Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 98


__ADS_3

...***...


"Ah, akhirnya kau tiba juga," ucap Rei begitu mendapati Dean yang baru saja turun dari lantai atas dan bergabung dengan mereka di lantai bawah.


"Ayo duduk dan kita makan," ujar Elvina yang duduk dekat Rei.


"Iya," sahut Dean pelan. Ia melangkah menghampiri satu kursi kosong di dekat Nero kemudian mendudukinya.


"Baiklah karena semuanya sudah berkumpul, ayo makan," tutur Rei yang kemudian meraih sendok dan garpu mereka. Kedepalannya mulai di sibukkan dengan hidangan yang sudah tersaji di hadapan mereka. Memakan makanan masing-masing. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing, hanya suara denting sendok dan garpu yang saling beradu yang dapat mereka dengar menghiasi meja makan mereka.


Dean sejak tadi terus memikirkan mengenai mimpi yang di alaminya. Ia masih berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya, kenapa ia bisa melupakan isi mimpinya dan lain sebagainya. Semua pertanyaan itu terus berputar dalam otaknya.


"Setelah ini apa yang akan kalian lakukan Rei?" Tanya Nero yang seketika memecah keheningan pagi itu. Mereka yang baru saja selesai menikmati hidangan sarapan mereka lantas menoleh ke arah Nero yang kini memandangi Rei.


"Aku, El, dan Will akan mencari rencana baru dan memikirkan strategi baru agar bisa menemukan rute perjalanan baru mereka. Hari ini mungkin kami tidak akan keluar dan kami akan menghabiskan waktu di ruangan kami."


"O-oh begitu rupanya."


"Iya. Dan sementara kami memikirkan cara agar bisa menemukan rute perjalanan baru, kalian bisa melakukan apapun. Asalkan kalian ingat, jangan keluar dari rumah ini! Oke?"


"Baiklah. Kami mengerti."


"Kalau begitu selamat bersenang-senang." Rei meneguk air minumnya.


"Ya, kalian juga selamat bekerja." Nero, Vicenzo, Taz, dan Marko beranjak serentak dari tempat duduk mereka. Langkah Marko terhenti saat secara tiba-tiba ia menyadari Dean yang masih terdiam di tempatnya.


"Dean?" Panggilnya.


"Ya? Ada apa?" Dean menatapnya dengan raut wajah terkejut.


"Kau baik-baik saja? Kenapa kau melamun?"


"A-ah? Tidak. Aku tidak melamun," sahut Dean.


"Kalau begitu ayo pergi," Marko merangkul pundaknya dan menuntun Dean untuk pergi dari sana meninggalkan Rei, Elvina dan William bertiga di dalam ruang makan.


"Entah kenapa aku merasa kalau ada yang aneh dengan Dean sejak tadi," William berkomentar.

__ADS_1


"Ya, aku juga merasa ada yang aneh dengannya," sahut Elvina yang kemudian membereskan piring-piring kotornya. Menumpuknya menjadi satu kemudian membawanya menuju wastafel di dapur untuk di cucinya. Sementara keduanya sibuk beres-beres, beda halnya dengan Rei yang kini terdiam seraya memandangi Dean yang berjalan semakin jauh dari tempatnya berada saat ini.


"Aku harus berjaga-jaga," gumam Rei yang sudah tahu apa yang tengah di pikirkan oleh Dean. Ia bisa membaca pikiran dan isi hati seseorang, itu adalah salah satu dari kemampuan yang ia miliki.


...*...


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kita kemari?" Tanya Tessa yang masih tampak bingung dengan apa yang hendak di lakukan oleh Trish untuknya.


"Sudah aku bilang kita sarapan dengan benar! Sekarang pilih makanan yang ingin kau makan!" Trish menyodorkan buku menu yang ada di hadapannya.


"Tapi…"


"Aku yang bayar semuanya! Kau tenang saja, aku masih memiliki uang jadi jangan pikirkan bagaimana kau mau membayar. Anggap saja ini sebagai ongkos tour guide mu!"


