Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 99


__ADS_3

...***...


"Bagaimana?" Tanya pria itu pada lelaki yang baru saja tiba di hadapannya. Sudah hampir tiga hari berlalu semenjak kejadiannya terakhir kali yang hampir membuatnya terseret masuk kedalam dunia mimpi yang diciptakan olehnya sendiri. Dan semenjak saat itu, ia dan timnya yang di tugaskan menangkap dua evolver yang mengetahui mengenai pergerakan mereka, kehilangan jejak target mereka yang secara misterius hilang entah kemana. Setelah menyusuri seisi sekolah tempat mereka belajar dan mencari ke berbagai tempat lainnya, mereka tak kunjung menemukan mereka berdua. Tidak, mungkin lima. Karena setelah mengetahui timnya juga menemukan tiga di antaranya bersama dengan salah satu target mereka.


"Maaf tuan, tapi kami benar-benar tidak bisa menemukan keberadaan mereka. Mereka hilang begitu saja entah kemana." Pria itu berucap.


"Apa? Kalau terus begini, yang ada tuan tidak akan percaya lagi padaku," pria itu—Azura, bergumam cemas.


"Sekarang apa yang harus kami lakukan tuan?"


"Kalian lakukan tugas kalian sebelumnya, seperti perintah yang telah di berikan oleh tuan besar. Bawa para evolver itu kemari sesuai rencana. Kita harus terus bergerak, dan selama kita bergerak kita juga harus terus mengawasi. Sekarang kau boleh kembali dan ajak tim mu untuk bergerak."


"Laksanakan tuan," pria itu beranjak dari tempatnya. Membungkuk sebagai tanda hormatnya lantas pergi meninggalkan Azura seorang diri di dalam sana.


"Aku harus terus mencarinya, jangan biarkan aku kalah dengan Joe. Walaupun setiap tugasnya gagal, tapi profesor jadi lebih mempercayainya. Bahkan profesor memberikan kekuatan baru untuknya. Aku harus bisa melebihi Joe dan membuktikan pada profesor dan tuan bahwa aku lebih pantas menjadi tangan kanan mereka," gumamnya. Azura beranjak bangun dari tempatnya saat ini duduk. Melangkah menghampiri pintu keluar kemudian membuka pintu yang kini di jaga oleh dua orang pria di sisi kiri dan kanannya.


Kedua pria itu beranjak mengikuti dirinya dari arah belakang kala menyadari pria yang menjadi tuannya itu kini melangkah pergi dari tempatnya.


Azura melangkah menghampiri sebuah ruangan yang letaknya sangat jauh dari ruang tempat semula ia berada. Di dalam ruang rahasia yang hanya di berikan pada orang-orang dengan akses khusus, ia melangkah masuk dan menemui tiga orang pria yang tengah duduk di depan layar komputer LED yang jumlahnya lebih dari sepuluh buah.


Azura menghampiri pria yang terduduk di kursi tengah, menepuk pelan pundaknya membuat pria itu menoleh padanya.


"Bantu aku. Hubungkan sinyal kita dengan setiap chip yang terpasang di titik pergerakan kita! Aku harus mengecek beberapa orang evolver atas perintah tuan besar," ujarnya tepat di telinga pria itu.


"Baik tuan, sebentar." Pria itu menjawab, fokusnya kembali beralih pada layar komputer yang ada di hadapannya. Tangannya bergerak cepat menari di atas papan keyboard yang ada di hadapannya. Gerak jemari pria itu benar-benar cepat, bak sebuah mesin yang memang di rancang khusus untuk melakukan pekerjaan seperti ini.


"Semua chip yang terpasang telah saya hubungkan. Seperti yang anda lihat sekarang, kita bisa melihat setiap pergerakan orang-orang di beberapa lokasi yang telah kita tandai."


"Aktifkan pendeteksi juga. Agar kita bisa membedakan yang mana manusia murni dan mana evolver."


"Baik tuan." Pria itu menyahut, jemarinya kembali bergerak di atas keyboardnya. Mengaktifkan mode yang di perintahkan oleh Azura.

