Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 71


__ADS_3

...***...


"A-argh… aku dimana?" Elvina berusaha untuk bangkit dan Rei bergegas membantunya.


"Kau di rumah," sahut Rei padanya.


"Apa yang terjadi pada kami?" Kali ini William yang bertanya. Rei beralih pandang padanya di sana.


"Kalian pingsan karena kehabisan energi. Ingat?"


"Benarkah?" Elvina memandangi Rei.


"Iya. Dan kalian tidak sadarkan diri cukup lama."


"Begitu ya," Elvina menanggapi.


"Ya. Oh, sebentar. Biar aku ambilkan air untuk kalian, agar kalian merasa lebih baik." Rei beranjak bangun, tapi belum sempat dirinya melangkah, Vicenzo sudah lebih dulu menahannya.


"Biar aku saja yang mengambil kalian air," tuturnya membuat Rei spontan berhenti dan menoleh ke arahnya.


"A-ah, ya. Terima kasih," kata Rei.


"Bukan masalah." Vicenzo beranjak dari tempatnya. Melangkah menghampiri dapur untuk mengambilkan air untuk mereka.


"Bagaimana keadaan kalian? Apakah kalian merasa lebih baik?" Kali ini Dean yang mengajukan pertanyaan.


"Ya. Tampaknya energi yang kami miliki perlahan mulai pulih," sahut Elvina.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Terima kasih karena sudah menanyakan keadaan kami."


"Bukan masalah. Lagipula kami juga khawatir dengan kondisi kalian."


"Tapi kami baik-baik saja. Hanya perlu beristirahat dan mengumpulkan kembali energi, maka kami akan bisa beraktivitas seperti semula. Ini adalah hal biasa bagi kami, apalagi kami adalah evolver yang berbeda dari yang lain. Hal seperti ini sudah sering terjadi," jelas William yang membuat mereka beralih menatap ke arahnya.


"Sering terjadi?" Beo Taz dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


"Iya. Kami sudah terbiasa menghadapi pertarungan seperti ini, jadi tidak heran kami sering mengalami keadaan seperti saat ini."


"Oh, begitu ya," Taz menanggapi.


Tidak lama, Vicenzo tiba dengan dua gelas air minum yang di taruhnya di atas nampan yang di bawanya. Ia lantas menyodorkan nampan itu pada Rei.


"Minumlah agar kalian merasa lebih baik," ucap Rei sembari memberikan mereka masing-masing satu gelas air yang di bawakan oleh Vicenzo.


Elvina dan William meneguknya perlahan hingga isinya tersisa setengah gelas. Begitu selesai minum, Elvina dan William kemudian menaruh gelas itu di atas meja kecil dekat tempat tidurnya di sana.


"Bagaimana perasaan kalian sekarang? Apakah sudah membaik?" Tanya Rei seraya memandangi kedua sepupunya bergantian.


"Iya, aku sudah merasa lebih baik. Dan tampaknya energiku sudah mulai kembali secara perlahan. Aku sudah memiliki tenaga lagi sekarang," kata Elvina.


"Aku juga. Tampaknya aku sudah merasa lebih baik sekarang," William menimpali.


"Senang mendengarnya. Itu berarti aku bisa meminta bantuan kalian," Rei bergumam.


"Bantuan?"


"Kita harus menyelamatkan Nero."


"Nero? Memangnya apa yang terjadi dengannya?"


"Ya? Kenapa dia? Apakah dia berhasil di tangkap oleh mereka?" Tanya William.


"Bukan. Tapi ini lebih parah. Dia terjebak dalam perangkap mereka."


"Benarkah? Dimana dia sekarang?"


"Dia ada di kamarku, dia tidak sadarkan diri untuk saat ini."


"Kalau begitu biarkan aku melihatnya," Elvina beranjak bangun dari sana.


"Tapi apakah kau bisa berjalan?"


"Aku bisa. Energiku sudah benar-benar pulih. Jadi tenanglah."

__ADS_1


"Kami juga ingin melihatnya," tutur Dean mewakili ketiga sahabatnya yang sejak tadi hanya diam dan menyimak.


