
...***...
"Mereka?"
"Iya. Orang-orang yang ditugaskan untuk menangkap para evolver, maka dari itu kau dan teman-temanmu harus berhati-hati. Kau akan bertemu dengan mereka nanti."
"Darimana kau tahu?"
"Kekuatan ramalan ku. Aku baru saja melihat ramalan tentang kalian. Jadi aku harap kalian berhati-hati dan jangan sampai kalian tertangkap oleh mereka," kata Rei.
"Kami akan berhati-hati. Terima kasih telah peduli terhadap kami."
"Ya. Oh, dan jika kau serta teman-teman mu bertemu dengan mereka, segera lari dan jangan melawan mereka. Mereka terlalu kuat untuk kalian hadapi, mereka bukan tandingan bagi kalian."
"Baiklah."
"Kalau begitu sampai jumpa. Ingat pesanku, jika terjadi sesuatu. Panggil namaku dalam pikiranmu tiga kali, maka kau akan terhubung denganku."
"Iya. Sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama," ujar Rei di seberang sana. Mengakhiri telepati-nya.
"Dean!" Taz menepuk pundaknya, membuat Dean seketika tersadar dan spontan menoleh pada sosoknya.
"Ah? Ya? Kenapa?" Dean menatapnya bingung.
"Ayo kita pulang," ujarnya.
"Oh, ya. Baiklah, ayo!" Dean beranjak bangun dari tempat duduknya bersamaan dengan ke tiga sahabatnya yang lain. Mereka lantas melangkah menuju arah pintu keluar restoran itu, hendak pulang kembali ke asrama sebelum waktu pulang sekolah tiba.
TRING!
Lonceng di dalam sana berbunyi setiap kali pengunjung datang dan pergi. Dean dan ke tiga sahabatnya yang baru saja selesai menikmati makan siang mereka lantas melangkah dari sana.
"Ngomong-ngomong menurut kalian kemana pak Trish pergi? Dan kenapa dia belum kembali?" Taz meminta pendapat dari ketiga sahabatnya yang lain. Kini mereka melangkah beriringan bersama menyusuri trotoar yang terkadang di lewati beberapa pejalan kaki. Mereka harus kembali ke asrama sebelum jam pulang sekolah tiba.
"Entahlah aku juga tidak tahu," Vicenzo menanggapi.
__ADS_1
"Tapi tampaknya ini semua ada hubungannya dengan evolver yang populasi hilangnya bertambah," Marko angkat bicara.
"Kenapa kau berpikir begitu?" Vicenzo melirik padanya.
"Ya, kalian lihat saja. Semenjak dia hilang orang-orang justru malah banyak yang hilang. Mungkin saja jika dia bergerak lebih leluasa setelah orang-orang tahunya jika ia hilang."
"Tapi itu tidak masuk akal."
"Menurut ku justru kebalikannya!" Ujar Dean tiba-tiba membuat mereka seketika beralih pandang padanya.
"Huh? Maksudmu Dean?" Vicenzo menatapnya bingung.
"Begini, maksudku adalah mungkin saja jika dia sebenarnya tidak terli…" belum sempat Dean menyelesaikan kalimatnya sebuah mobil tiba-tiba berhenti di dekat mereka, membuat perhatian mereka beralih menatapnya.
"Huh? Kenapa mobil ini berhenti disini. Menghalangi jalan saja," Taz sedikit kesal. Langkah mereka terhenti seketika.
Sekarang mereka berada di jalanan sepi yang semula dipakai mereka sebagai jalan pintas menuju statio yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka singgah. Tapi tepat saat mereka tiba di persimpangan jalan menuju gang yang hendak mereka lalui, tiba-tiba mobil itu berhenti. Tidak biasanya ada mobil yang lewat disana.
Beberapa orang pria berjas hitam dengan pakaian rapi lengkap dengan kacamata yang hitam yang senada terpasang menutupi mata mereka. Dan begitu beberapa pria itu keluar, spontan Vicenzo tercekat di tempatnya. Ia terkejut saat secara tiba-tiba harus bertemu dengan beberapa pria itu. Matanya terbelalak.
"Mereka…" ia bergumam seraya menatap mereka.
