
...***...
"Tapi, yang membuatku heran adalah kenapa mereka bisa tiba-tiba kembali setelah satu tahun menghilang? Dan mereka kembali dengan selamat?"
"Iya. Itulah yang ingin aku selidiki. Dan setelah kejadian itu aku pikir di tahun berikutnya akan terjadi lagi, tapi ternyata tidak. Kasusnya kembali muncul setelah bertahun-tahun kemudian."
"Ah begitu."
"Sebenarnya beberapa tahun yang lalu, aku juga pernah menyelidiki hal ini. Saat itu aku sudah hampir mendapatkan kebenarannya, tapi aku kehilangan jejak saat aku sudah hampir menemukan semuanya."
"Kau kehilangan jejak mereka?"
"Ng." Tessa menganggukkan kepalanya. "Dan setelah kegagalan ku waktu itu, aku bertekad untuk memecahkan semuanya kali ini."
"Tapi bagaimana kau tahu kalau tragedi itu terjadi tahun ini?"
"Aku tahu dengan memperhitungkan jarak antara tragedi pertama yang di alami saat kedua orangtuaku masih ada, dengan jarak tragedi pertama yang berusaha untuk aku pecahkan tapi gagal. Dan setelah itu aku menentukan jarak tragedi berikutnya akan terjadi."
"Begitu ya…"
"Benar, dan ternyata polanya tidak berubah. Mereka bergerak sesuai dengan perkiraan ku."
"Lalu, kenapa kita ada di sini? Maksudku apakah mereka akan melakukan sesuatu di tempat ini? Dan kenapa kita harus pergi menyusuri beberapa kota? Bahkan ini sudah kota ke tiga yang kita datangi selama dua hari ini."
"Itu karena mereka memiliki sebuah rute. Karena aku pikir pola gerak mereka sama, jadi dapat aku simpulkan kalau mereka juga akan bergerak sesuai dengan rute tragedi pertama terjadi. Saat itu rutenya berpola seperti ini." Tessa bergerak meraih sesuatu dari dalam tas backpack besar yang di kenakan olehnya. Mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang di ikatnya dengan sebuah pita berwarna merah.
Trish memperhatikan, begitu Tessa menaruh kertas itu di tanah. Ia dapat melihat dengan sangat jelas, peta negara Indonesia.
__ADS_1
"Di sini! Rute awal tragedi ini di mulai dari sini, kemudian akan berlanjut ke titik kedua yang berada di sini. Dan ketiga di sini," Tessa menunjuk ke beberapa titik yang telah ia tandai dengan sebuah spidol berwarna merah sebagai tanda bawah rutenya berulang, dan titik-titik yang di tandainya itu merupakan titik dimana jumlah para evolver yang hilang dengan tingkat tertinggi dan di tempat dimana para evolver itu di kumpulkan dalam satu tempat yang sama.
"Maksudmu, mereka yang hilang mengalami perjalanan sepanjang ini?" Trish menatap tak percaya pada peta yang di tandai titik itu.
"Benar, dan semua ini pada akhirnya akan berakhir di sini!" Tessa menunjuk ke arah peta yang di tandainya dengan warna oranye.
"Pelabuhan?"
"Iya. Di pelabuhan inilah titik akhirnya berada."
"Jadi maksudmu para evolver yang hilang itu di bawa keluar dari pulau tempat mereka tinggal begitu?"
"Tidak. Lebih jauh lagi."
"Maksudmu?"
"Luar negeri?"
"Iya. Hanya saja aku tidak tahu pastinya mereka membawa para evolver itu ke negara mana, karena saat aku mengejar mereka dengan salah satu kapal yang aku sewa, mereka berhasil melarikan lebih dulu sebelum aku sempat menemukan kebenarannya."
"Begitu. Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau bilang kalau mereka seharusnya di sini? Tapi kenapa tidak ada?"