"Tentu saja. Kalau begitu, ayo ikut aku," Rei beranjak bangun dari sana. Berjalan memimpin di depan dengan Elvina, William, Dean serta ketiga temannya yang berjalan mengekor di belakang nya. Mereka berjalan menuju arah dimana kamar Rei berada, hendak melihat keadaan Nero yang masih belum sadarkan diri sejak mereka tiba tadi.


CEKLEK!


Pintu itu terbuka. Dan begitu mereka masuk, mereka dapat melihat Nero yang terbaring di atas ranjang tidur empuk milik Rei. Pria itu tak sadarkan diri dan dari sudut matanya, air mata kembali di lihat Rei.


"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Elvina yang kemudian duduk di tepi ranjang dan menatapnya lekat.


"Rei bilang, Nero bertemu dengan seorang evolver pengendali kabut mimpi," sahut Dean yang membuat Elvina serta William menoleh ke arahnya.


"Evolver pengendali kabut mimpi?" Beo-nya.


"Iya."


"Apa itu?" Wiliam mengerutkan keningnya. Ia baru pertama kali mendengar jika ada evolver dengan kemampuan seperti itu.


"Kabut mimpi adalah kabut yang dapat membuat seseorang tertidur dan masuk ke dalam mimpi sang pemilik kabut. Dan di dunia mimpinya, si pengendali kabut mimpi bisa berbuat apa saja pada targetnya. Begitu yang Rei jelaskan pada kami," jelas Dean.


"Apa?" Elvina yang mendengarnya lantas menoleh ke arah Dean di sana dengan raut wajah terkejut. "kau bilang jika dia bisa membuat seseorang tertidur dan masuk ke dalam mimpi sang pemilik kabut?" Ulang Elvina memastikan jika apa yang didengarnya itu benar.


"Hm," Dean menganggukkan kepalanya.


"Tidak mungkin… ini kemampuan dia kan Rei?" Elvina beralih menatap Rei disana. Rei menatapnya sendu, pria itu tampak tidak seperti sebelumnya. Entah kenapa sejak mereka tiba di dalam kamarnya, ia hanya diam dan menyimak tanpa memberikan penjelasan. Dean dapat merasakan sesuatu yang berbeda darinya.


"Itu memang kemampuan darinya. Hanya saja, dalam reinkarnasi nya. Dia adalah laki-laki, tapi dengan kemampuan yang lebih sempurna dibandingkan sebelumnya," gumam Rei.


"Jadi, dia memang reinkarnasi dari Eoduksini?" Elvina bergumam di sana. Mendengar pembenaran Rei, membuat ia teringat akan kejadian di masa lampau yang sampai saat ini masih belum dapat ia lupakan. Kejadian yang hampir membuatnya kehilangan Rei dan Lucy.


"Eoduksini?" Marko yang sejak tadi hanya diam, tampaknya mulai tertarik dengan topik yang tengah mereka bahas. "Apa itu?" Tanyanya lagi mewakili ketiga sahabatnya, menatap kearah Rei, Elvina, dan William disana.


"Eoduksini adalah roh kegelapan. Dia memakan kegelapan dan rasa takut yang ada pada manusia. Dan menjebak manusia dalam rasa takut mereka. Eoduksini menyerang musuhnya lewat alam lain, dan dengan cara yang berbeda. Dia menyerang hampir sama seperti Succubus dan Incubus. Hanya saja bedanya Eoduksini menyerang lewat titik lemah ketakutan manusia, beda halnya dengan Succubus atau Incubus yang menyerang lewat mimpi, dan hasrat manusia. Eoduksini memakan rasa takut manusia dan menjebaknya dalam dunia yang telah ia ciptakan. Tidak ada yang bisa menolongnya, atau membebaskan orang yang telah masuk ke dalam perangkapnya. Terkecuali jika orang yang terperangkap itu sadar bahwa apa yang dilihatnya itu hanya ilusi dan berusaha untuk melawannya, maka ia akan bebas. Tapi sangat sulit untuk membuat orang yang sudah terperangkap itu sadar. Apalagi dari luar." William menjelaskan. Menoleh kearah keempatnya yang masih menatap kearahnya.


"Kami baru mendengar mengenai hal ini. Dan kami tidak mengerti dengan semua ini."


...***...

__ADS_1


__ADS_2