Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 11


__ADS_3

***


"Ja-jadi… Ini yang harus aku perbaiki?" Tanya Nataliya pada Vicenzo yang kini berdiri tepat di hadapannya. dengan malas pria itu menjawab "iya."


"Ba-baiklah, akan aku perbaiki sekarang," kata Nataliya yang kemudian menggunakan kemampuannya untuk memperbaiki barang-barang itu. Walaupun tangannya gemetar karena bisa begitu dekat dengan Vicenzo tapi dirinya dengan serius memperbaikinya dengan kekuatannya.


Disisi lain Vicenzo yang berdiri disana merasa terjebak dengan gadis yang menjadi sepupunya Nero itu. Baru pertama kalinya Vicenzo bertemu dengan gadis seperti Nataliya yang begitu agresif ketika berhadapan dengannya. Sejak tadi gadis itu terus menjerit-jerit dan tersenyum saking senangnya. Vicenzo bahkan merasa gendang telinga nya hampir pecah ketika mendengar gadis yang begitu enerjik itu berbicara dan menjerit-jerit.


Sementara Vicenzo merasa terjebak, beda halnya dengan Nero dan ketiga temannya disana. Ia menatap ke arah Vicenzo penuh harap, seakan-akan dengan ini mereka bisa lepas dari hukuman dari pemeriksaan.


"Aku benar-benar tidak menyangka dia adalah gadis yang begitu agresif," Marko berkata tanpa menoleh. Fokus matanya masih menatap Nataliya yang berdiri disana.


"Aku juga tidak menyangkanya," sahut Taz yang berdiri di sampingnya. Dean hanya diam tanpa berkomentar, sementara itu Nero yang berada tepat di sebelahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya memijat keningnya. Ia benar-benar malu dengan sikap Nataliya yang seagresif itu, apalagi ketika sudah bertemu dengan lelaki setampan Vicenzo.


"Jika bisa aku tidak ingin mengakui dia sebagai sepupuku. Benar-benar memalukan," gumamnya seraya memalingkan wajahnya. Dean disampingnya itu menoleh, mengusap pundaknya pelan.


"Kau harus bersabar," tuturnya iba. Nero hanya mengangguk dengan lesu.


"Sudah!" ucap Nataliya kemudian yang spontan membuat mereka semua beranjak menghampiri Nataliya dan Vicenzo disana.


"Kau sudah selesai?" tanya Taz padanya.


"Iya, sudah," Nataliya mengangguk seraya tersenyum.


"Bagus, sekarang kau boleh pergi!" Gumam Vicenzo dengan suara pelan yang bahkan tidak bisa di dengar sama sekali oleh Nataliya yang berdiri tepat di sampingnya itu.


"Baiklah, kalau begitu lebih baik sekarang kau kembali," ujar Nero membuat Nataliya berubah kesal.


"Jadi kau mengusirku begitu saja? Huh dasar tidak tahu berterima kasih!" Kesalnya seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Bukan begitu, tapi masalahnya adalah karena guru-guru sudah hampir tiba. Aku yakin mungkin saja sekarang mereka sudah berada di lantai satu dan mengecek para siswa baru. dan kau juga sekarang, seharusnya ada di asramamu. jika kau melewatkan inspeksi ini, mungkin saja kau akan di hukum dengan hukuman berat!" Ucap Nero yang tampak panik.


"Ta-tapi aku masih ingin berada disini. Aku tidak ingin jauh-jauh dari kak Vicenzo," Nataliya melingkarkan tangannya pada tangan Vicenzo membuat lelaki itu tidak nyaman di buatnya.


"Heh! Apa kau lakukan! Lepaskan tanganku!" Tuturnya seraya berusaha melepaskan tangan Nataliya darinya.

__ADS_1


"Tapi aku tidak ingin jauh-jauh dengan kak Vicenzo," tuturnya yang malah mempererat tangannya seraya menggerakkan kepalanya pada Vicenzo.


"Arrgggghh! Nero! Cepat bantu aku. Singkirkan sepupumu ini!" Ucapnya dengan raut wajah kesal, ia berusaha untuk melepaskan diri dari Nataliya namun gagal.


"Ma-maaf, biar aku membawanya," Nero menarik paksa tubuh Nataliya yang tampak enggan untuk beranjak dari tempatnya.