"M-mereka adalah orang yang menangkap para evolver yang hilang," gumamnya pelan.
"A-apa?" Marko terkejut mendengarnya.
"Cepat tangkap mereka!" Salah satu pria yang baru saja keluar itu bergegas menginstruksikan pada anak buahnya yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Lari!" Marko memekik bergegas berlari, di belakangnya Vicenzo menarik Taz yang masih tampak berusaha mencerna apa yang tengah terjadi.
"Kejar mereka!" Pria di belakang sana menginstruksikan pada anak buahnya yang kini mulai berlari mengejar mereka.
"Apa yang harus kita lakukan?" Marko di belakang Dean panik.
"Kita harus mencari tempat yang aman. Jangan biarkan mereka menangkap kita!" Ujar Dean yang terus berlari paling depan.
"Kalian bodoh? Kita bisa melawan mereka. Kenapa kita harus berlari?!" Taz emosi di belakang sana. Ia terseret karena Vicenzo menarik tangannya dengan cukup kasar.
__ADS_1
"Kau yang bodoh! Mereka bukan evolver biasa yang bisa kau lawan!" Vicenzo kesal dibuatnya.
"Apa maksudmu!" Taz semakin kesal. Tubuhnya mulai mengeluarkan kepulan asap.
"Oh ayolah, jangan sekarang. Jika kita melawan mereka yang ada kita akan tertangkap. Mereka memiliki jarum bius yang bisa melumpuhkan evolver seperti kita!" Vicenzo menjelaskan seraya terus berlari.
"Lalu? Memangnya kenapa? Kita masih bisa menyerang mereka! Lagipula jumlah kita tidak berbeda jauh dengan mereka di belakang sana!"
"Sudahlah jangan banyak bicara! Lebih baik kau gunakan kakimu dengan baik, berlari dengan cepat dan jangan biarkan mereka menangkap kita!" Vicenzo mulai emosi.
Dean dan ketiga temannya terus berlari, kini mereka tanpa sadar berlari menuju gang-gang lain yang tampak kotor dan kumuh, belum lagi luasnya yang tidak terlalu besar dan di penuhi dengan beberapa bak sampah di sisi kiri dan kanan mereka, membuat mereka cukup kesulitan untuk berlari dengan leluasa.
"Berhentilah kalian! Tidak ada gunanya kalian berlari!" Satu pria di belakang sana berteriak.
"Minggir! Biar aku tembak!" Satu pria lain berujar. Tangannya terangkat bersiap untuk menembakkan peluru dari jam yang melingkar di tangan kirinya. Dan dalam satu kali tekan, sebuah peluru melesat keluar dari dalam sana.
"Awas!!!" Vicenzo memperingatkan, di tariknya cepat Taz ke sisi lain yang berhasil membuat peluru itu meleset dan tidak mengenai Taz.
"Tadi itu hampir saja," ujar Marko yang sejak tadi tak henti-hentinya menoleh ke belakang memastikan jika Vicenzo dan Taz tidak tertinggal jauh di belakang. Marko di depan mereka berlari dengan keadaan terbang rendah. Jaraknya hanya sekitar setengah meter dari permukaan tanah.
"Rei! Rei! Rei!" Dean terus merapalkan nama itu di pikirannya berharap ucapan Rei benar, dengan merapalkan namanya ia akan bisa terhubung dengan Rei.
"Astaga dimana kau Rei! Kami membutuhkan bantuanmu!" Dean membatin.
SRAKKKK…
Dean menghentikan langkahnya spontan saat mereka tiba di ujung jalan buntu. Mendapati Dean yang berhenti secara tiba-tiba, spontan membuat teman-temannya yang lain juga berhenti.
"Jalan buntu," Dean bergumam seraya menatap dinding yang kini berdiri tepat di hadapannya. Tingginya sekitar dua puluh meter dari permukaan tanah.
"Sial! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ujar Taz.
"Kita tidak bisa kemana-mana lagi," Vicenzo menimpali.
DRAP! DRAP!
Beberapa pria itu berhenti tepat di belakang mereka. Dean dan ketiga sahabatnya lantas berbalik.
__ADS_1
...***...