
...***...
Semua yang di lihatnya putih. Sampai kemudian indra pendengarnya dapat mendengar suara ketenangan. Dean dapat mendengar suara kicauan burung yang membuatnya tenang, semilir angin yang berhembus meniup daun-daun di pepohonan, dan suara air yang mengalir di sungai.
Ia terus melangkah mengikuti kemana Rei melangkah. Sampai kemudian putih yang di lihatnya sirna bergantian sebuah pemandangan indah yang tiada tara.
"Woah…" Dean terperangah. Matanya membulat saat ia melihat sebuah pemandangan yang memanjakan matanya.
"Dimana kita?" Tanya Dean pada Rei yang kini berhenti di dekatnya. Dari tempatnya berdiri saat ini, ia dapat melihat sebuah hamparan ladang hijau yang begitu sejuk. Bunga-bunga indah bermekaran dengan berbagai jenis, dari yang merah hingga yang ungu, sampai dari bunga mawar hingga bunga tulip. Semuanya ada di sana.
Dean berjalan beberapa langkah ke depan. Dan ia baru sadar jika dirinya dan Rei, baru saja keluar dari sebuah batang pohon besar yang daunnya begitu lebat menutupi bayangan mereka. Pandangan mata Dean terus mengedar menikmati setiap sudut keindahan alam disana.
"Welcome to the dream world," ujar Rei yang membuat Dean seketika beralih pandangan padanya.
"Dream world?" Beo Dean.
"Iya. Inilah dunia mimpi yang aku ciptakan," sahut Rei. Dean terdiam sesaat, ia masih tidak bisa percaya dengan ucapan Rei.
"Aku masih belum percaya jika ini mimpi," Dean bergumam.
"Jika kau tidak percaya, coba kau pikirkan darimana kita keluar?"
"Eh?" Dean baru menyadari hal itu. Sontak ia menoleh ke arah dimana mereka keluar dan yang di lihatnya hanya sebuah batang pohon besar yang sangat tua. Sebuah batang pohon berlumut yang lekang di makan waktu. Dean terdiam memandangi batang pohon itu, dan kini dahinya mulai berkerut. "Apakah kita baru saja keluar dari dalam batang pohon ini? Tapi bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa. Karena di dunia mimpi, apa saja bisa terjadi," sahut Rei.
"Jadi, benar ini adalah dunia mimpi?"
"Kan aku sudah bilang," Rei mulai lelah membuatnya percaya.
"Oh, ngomong-ngomong dimana teman-teman ku? Bukankah kau bilang jika mereka sudah menungguku sejak tadi? Jika memang benar, dimana mereka?"
"Mereka ada di sana," Rei menunjuk dengan tangannya. Dan di sana, Dean dapat melihat ke tiga sahabatnya yang tengah terduduk bersama di tepi sungai. Di hadapan mereka ada beberapa makanan yang sudah tergelar rapi. Mereka tengah menikmatinya bagaikan piknik di siang hari.
Disana ada Taz, Marko, dan Nero yang duduk bersama membentuk sebuah lingkaran. Mereka mengobrol dengan Elvina, Wiliam dan… siapa itu? Ada seseorang yang asing dari pandangannya. Ada seorang pria berambut albino, tapi itu bukan Vicenzo. Pria itu memiliki perawakan yang berbeda dari sahabatnya. Dan… oh, ada yang hilang. Vicenzo, pria itu tidak ada bersama mereka.
"Tunggu, siapa pria itu? Dan… dimana Vicenzo?" Tanya Dean seraya menatap Rei dengan raut wajah bingung. Rei yang mendengarnya baru sadar jika pria albino mereka hilang.
__ADS_1
"Ah, tampaknya dia masih belum bisa menemukan tempat ini. Dan sepertinya aku harus membantunya," Rei bersiap pergi.
"Tunggu! Kau mau kemana?"
"Menjemput sahabatmu yang si pengendali elemen air," sahut Rei.
"Memangnya dia dimana?"
"Masih berada di alam sadarnya, seharusnya dia sudah masuk ke alam bawah sadarnya sebelum dirimu, tapi sepertinya dia tersesat. Aku harus membantunya."
