
...***...
"Wah lihat. Apa yang terjadi?" Kakeknya berkomentar di sana. Menatap Nero dengan raut wajah terkejut.
"Nat? Kau memaksa Nero untuk makan di sini?" Tanya si nenek pada Nata.
"Huh? Tidak nek. Nero sendiri yang ingin makan di sini bersama kita," Nata melirik pada Nero.
"Benarkah? Tapi kenapa? Bukankah biasanya kau ingin makan di kamar?" Tanya neneknya pada Nero. Ia melirik pada Nero di sana.
"Nero bilang jika dia hanya rindu pada kita," sahut Nata.
"Rindu? Haha," kakek di sana terkekeh pelan mendengarnya.
"Memangnya kau pikir kita sudah lama tidak bertemu?" Nenek berkomentar.
"Entahlah. Nero ini jadi berbicara hal aneh saat ia bangun tadi," kata Nata.
"Kita bertemu setiap hari, tapi kau merindukan kami? Itu benar-benar aneh," nenek terkekeh. Begitu pula dengan kakek di sana. Sementara itu Nero hanya diam dan menatap satu persatu orang yang ada di sana. Mulai dari menatap kakaknya, nenek dan kakeknya secara bergantian. Ia tersenyum simpul menatap mereka yang terkekeh menertawakan dirinya.
"Rasanya sudah sangat lama aku tidak melihat tawa mereka seperti ini. Aku benar-benar merindukannya," Nero membatin.
"Haha. Sudahlah! Berhenti tertawa. Ayo kita sarapan," kakek menghentikan tawanya. Ia lantas mulai fokus pada makanan yang ada di hadapannya.
"Benar. Ayo makan," sahut nenek. Mereka lantas menikmati hidangan sarapan masing-masing. Sementara Nero tampak masih ragu untuk menyentuh dan memakan makanan yang ada di hadapannya. Ia masih ragu, ia masih belum bisa membedakan antara mana yang nyata dan mana yang bukan.
Nero masih berusaha untuk mencaritahu apa yang sebenarnya ia alami.
"Nero?! Ayo makan!" Nata lagi-lagi menyadarkan dirinya.
__ADS_1
"Oh, baik," sahut Nero yang kemudian meraih sandwich nya dan mulai sibuk memakan nya.
...*...
BRUUKKK!!!
Nero menjatuhkan tubuhnya tepat di atas ranjang tidurnya di sana. Matanya menerawang menatap ke arah langit-langit kamarnya yang amat luas itu.
"Aku senang bisa melihat mereka lagi. Sekarang bahkan aku tidak peduli apakah ini nyata atau tidak. Yang terpenting saat ini adalah aku sudah berada di sini. Bersama dengan kakek dan nenekku, dan aku bisa bertemu serta berkumpul lagi dengan Nata," Nero bergumam pelan. Ia tersenyum simpul menatap lampu gantung yang berada di dalam kamarnya itu.
Hari berlalu, sudah entah berapa lama ia berada di tempat itu. Tapi yang pasti perlahan-lahan Nero mulai merasa nyaman tinggal di sana. Dan secara perlahan juga, dirinya melupakan beberapa kepingan ingatan yang terjadi mengenai kenapa tiba-tiba ia berada di sana.
Yang di ingatnya hanyalah rasa senang. Ia hanya ingat jika ia senang bisa di sana. Senang bisa bertemu dengan Nata, kakak perempuan yang paling di sayangi olehnya. Dan kakek serta neneknya yang selalu menjadi pelindung sekaligus tempat bernaung bagi mereka.
Dan selama ada di sana, perlahan Nero mulai sadar jika selama ini. Ia banyak belajar dan menyibukkan diri dengan kegiatan sekolah hanyalah untuk lari dari kesedihannya. Lari dari luka yang menggores hatinya selama bertahun-tahun lamanya. Luka yang hadir setelah kehilangan kakaknya yang sejak dulu selalu mendukungnya. Selalu menjaga dan menyemangatinya dalam banyak hal.