"Tunggu, apa? Tour guide? Kau pikir kau sedang bertamasya ke kebun binatang apa?!"


"Ya anggap saja begitu, lagipula kau memang seperti tour guide kan? Kau menjelaskan segala yang belum aku tahu dan kau membawaku ke jalan yang seharusnya agar bisa menyelesaikan semua ini."


"Y-ya, kau ada benarnya juga. T-tapi tetap saja berbeda!"


"Sudahlah jangan bahas hal yang tidak berguna lagi. Sekarang pilih makanan yang ingin kau coba, biar aku yang bayar semuanya."


"Iya! Cepat pilih!" Trish memaksa.


"Baiklah kalau begitu aku akan pilih," ujar Tessa yang kemudian mengalihkan pandangannya pada buku menu di hadapannya.


"Kalau perlu kau pilih yang banyak agar kau tidak sekurus batang lidi seperti ini!"


"Batang lidi? Oh kau benar-benar menyebalkan!"


"Haha, tapi itu faktanya."


"Ah, terserah kau saja!" Tessa lelah berdebat. Ia kembali di fokus mencari makanan yang hendak di nikmati olehnya. Setelah menemukan makanan yang hendak di santapnya, Tessa lantas mulai di sibukkan menunggu makanan mereka tiba di hadapan mereka, dan baru setelahnya mereka sibuk menyantap makanan yang telah mereka pesan.


...*...


Dean termenung. Kedua matanya menatap kosong pada meja yang tengah ia duduki. Saat ini dirinya sedang berada di dalam ruang permainan, duduk bersama Nero, dan Vicenzo yang di sibukkan membaca buku yang mereka bawa dari perpustakaan. Sementara mereka bertiga duduk di meja, beda halnya dengan Marko dan Taz yang kini sibuk bermain permainan video game.

__ADS_1


"Dean?!" Vicenzo yang sejak tadi menyadari keganjilan pada sahabat satu kelasnya itu kemudian berusaha untuk menyadarkan nya dari lamunannya.


"Nero, apakah kau merasa bahwa Dean sejak tadi bersikap aneh?" Vicenzo menoleh ke arah Nero di sampingnya.


"Kau benar," gumam Nero yang kini melirik Dean dari balik bukunya.


"Dean!" Panggil Vicenzo lagi sembari menaikkan sedikit intonasi bicaranya yang dalam sekejap membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


"Ah? Ya? Kenapa?" Tanyanya gelagapan.


"Kau ini kenapa sejak tadi? Kenapa kau terus melamun?"


"H-huh? Aku? Melamun?" Dean mengerutkan keningnya.


"Iya. Kau melamun, ada apa? Apa yang kau pikirkan?" Nero menimpali.


"T-tidak ada," gumam Dean. Nero yang memang pada dasarnya bisa melihat warna suaranya dan membedakan yang bohong dan yang tidak, ia bisa melihat dengan jelas kalau ada yang tengah coba di tutupi oleh Dean dari mereka. Tapi Nero tidak tahu apa itu.


"Kau yakin?" Vicenzo menatapnya memastikan.


"Iya, aku serius."


"Lalu kenapa kau sejak tadi hanya diam saja? Apakah kau tidak ingin bermain dengan Taz dan Marko? Bukankah kau sangat suka bermain game?"


"Aku sedang malas saja."


"Aneh, biasanya kau paling semangat," gumam Vicenzo mengerutkan keningnya.


"Aku tampaknya mulai bosan saja. Sudahlah, aku mau ke toilet dulu," tuturnya. Dean beranjak bangun dari tempat duduknya meninggalkan Vicenzo, Nero, Taz, dan Marko di dalam ruangan itu.


Vicenzo menatap Dean dengan raut wajah bingung sementara Nero menatapnya penuh curiga.


"Ada yang sedang dia sembunyikan," gumam Nero yang suaranya dapat di dengar oleh Vicenzo di sampingnya.


"Benarkah?" Vicenzo menoleh ke arahnya.


"Iya. Dia baru saja berbohong pada kita."

__ADS_1


"Kira-kira apa yang sedang dia sembunyikan?"


...***...


__ADS_2