat ke arah lukisan di hadapannya kemudian mengulurkan tangannya perlahan untuk bisa menyentuhnya. Sekarang rasanya lukisan itu terletak lebih pendek dibandingkan dulu. Saat ia masih kecil. Hal itu karena tingginya yang saat ini bahkan sudah melebihi tinggi Nata. Kakaknya.


Nero menyentuh perlahan lukisan itu. Dan begitu permukaan kulitnya bersentuhan langsung dengan lukisan itu, Nero dapat merasakan tekstur kain kanvas yang di gunakan sebagai media gambarnya. Belum lagi tekstur cat yang mengering benar-benar jelas dapat di rasakan olehnya.


"Ini nyata?" Nero menghentikan kegiatannya sesaat. Ia terdiam sejenak sebelum kemudian kembali mengusap lukisan itu. Dan kali ini ia benar-benar percaya jika lukisan itu nyata. Lukisan yang ada di hadapannya benar-benar dapat ia rasakan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Jika ini nyata… lalu apa yang selama ini aku alami?"

__ADS_1


"Ini benar-benar membuatku bingung. Padahal sudah jelas-jelas, tadi aku berada di sekolah sedang membantu pak Cato memindahkan beberapa buku ke gudang. Setelah itu bertemu dengan pria berpakaian serba putih, dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa. Kemudian saat aku bangun, kenapa aku tiba-tiba ada di sini?" Nero memonolog pelan di sana.


"Apakah semua itu mimpi? Tapi jika benar itu adalah mimpi… maka berapa lama aku tertidur? Tidak mungkin kan, jika aku tidur selama satu hari tapi ada banyak yang aku lewati? Tapi jika kebalikannya, lalu kenapa semuanya semua ini terasa nyata? Kenapa semua ini benar-benar bisa aku rasakan secara nyata? Bukankah jika hanya mimpi seharusnya tidak terasa begitu nyata seperti ini?"


"Ini benar-benar membuatku bingung dan tidak bisa membedakan antara yang nyata dan yang tidak."


"Semuanya tampak sama." Nero bergumam yang tanpa sadar ia sudah tertinggal jauh oleh Nata yang kini terus berjalan di sana.


Wanita itu kemudian berhenti dan menoleh ke arahnya saat sadar bahwa ia tertinggal di sana.


"Nero!" Panggilnya seraya menoleh. Nero memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara.


"Kenapa kau diam di sana? Cepatlah kemari. Nenek dan kakek pasti sudah menunggu kita di ruang makan!" Teriak Nata.


"O-oh ya. Baiklah," sahut Nero yang bergegas berlari menghampiri Nata di sana.


"A-ah, maaf. Aku tadi hanya ingin melihat lukisan di dinding."


"Huh? Lukisan?"


"Iya."


"Oh, maksudmu lukisan favorit mu itu?"


"Iya. Kau ingat?"


"Tentu saja. Kan sejak pertama kali kau datang ke sini, kau langsung memilih kamar itu untuk kau tinggali karena kau sangat suka dengan lukisan yang ada di lorong itu."


"Ya… kau benar," Nero terkekeh pelan.

__ADS_1


Nata dan Nero terus melangkah menuju ruang makan di rumah itu. Rumah neneknya cukup besar. Luasnya hampir mirip seperti sebuah istana dalam negeri-negeri dongeng. Benar-benar besar dan mewah. Selain itu, luas rumah yang di tempati nenek dan kakeknya sering kali membuat Nero tersesat saat ia tengah bermain bersama dengan Nata. Dan ujung-ujungnya Nero sering membuat nenek dan kakeknya cemas mencarinya.


Dan karena cemas, kakek dan neneknya sering sekali memarahinya serta melarang Nero untuk bermain terlalu jauh berkeliaran di rumahnya. Mereka hanya tidak ingin Nero tersesat lagi.


Tiba di ruang makan. Nero dapat melihat dua orang dewasa yang usianya nyaris mencapai satu abad. Hanya kurang dua puluh tahun saja. Mereka adalah kakek dan neneknya.


Keduanya tengah duduk bersama di meja makan yang sama. Meja makan besar yang di isi dengan beraneka hidangan sarapan.


Fokus mereka seketika beralih saat menyadari Nata tiba bersama dengan Nero di belakang nya. Mereka tampak terkejut melihat Nero yang keluar bersama dengan Nata di pagi hari. Hal ini jarang sekali terjadi selama Nero tinggal di rumah mereka.


Biasanya cucu bungsu mereka itu selalu ingin sarapan di dalam kamarnya dan enggan untuk bertemu dengan mereka di ruang makan.


"Nero?" Ucap wanita tua di sana menatapnya dengan raut wajah terkejut.


Nero dan Nata tersenyum simpul seraya menghampiri meja makan di sana. Nata kemudian menaruh nampan di tangannya ke atas meja.


"Duduklah," ucap Nata pada Nero seraya menepuk kursi empuk meja makan yang letaknya berada tepat bersebelahan dengannya. Di depan mejanya, Nata menaruh makanan itu di sana.


"A-ah. Baiklah," sahut Nero seraya duduk tepat bersebelahan dengan Nata di sana.


"Wah lihat. Apa yang terjadi?" Kakeknya berkomentar di sana. Menatap Nero dengan raut wajah terkejut.


"Nat? Kau memaksa Nero untuk makan di sini?" Tanya si nenek pada Nata.


"Huh? Tidak nek. Nero sendiri yang ingin makan di sini bersama kita," Nata melirik pada Nero.


"Benarkah? Tapi kenapa? Bukankah biasanya kau ingin makan di kamar?" Tanyanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2