Tapi sekarang ia lupa akan semua itu. Ingatannya seakan lenyap begitu saja begitu ia kembali di pertemukan dengan Nata, kakek dan neneknya.
Pintu kamarnya itu terbuka, membuat fokus Nero seketika beralih ke arah pintu masuk di sana. Dan tepat di ambang pintu, Nero dapat melihat sosok Nata yang kini melangkah masuk dan berjalan menghampiri dirinya di sana.
Nata duduk tepat di samping Nero. Wanita itu duduk di tepi ranjangnya seraya menatap ke arah dirinya. Nero melirik Nata, masih dengan keadaan tubuhnya yang terbaring terlentang di atas ranjang tidurnya.
"Omong-omong apakah kau tidak bosan?" Tanya Nata pada Nero yang kini melirik ke arahnya.
"Huh? Memangnya kenapa?" Tanya Nero balik.
"Karena hari ini hari libur, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan di luar? Bukankah sudah lama kita tidak pergi ke luar?"
"Keluar?"
__ADS_1
"Iya. Kita jalan-jalan di taman dekat sini, kau selalu senang saat aku mengajakmu ke sana. Bagaimana?" Tanya Nata.
Nero terdiam sesaat. Ia tampak menimbang-nimbang sebelum memutuskan.
"Taman?" Nero membatin.
"Jika tidak salah… itu adalah tempat dimana Nat. Kecelakaan," inner nya.
"Bagaimana?" Tanya Nata sekali lagi.
"Aku tidak mau," tolaknya cepat.
"Huh? Kenapa?"
"Aku sedang malas untuk kesana. Bagaimana jika kita ke tempat lain? Aku ingin pergi ke tempat yang lebih menyenangkan."
"Kalau begitu ayo pergi ke danau di belakang rumah. Kita memancing ikan di sana!"
"Huh? Memancing?" Nero bangun dari posisinya. Ia ingat betul jika memancing adalah salah satu kegiatan yang selalu mereka lakukan saat memiliki masalah. Saat mereka sedang ingin menenangkan diri dan menjauh dari orang-orang, mereka selalu datang ke danau di belakang rumah neneknya untuk memancing ikan.
Tapi terkadang saat mereka bosan, mereka juga selalu ke sana. Danau belakang rumah neneknya itu adalah danau pribadi yang sengaja di buat untuk sarana refreshing kakek dan neneknya. Di tambah lagi, kakeknya sangat suka memancing. Dan hal itulah yang membuat kakek dan nenek mereka memutuskan untuk membuat danau buatan di belakang rumah dengan ukuran yang sangat besar dan luas. Belum lagi dalamnya juga di buat sesuai dengan kedalaman danau pada umumnya.
"Iya. Bagaimana? Kau mau?"
"Baiklah. Ayo pergi!" Nero beranjak lebih dulu di sana. Nata tersenyum menanggapi sikap adiknya itu. Adik sekaligus saudara kandung satu-satunya yang ia miliki.
Sebagai seorang kakak, Nata adalah tipikal orang yang sangat menyayangi Nero. Sikapnya tomboi, berjiwa pelindung dan sangat perhatian terhadap orang yang di sayanginya. Maka saat Nero merasa tertekan berada di rumah orang tua mereka dan sering sekali mendengar orang tua mereka bertengkar, Nata adalah orang yang selalu mengajaknya pergi dan melarikan diri ke rumah nenek mereka yang jaraknya cukup jauh dari rumah kediaman keluarga mereka.
"Kalau begitu kau bersiap lebih dulu. Aku juga akan bersiap setelah itu kita pergi," tutur Nata yang kemudian beranjak dari tempat semula ia duduk. Wanita itu melangkah keluar dari dalam kamar Nero untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia gunakan saat pergi memancing. Tidak lupa, Nata juga harus mempersiapkan alat-alat untuk mereka memancing.
__ADS_1
Nero tersenyum simpul. Matanya menatap ke sosok Nata yang kini melangkah keluar dari dalam kamarnya. Pria itu menatap lekat punggung wanita yang menjadi kakakmya. Memancing ikan dengan Nata, benar-benar membuat ia semakin senang dibuatnya.
...***...