
...***...
Perlahan Dean membuka kedua manik matanya. Hal pertama yang di lihatnya adalah sebuah ruangan yang tampak asing dalam penglihatannya. Ruangan itu terbuat dari sebuah papan kayu yang tampak kokoh.
Dean mengedipkan kedua matanya beberapa kali berusaha untuk memperjelas penglihatannya, dan saat penglihatannya tampak jelas; Dean kemudian dapat melihat semuanya lebih baik. Dalam ruangan itu, Dean dapat melihat sebuah lemari kayu tinggi yang terletak di dekat jendela besar yang ada. Jendela itu berada di sebelah kiri ranjang tidurnya.
Fokus Dean menoleh ke arah luar jendela. Hari tampak cerah di luar sana, tapi ia semakin merasa asing dengan tempat itu saat ia melihat pemandangan indah di luar jendela. Di luar sana tampak seperti sebuah hutan, ada banyak pepohonan yang menghiasi pemandangan luar. Dean kembali mengalihkan perhatiannya, di sudut ruangan dekat pintu masuk terdapat sebuah rak buku yang berisi beberapa buku tebal di beberapa bagiannya, sementara sisanya di isi oleh benda-benda aneh yang tampak tua. Di dekat rak buku itu terdapat sebuah peti kayu besar yang tampak seperti sebuah peti harta karun. Dean tak tahu isinya, karena peti itu dalam keadaan terkunci rapat.
"Dimana ini?" Gumamnya pelan. Ia melangkah secara perlahan, turun dari ranjang besar yang semula menjadi pembaringannya. Ia berhenti sejenak kemudian menoleh ke arah belakang, ke arah ranjang yang semula di tempatinya. Di bagian dinding dekat kepala ranjang itu terdapat sebuah lukisan besar berisi gambar sebuah pulau dengan bangunan megah yang sangat besar, tinggi menjulang di dekat gunung di pulau itu. Di bawah bagian sudut lukisan itu, ia dapat melihat sebuah peta. Entah peta apa itu. Di samping petanya terdapat foto yang berisi sekelompok orang yang jumlahnya mungkin sekitar empat puluh sampai lima puluh orang.
Dekat foto itu, Dean bisa melihat sebuah tulisan yang menghiasi bagian bawah lukisan itu. Entah bahasa apa itu, ia tidak bisa mengerti.
Dean berbalik, setelah memandangi cukup lama kamar yang di tempatinya, atensinya kembali beralih saat ia ingat bahwa wanita yang menjadi mamanya. Raib, entah dimana.
Dean menghampiri pintu keluar, meraih kenop pintu itu dan membukanya secara perlahan.
"Mama?" Panggilnya pelan, mencari sosok wanita itu. Matanya kembali mengedar ke sekeliling, dan lagi-lagi ruangannya tampak asing. Dean tidak ingat dimana dia berada. Tapi dari yang di lihatnya, ruangan tempatnya melongok saat ini adalah ruang tengah.
Ada sebuah sofa reyot tua di sana, di depan sebuah televisi yang cukup besar yang tampak telah usang. Dalam ruangan itu di hiasi oleh foto-foto seorang pria tua berusia mungkin sekitar enam puluh sampai tujuh puluhan, entahlah. Dari berbagai foto itu, Dean bisa menyimpulkan bahwa hobi pria itu adalah berpetualang. Ada beberapa foto di antaranya yang menunjukkan pria itu sedang memancing, berburu, dan mendaki.
Fokus Dean kembali beralih pada sebuah lukisan besar yang gambarnya amat mirip dengan yang ada di dalam kamarnya.
"Mama?" Panggil Dean lagi saat hening sejak tadi menyapa dirinya.
"Kau sudah bangun Dean?" Tiba-tiba seseorang menyapanya dari arah lorong dekat kamarnya. Bukan suara wanita, melainkan suara seorang pria yang kini berjalan menghampiri dirinya. Dean mendongak menatap pria tinggi besar yang sudah amat tua, wajahnya di hiasi dengan janggut dan kumis.