__ADS_1


"Oh, aku memiliki satu tugas lagi untukmu," ujar Azura padanya.


"Apa itu tuan?" Tanya pria itu seraya menoleh menatap Azura. Azura memegangi kedua pundak pria itu, memutar kursinya menjadi menghadap ke arahnya.


Azura memandang lekat pria itu, menghembuskan pelan napasnya yang dalam seketika membuat pria itu terpejam. Masuk ke dalam dunia mimpi miliknya.


...*...


Vicenzo menatap Dean dengan raut wajah bingung sementara Nero menatapnya penuh curiga.


"Ada yang sedang dia sembunyikan," gumam Nero yang suaranya dapat di dengar oleh Vicenzo di sampingnya.


"Benarkah?" Vicenzo menoleh ke arahnya.


"Iya. Dia baru saja berbohong pada kita."


"Kira-kira apa yang sedang dia sembunyikan?"


"Mengikutinya?"


"Iya."


"Kau yakin?"


"Hanya itu cara untuk memastikan dia baik-baik saja," ujar Nero yang kemudian beranjak bangun dari tempat duduknya. Vicenzo ikut bangun spontan. Mereka berdua lantas beranjak menghampiri pintu keluar. Namun begitu tiba di ambang pintu, gerak-gerik mereka lebih dulu tertangkap oleh Marko dan Taz yang sejak tadi tengah asik bermain.


Taz dan Marko menoleh ke arah Vicenzo dan Nero yang kini berdiri di ambang pintu keluar.


"Kalian mau kemana?" Tanya Taz. Interupsi Vicenzo dan Nero spontan beralih pada Taz yang baru saja berucap.


"Kami ingin mengikuti Dean," sahutnya.

__ADS_1


"Memangnya ada apa dengan Dean?" Marko mengerutkan keningnya. Taz dan Marko kemudian berjalan menghampiri Vicenzo dan Nero.


"Apakah ada yang aneh dengan Dean?" Marko ikut mengintip.


"Ya. Sejak tadi gerak-geriknya mencurigakan. Di tambah lagi, dia berbohong saat kami tanya apa yang dia pikirkan." Nero menjawab.


"Benarkah?"


"Iya. Maka dari itu, kami curiga apa yang sebenarnya di sembunyikan olehnya."


"Kalau begitu ayo ikuti dia. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya," ujar Taz.


"Ayo." Vicenzo melangkah keluar secara perlahan. Berjalan mengendap-endap mengikuti Dean dari arah belakang dengan di temani oleh Taz, Marko, dan Nero di belakangnya.


...*...


BLAM!


Pintu kamarnya di tutup rapat. Gadis itu menguncinya rapat, agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam kamarnya. Padahal kalau di pikir-pikir usahanya sia-sia, karena pintu itu bisa saja di hancurkan dengan mudah oleh Sofia, mamanya.


Gadis itu—Seretha berjalan menghampiri lemari pakaiannya, membuka pintu lemari itu kemudian mengeluarkan beberapa barang yang menghalangi di bawah sana.


Ia menumpuk semuanya di sisi lain lemarinya. Setelah merasa tubuhnya cukup didalamnya, ia segera mencari lubang kecil penghubung lemarinya dengan pintu rahasia yang secara tidak sengaja ia temukan.


Seretha menoleh ke belakang, memastikan kalau benar-benar tidak ada yang mengawasi setiap pergerakannya.


Setelah merasa aman, Seretha kemudian melangkah masuk ke dalam pintu sana, menutup kembali pintu itu rapat agar tidak ada yang menyadari bahwa dirinya tengah berada di dalam sana.


Seretha merangkak menyusuri lorong kecil seukuran fentilasi udara, sampai kemudian ia menemukan pintu lain dengan ukuran yang sama. Ia membuka pintu itu yang dalam seketika menghubungkannya dengan ruang rahasia di kamarnya. Ia segera keluar, menutup pintu rahasianya itu kembali dengan sangat rapat.


Dalam ruang rahasianya itu, terdapat sofa yang entah sejak kapan ada di sana, di tambah lagi ada perapian kecil dan jendela kecil.

__ADS_1


...***...


__ADS_2