"Kalau begitu biarkan aku ikut!"
"Tidak perlu, karena ini sudah menjadi tanggung jawab ku yang sudah mengundang kalian masuk dalam dunia yang aku ciptakan. Sekarang lebih baik kau hampiri mereka."
"Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Vicenzo begitu saja! Aku harus membantunya."
"Aku bisa melakukannya sendiri. Kau tenang saja!" Sahut Rei yang kemudian berjalan cepat.
Dean diam sejenak. Ia lalu beralih pandangan pada tempat dimana sahabatnya itu duduk di sana, kemudian kembali menoleh ke arah Rei. Tapi pria itu tiba-tiba saja lenyap entah kemana.
"E-eh? Dimana Rei? Bukankah dia masih di sini tadi?" Dean menolong, menatap bingung ke arah pria itu hilang.
"Aneh, padahal aku sangat yakin jika baru saja dia di sini. Tapi kenapa tiba-tiba hilang?" Dean mengerutkan keningnya bingung.
"DEAN!!!" Tiba-tiba gendang telinganya menangkap suara Nero yang berteriak menyerukan namanya. Dean yang mendengarnya lalu beralih pandangan menatapnya.
Pria berambut kecoklatan itu melambaikan tangan ke arahnya. Dean balas melambai. Ia lalu berjalan turun dari tempatnya berada saat ini, melangkah menghampiri tempat dimana ketiga sahabatnya tengah duduk bersama dengan Elvina, Wiliam dan seorang pria asing berambut albino yang tak dikenalnya.
"Akhirnya kau datang juga," ujar Taz begitu ia tiba di sana.
"Duduklah," Nero bergeser agar Dean bisa duduk.
"Kenapa kau baru datang? Apakah ada yang menghambat mu?" Tanya Marko.
Dean duduk lebih dulu sebelum menjawab setiap pertanyaan mereka. Ia duduk tepat bersebelahan dengan Nero di sebelah kiri dan William disebelah kanannya.
"Ya, ada beberapa hal yang menghambat ku," sahut Dean menanggapi pertanyaan dari Marko.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kenapa kau sendiri? Dimana Rei?" William bertanya saat menyadari jika Dean tiba sendiri disana.
"Oh, dia pergi untuk mencari Vicenzo," sahutnya.
"Ah, benar. Aku baru sadar jika Vice belum datang juga," Marko kemudian memasukkan makanannya.
"Kemana dia? Apakah perjalanannya juga terhambat?" Ucap Taz.
"Sepertinya iya."
"Ah Dean. Cobalah ini, semua makanan nya benar-benar enak," tutur Nero yang membuat Dean beralih menatapnya.
"H-huh? Oh, terima kasih," Dean meraih makanan yang disodorkan oleh Nero kepada dirinya. Fokus Dean beralih menatap kearah Elvina yang duduk bersebelahan dengan pria asing yang dilihatnya. Pria itu memiliki rambut dan warna kulit yang benar-benar sama dengan Vicenzo.
"Dean," Elvina memanggilnya. Dean menoleh padanya. Elvina tampaknya sadar jika Dean sejak tadi bertanya-tanya siapa sebenarnya pria yang duduk bersebelahan dengan itu.
"Ya?"
"Kenapa kau melihat Lou seperti itu?" Tanyanya membuat semua orang disana serentak menoleh pada Dean.
"Kau belum mengenalkan Lou padanya. Dia pasti penasaran siapa Lou!" William yang menjawab.
"Oh ya, aku lupa soal itu," Elvina tersenyum disana. "Baiklah perkenalkan, ini adalah Louis. Louis, ini adalah Dean," Elvina memperkenalkan.
"Ya, aku tahu. Dia adalah anak yang memiliki kekuatan yang tidak disadari itu kan?" Louis menjawab membuat Dean terkejut.
"H-huh? Kau tahu aku?"
"Dia memiliki kekuatan seperti Rei," ujar William disampingnya.
"Benarkah?"
"Ya."
"Oh, pantas saja dia tahu. Tapi aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Tentu saja. Karena hanya Rei yang dapat melihatnya di dunia nyata," sahut William.
__ADS_1
...***...