
...***...
"Kalian tenang saja. Aku yakin ini pasti berhasil," ujar pria itu seraya tersenyum simpul menatap satu persatu anak buahnya yang kini terduduk di sana.
"Tuan besar dan profesor pasti sangat senang mengetahui semua ini," kata salah satu pria di sana.
"Tentu saja. Tuan memang memilih orang yang tepat dengan membiarkan aku menangani permasalahan kali ini. Apalagi setelah kegagalan Joe, memang sudah benar tuan memberikan tugas ini kepadaku," ujarnya menyombongkan diri.
"Tuan Azura benar. Joe bahkan tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan tuan Azura."
"Tentu saja, kekuatan Joe bahkan tidak ada keren-keren nya sama sekali. Kerjanya saja bahkan tidak becus hanya di tugaskan untuk menangkap dua orang evolver yang tidak sempurna saja selalu gagal."
"Benar tuan. Tapi aku dengar Joe mendapatkan kekuatan baru dari profesor," salah satu pria itu berucap yang seketika membuat Azura menatapnya serius.
"Benarkah?"
"Iya."
"Darimana kau tahu?"
"Aku secara tidak sengaja melihat saat profesor memberikan kekuatan baru untuknya, jadi aku tahu tuan."
"Kekuatan apa yang di berikan profesor?"
"Terbang. Kalau tidak salah, itu adalah kekuatan yang di berikan oleh profesor padanya. Tapi, tentu saja tuan tahu sendiri kan. Semakin banyak kekuatan yang di miliki oleh evolver penjaga sepertinya, maka semakin cepat pula energinya akan habis. Bahkan hal ini membuat Joe semakin bertambah lemah," tutur pria itu. Azura terdiam sejenak dalam lamunannya.
"Kau benar," gumam Azura pelan.
"Oh ya, aku ingin ke toilet sebentar."
"Iya tuan," sahutnya.
Azura beranjak bangun dari tempat duduknya. Melangkah menuju toilet yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempatnya berada saat ini.
__ADS_1
Tiba di dalam toilet, Azura segera mencuci wajahnya dengan air keran di sana.
"Kekuatan baru?" Gumamnya, seraya menyeringai menatap dirinya lewat pantulan cermin yang di lihatnya. Di bawah sana tangannya terkepal erat, berusaha menahan amarahnya. Rasa iri yang di rasakan nya itu menyeruak dalam dirinya.
Azura menatap dirinya sendiri lekat lewat pantulan cermin di sana.
...*...
Nata terdiam menatap sosok Nero yang kini menghilang di balik cahaya yang di lihatnya.
TEP!
Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya dari arah belakang, membuat Nata seketika membalikkan tubuhnya menatap sosok yang baru saja menepuk pundaknya itu. Tapi begitu ia berbalik, ia tiba-tiba sudah berada di tempat lain. Tempat yang berbeda dari sebelumnya.
Danau yang semula di tempati olehnya berubah menjadi sebuah ladang rumput hijau penuh bunga. Dan saat ini dirinya berdiri di tepi sebuah sungai yang airnya sangat jernih.
Ia menatap sosok pria di hadapannya. Itu Rei. Pria itu memegangi kedua pundak Nata dan menatapnya lekat. Menyelam lebih dalam ke dalam kedua irish matanya yang dalam seketika membuat Nata terpaku menatap Rei.
"Aku menemukanmu!" Gumam Rei seraya tersenyum. Ia mengulurkan tangannya ke arah manik mata milik Nata di sana yang dalam seketika membawa tanganmya menuju tempat dimana orang yang di carinya itu berada.
...*...
Azura terbelalak, kedua matanya spontan membulat sempurna. Dan bersamaan dengan itu, ia melihat tangan Rei yang terulur ke arahnya. Menembus melewati kedua pantulan matanya di cermin. Tangannya keluar dari dalam cermin, menarik cepat kerah kemeja putih yang di kenakan olehnya.
"Aaakkk," Azura tercekik. Tubuhnya terangkat, terseret menuju cermin dan bertabrakan dengan cermin di hadapannya itu. Ia berusaha memberontak, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Rei yang meremat keras kerah kemejanya.
"Aaakkk!" Ia tidak bisa bernapas dibuatnya. Sementara itu tangannya terus berusaha memberontak, melepaskan cengkeraman tangan Rei dari dalam cermin sana.
"Hari ini benar-benar hari yang melangkah ya," atensi nya beralih melirik ke arah dua orang anak buahnya yang baru saja masuk ke dalam toilet.
Tangannya terulur ke arah mereka, berusaha memberikan isyarat pada mereka untuk membantunya.
"Aaakkk!!" Azura semakin kesulitan untuk bernapas.
__ADS_1
"Tuan Azura!" Salah satu anak buahnya memekik.
"Astaga! Tuan!" Pekik yang satu. Mereka berdua bergegas berlari menghampiri Azura yang berada di sana.
"Apa yang terjadi?"
"Cepat kita bantu tuan Azura!" Sahut yang satunya panik. Bergegas keduanya meraih tubuh Azura. Mencengkeram tubuhnya erat dan menariknya menjauh dari arah cermin yang menariknya. Mereka sempat kesulitan untuk melepaskannya, tapi setelah berusaha berulang kali. Akhirnya mereka berhasil membuat Azura terlepas dari Rei yang mencengkeram erat kerah kemejanya. Satu kancing kemeja atasnya sampai lepas dan hilang bersama dengan lenyapnya tangan Rei begitu ia terlepas dari dalam sana.
"Uhuk-uhuk," Azura terbatuk di sana begitu ia bisa membebaskan diri dari cengkeraman Rei yang meremat keras kerah kemejanya.
"Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Tanya salah satu anak buahnya panik.
"A-aku baik-baik saja," ucap Azura yamg kemudian bangun secara perlahan. Menatap ke arah cermin, ke arah dimana tangan Rei lenyap di sana.
"Apa itu tadi?" Tanya salah satu anak buahnya seraya menatap ke arah cermin yang kini menampakkan dirinya bersama dengan Azura dan salah satu temannya.
"Aku baru pertama kali melihat yang seperti tadi. Itu tadi seperti tangan, benar kan?" Yang satu menyahut.
"Iya. Kau benar, tadi itu tangan," katanya membenarkan. Sementara kedua anak buahnya di buat bingung dengan apa yang tengah terjadi, beda hal nya dengan Azura yang kini menatap lekat ke arah cermin di hadapannya.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa melakukan semua ini? Ini benar-benar tidak bisa aku percaya. Seorang evolver dengan kekuatan lebih dari dua? Ini benar-benar tidak masuk akal," batinnya. Azura masih berusaha mengatur napasnya yang tersengal akibat Rei yang mencengkeram erat kerah kemejanya dan membuat ia tidak bisa bernapas.
"Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Tanya salah satu anak buahnya yang tampak cemas karena sejak tadi Azura hanya diam di sana.
"Tampaknya tuan masih sangat syok dengan apa yang baru saja tuan alami," kata satu anak buahnya yang lain.
"Aku baik-baik saja," gumam Azura pelan. Ia lantas beranjak dari tempatnya. Melangkah menghampiri pintu keluar di sana, meninggalkan kedua anak buahnya yang kini terpaku menatap kepergiannya yang kemudian hilang di balik pintu keluar di sana.
"Tampaknya tuan masih sangat syok dengan apa yang baru saja beliau alami," gumam pria itu begitu Azura yang menjadi tuannya itu menghilang di balik pintu sana.
"Ya. Kau benar. Tapi apa itu tadi?"
"Entahlah, aku tidak tahu."
__ADS_1
...***...