"Aku tidak tahu. Tapi tampaknya mereka mengetahui kalau aku tengah mengintai mereka dan berusaha untuk mengungkap kebenaran mengenai apa yang terjadi, maka dari itu mungkin saja mereka mengubah rute perjalanan mereka."
"Jika mereka mengubah rute perjalanannya, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Hanya ada satu cara," Tessa menatap peta yang berada tepat di hadapannya itu.
__ADS_1
"Apa itu?" Trish menatapnya lekat, dari raut wajahnya. Tessa dapat melihat dengan jelas rasa penasaran yang tengah menyelimuti pria itu.
...*...
Hening. Tampaknya kalimat itulah yang cocok untuk menggambarkan suasana yang menyelimuti kebersamaan mereka saat ini.
Di dalam sana. Nero, Vicenzo, dan Dean yang kini tertidur di mejanya tengah menikmati waktu bersama di perpustakaan yang ada di rumah yang mereka tempati.
Rei, Elvina, dan William tengah pergi untuk mengawasi pergerakan dari orang-orang yang menculik para evolver, dan mereka di berikan kebebasan untuk menikmati setiap fasilitas di dalam rumah tersebut. Hanya saja ada satu syarat yang tidak boleh mereka langgar, yaitu jangan keluar dari dalam rumah tanpa izin dari Rei, Elvina dan William. Pasalnya mereka tengah berada dalam situasi berbahaya.
Sementara Dean, Vicenzo, dan Nero menikmati waktu mereka dengan berada di perpustakaan, beda halnya dengan Taz dan Marko yang saat ini menikmati waktu kebersamaan mereka dengan mencoba segala permainan di dalam ruang permainan.
"Luar biasa, semua buku yang ada di dalam sini benar-benar menarik. Sampai-sampai rasanya aku tidak ingin beranjak pergi dari sini," Nero berdecak kagum menatap satu persatu buku yang ada di rak tinggi yang menjulang sampai hampir mencapai langit-langit ruang perpustakaan itu.
"Kau benar, semuanya benar-benar menarik. Dan ada banyak sekali ilmu yang bisa kita dapat," Vicenzo yang tengah duduk di meja yang kini di tempati oleh Dean itu menyahut. Ia menoleh ke arah Nero yang saat ini sibuk mencari buku baru untuk di bacanya. Oh ayolah, sejak tadi Nero tak bisa berhenti mencari buku untuk di bacanya. Sudah tiga buku yang di bacanya, dan sekarang ia memutuskan untuk membaca buku lain.
Sementara itu, Vicenzo sejak awal sudah memilih beberapa buku untuk di bacanya, dan semua buku yang hendak di bacanya telah ia susun. Di tumpuk menjadi satu di sisi kiri dan kanannya.
"Baiklah, mari kita lihat buku apa yang akan aku baca selanjutnya," Nero bergumam pelan seraya terus menatap dan membaca satu persatu sisi buku yang bertuliskan judul buku tersebut.
"Omong-omong Dean kemari tampaknya hanya untuk tidur. Dia sama sekali tidak berniat untuk mencari tahu mengenai arti dari mimpi yang ia alami, atau alasan mengapa dia terus memimpikan hal yang sama selama berkali-kali," Vicenzo menoleh pada Dean yang saat ini terpejam di hadapannya. Sebuah buku tebal yang berisi informasi mengenai mimpi, menjadi bantalan tidurnya di sana. Pria itu tertidur dengan sangat pulas dan tenang, seakan-akan tidak menghiraukan segala kebisingan yang ada di sekitarnya.
"Mungkin saja dia kelelahan," sahut Nero seraya menoleh sekilas padanya lantas beralih pandang menatap satu buku kemudian meraihnya. Membuka dan membaca buku itu sekilas.
"Tampaknya ini menarik," gumam Nero kemudian saat membaca isi buku itu secara perlahan. Nero tertarik dengan buku yang baru saja di bawa olehnya.
"Ya, mungkin kau benar, dia kelelahan."
__ADS_1
...***...