__ADS_1
"Kakek?" Gumamnya seraya menatap pria di hadapannya. "Dimana mama?" Dean mengedarkan pandangannya.
"Mama sedang keluar sebentar."
"Aku ingin bertemu mama," gumamnya pelan.
"Nanti juga mama pulang. Oh ya, kau mau makan? Kau pasti lapar setelah tidur siang kan?" Pria itu mengangkat Dean dalam pelukannya, membawanya menuju arah ruangan lain yang terletak di dekat ruang tengah.
"Iya," sahutnya seraya tersenyum.
"Kau mau makan apa? Kakek punya sereal kesukaan mu, kau mau?"
"Ng. Aku mau, kakek punya susunya juga kan?"
"Haha, tentu saja. Kakek punya susunya juga. Kau mau rasa vanilla atau coklat?"
"Oke kita makan sereal dengan susu vanilla."
"Ng." Dean menganggukkan kepalanya. Tiba di ruang dapur, pria itu kemudian mendudukkan Dean di atas meja makan.
"Tunggu sebentar di sini ya," katanya. Pria itu menghampiri rak piring, meraih sebuah mangkuk berukuran sedang kemudian menaruhnya di hadapan Dean lengkap dengan sendok nya. Ia lalu berjalan menghampiri salah satu rak gantung yang ada di sana, membuka pintu rak nya dan meraih sebuah kotak sereal yang belum di buka olehnya, detik berikutnya ia menghampiri kulkas dan meraih botol vanilla yang masih terisi penuh. Setelahnya, ia menghampiri Dean lantas membuka kotak sereal tersebut dan menuangkannya ke dalam mangkuk, selesai itu kemudian di campur dengan susu vanilla yang baru saja di ambilnya dari dalam kulkas.
"Nah, sekarang makan," tuturnya. Dean hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia kemudian meraih sendok dan mulai memakannya.
TOK! TOK!
__ADS_1
Tiba-tiba suara pintu kayu yang di ketuk membuat fokus pria itu beralih. Ia berdiri kemudian berjalan menghampiri jendela di sana.
"Dean, sebentar ya, kakek ke depan dulu. Kau lanjutkan makan saja," ujarnya pada Dean.
"Baiklah."
Pria itu beranjak dari dapur menghampiri ruang tamu. Sementara Dean terus fokus pada makanan miliknya. Meneguknya hingga habis tak tersisa. Setelah selesai makan dan minum dengan susu yang sama, Dean kemudian turun dari meja makan saat di rasanya pria yang menjadi kakeknya itu tak kunjung kembali. Dean berjalan ke arah ruang tengah, niatnya hendak menuju ruang tamu tapi ia berhenti seketika saat matanya langsung menangkap sosok pria yang menjadi kakeknya.
"Kakek," panggilnya mengalihkan perhatian pria itu dari buku yang tengah di bacanya.
"Oh, kau sudah selesai makan?"
"Iya. Kakek sedang apa?" Dean menghampiri kakeknya. Pria itu duduk di sofa reyot yang tadi di lihatnya. Duduk sembari membaca salah satu buku dari beberapa tumpuk buku yang di lihatnya. Ketika membaca, ia mengenakan sebuah kacamata berbentuk persegi yang kacanya amat tebal.
"Kakek sedang membaca. Kau mau membaca salah satunya?"
"Tidak," Dean menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Membaca membuatku mengantuk. Lagipula bukunya tebal," ujar Dean yang kemudian mengambil duduk di dekat pria itu.
"Haha, kau itu persis seperti mama mu. Saat di minta untuk belajar dan membaca buku, pasti begitu alasannya." Pria itu terkekeh mendengarnya.
"Oh ya. Kakek hampir lupa. Kakek memiliki sesuatu untukmu. Sebentar ya, kakek ambilkan dulu." Pria itu beranjak bangun dari tempat duduknya. Berjalan menghampiri ruangan lain, meninggalkan Dean seorang diri yang kini terduduk di sofa sembari menatap ke arah lukisan yang berada di belakang sofa itu. Lukisan yang sama yang dilihatnya dikamar.
__ADS_1
...***...