"Nat! Kau harus pergi!" Nero menarik paksa Nataliya.


"Aku tidak mau!!" Pekik Nataliya keras kepala.


"Teman-teman bantu aku!" Nero bersusah payah melepasnya namun sulit. Dean disana tak tinggal diam, ia bergerak menarik Vicenzo agar bisa lepas dari Nataliya. Marko dan Taz juga tidak tinggal diam. Mereka juga berusaha membantu Vicenzo agar bisa lepas dari Nataliya yang tampak seperti prangko.


BRUKKK


Nero tersungkur jatuh ke lantai ketika secara tiba-tiba nataliya melepaskan tangannya dari Vicenzo.


"Baiklah-baiklah, aku akan kembali," ucapnya dengan sedikit merajuk. Nero yang tersungkur disana menatap ke arahnya dengan sedikit kesal, karena gara-gara Nataliya, dirinya terjatuh. Dean, Taz dan Marko terdiam disana, ketiganya begitu terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Nataliya. sementara itu Vicenzo disana merasa senang sekaligus lega karena bisa lepas dari Nataliya.


"Bagus! Kalau begitu silahkan pergi, pintu keluarnya di sebelah sana," ucap Vicenzo. Nataliya tersenyum, mendekat ke arahnya seraya menatapnya lekat.


"Sudahlah pergilah!" Nero menarik lengan gadis itu menjauh dari Vicenzo.


"Aih, kau ini kasar sekali padaku!"


"Kau mengganggunya. Apakah kau tidak menyadari itu sejak tadi?"


"Tidak!"


"Dasar tidak tahu diri, sekarang pergi!"


"Kau yang tidak tahu diri. Sudah ku tolong juga, bukannya berterima kasih malah mengusirku. Awas saja! Lain kali aku tidak akan datang untuk membantumu," ketusnya.


"Terserah kau saja. Sekarang pergi."


"Jadi kau tidak mau bertanggungjawab begitu? Antarkan aku pulang! Enak saja kau mengusirku begitu saja," Nataliya kesal, melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Kau pikir aku ini memiliki kemampuan untuk memindahkanmu ke manapun? Kau tahu sendiri kan apa kemampuan ku. Lagipula kau kan memiliki kaki, dan keduanya tidak patah sama sekali. Jadi jalan saja sendiri."


"Tidak!"


"Argh, kau membuatku jengkel," Nero berusaha untuk tenang.


Disisi lain, Dean dan Taz menoleh ke arah Marko disana. Menatap dirinya penuh isyarat berharap dirinya mengerti akan maksud dari tatapan mereka. Marko yang merasa di awasi lantas menatap ke arah keduanya.


"K-kenapa kalian menatapku seperti itu?" Ucapnya gelisah. Dean dan Taz hanya tersenyum penuh arti ke arahnya. Lantas melirik ke arah Nataliya disana. Hanya dengan lirikan matanya itu, Marko mengerti akan maksud mereka.


"A-aku—"


"Nat! Marko bilang dia akan mengantarkan kau kembali ke asrama mu!" Teriak Dean pada Nataliya membuat gadis itu menoleh.


"Benarkah?"


"Iya, dia akan mengantarkan kau kesana dengan cepat!"


"Baiklah kalau begitu," sahut Nataliya yang tampak tidak keberatan.


"Huft~" Marko menghela napas berat, kesal bukan main pada dua pria itu. Taz mendorong punggung Marko dan menyuruhnya untuk segera pergi.


"Sekarang pergilah!" kata Taz.


"Argh kalian menjengkelkan."


"Jangan banyak protes, cepat antarkan dia pulang," ucap Dean.


"Baiklah-baiklah, aku pergi," marko melangkah menghampiri nataliya disana. Ia lantas meminta Nataliya untuk berpegangan pada tubuhnya, sejurus kemudian dirinya membawa Nataliya untuk kembali ke asrama nya denga kekuatan mengendalikan anginnya. Membawa gadis itu terbang dengan kekuatannya itu.


Sekarang Vicenzo dan yang lainnya merasa lebih tenang karena Nataliya sudah pergi.


"Akhirnya dia pergi juga," gumam Nero yang merasa lega.


"Baiklah karena tugas kita sudah selesai, mari kita kembali!" Dean menarik Nero keluar dari dalam kamar mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2