Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 60


__ADS_3

...***...


"Aku tidak akan membiarkan kalian membawa seorang pun dari Dean dan teman-temannya!" Rei membatin. Ia mempercepat laju terbangnya. Ia harus bergegas agar tiba di sekolah tepat waktu. Ia harus bisa menyelamatkan Nero yang hendak di bawa salah satu kelompok mereka.


"Apa yang kau lihat?" Tanya William.


"Aku melihat mereka sudah benar-benar terpojok dan tidak ada jalan keluar. Jika mereka melawannya mereka akan tertangkap."


"Kalau begitu kita harus bertindak secepatnya! Cepat kita pergi ke sana dan selamatkan mereka. Hanya mereka satu-satunya jalan agar kita bisa menemukan jalan menuju tempat dimana semua ini berawal!" Ujar Elvina.


"Ya, kau benar. Terutama Dean. Kuncinya ada padanya. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menuntun kita menuju tempat dimana kita akan bisa membantu Rei, Elvina dan William dari dimensi lain."


"Benar. Dan ini satu-satunya jalan agar kita bisa membantu diri kita sendiri agar semua ini selesai!"


"Kalau begitu ayo bergegas!"


"Ayo!" William sudah hampir bergerak sebelum kemudian Rei tiba-tiba saja terdiam di tempatnya, membuat mereka spontan menatapnya bingung.


Lagi-lagi Rei melihat kilasan yang baru saja terjadi. Ia lantas membuka kedua matanya spontan dan menatap ke arah kedua sepupunya dengan raut wajah terbelalak.


"Kau kenapa?"


"Apa yang kau lihat?" Tanya William.


"Nero dalam bahaya!"


"Apa?"


"Benarkah?" Elvina terkejut mendengarnya


"Iya," sahut Rei.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Elvina resah.

__ADS_1


"Iya. Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin hanya pergi membantu Dean saja, jika Nero juga tertangkap maka akan membuat semua rencana kita gagal," tutur William.


"Biarkan aku berpikir lebih dulu," tutur Rei. Ia lantas terdiam untuk sesaat berusaha untuk mencari ide. "Oh aku tahu," Rei baru ingat.


"Apa?" William dan Elvina menatapnya penasaran.


"Aku akan menggunakan kekuatan ku membuat kloning dari diriku. Dan akan aku kirimkan kloning itu untuk membantu menyelamatkan Nero," tutur Rei.


"Ah, benar! Ide yang bagus. Dengan begitu kita bisa membantu keduanya," William tersenyum disana.


"Kalau begitu cepatlah! Waktu kita tidak banyak," tutur Elvina. Rei menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Rei mulai memusatkan energinya untuk menciptakan klon dari dirinya. Ia memejamkan matanya, dan memusatkan seluruh fokus energinya pada satu titik. Elvina dan William yang memandanginya lantas melihat tubuh Rei yang mulai terbagi, bagaikan satu cairan yang sama yang terpisah. Dan dalam sekejap mata kloning dirinya tercipta tepat bersebelahan dengannya. Dengan wajah, postur tubuh hingga pakaian yang benar-benar sama dengan Rei yang asli.


"Woah, aku sampai merinding melihatnya," gumam Elvina yang kini berdiri di hadapannya.


"L-luar biasa," gumam William seraya berdecak kagum disana. Rei di sana lantas beralih pandang pada dirinya yang lain di sana, melihat kloning nya membuat ia merasa seakan tengah bercermin. Benar-benar mirip dengan dirinya.


"Kau sudah tahu apa tugasmu kan?" Ujar Rei pada kloningnya.


"Iya," sahut kloningnya membuat Elvina semakin terbelalak.


"Kalau begitu ayo bergerak!" Ujar Rei yang di angguki oleh kloningnya. Mereka berempat lantas berpisah. Elvina, William, dan Rei yang asli pergi untuk membantu Dean dan ketiga temannya yang lain. Sementara Rei kloning pergi untuk membantu menyelamatkan Nero yang hendak di tangkap mereka.


...*...


BRUUKKK!!!


Belum sempat Nero menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah lebih dulu tersungkur jatuh ke tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Si putih berdiri seraya tersenyum, kedua tangannya terlipat rapi di depan dada. Matanya menatap Nero di bawah sana yang tidak sadarkan diri.


"Sudah aku bilang ini sangat mudah," gumamnya yang kemudian berjongkok memandangi wajah Nero lalu mengalihkan perhatiannya pada ponselnya, meminta untuk anak buahnya membawa pria itu dari sana.


Pria itu lantas mulai di sibukkan menunggu beberapa orang yang di perintahkan olehnya untuk datang dan membawa Nero yang telah berhasil ia tangkap.

__ADS_1


Tak lama beberapa orang pria yang di perintahkan olehnya lantas tiba di sana. Mereka menghampiri pria itu.


"Cepat bawa dia pergi!" Titahnya pada beberapa pria itu.


"Baik tuan," mereka mengangguk lantas bergegas mengangkat tubuh Nero yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Aku rasa kalian tidak akan pergi kemana-mana," tiba-tiba saja Rei tiba di sana membuat mereka terkejut dan spontan menghentikan langkahnya. Rei berdiri tepat di jalan menuju arah kemana mereka akan membawa Nero pergi.


"Siapa kau?" Tanya pria itu.


"Tidak penting siapa aku. Tapi yang pasti, aku tidak akan membiarkan kalian membawanya begitu saja!" Ujar Rei.


"Jangan ikut campur dengan urusanku!"


"Aku tidak akan ikut campur dengan urusanmu jika kau tidak ikut campur lebih dulu dalam urusan ku! Sekarang lepaskan dia!" Kata Rei menegaskan.


"Aku tidak akan memberikannya padamu!" Pria itu berdiri di depan anak buahnya yang mengangkat tubuh Nero. Rei menatapnya tajam.


"Lepaskan dia, kau tidak bisa membawanya!" Rei masih berusaha sabar.


"Jika kau mau. Maka hadapi aku dulu!" Pria itu menggerakkan kedua tangannya, mengibaskan ke arah yang berlawanan. Dan bersamaan dengan itu, seketika kabut muncul menghiasi tanah tempatnya berpijak hingga setinggi betisnya.


"Aroma ini…" Rei bergumam. "Evolver pengendali kabut mimpi," batin Rei.


Pria itu mengulum senyum, ia menatap Rei dengan tatapan senang. Ia yakin jika sesuatu yang menarik akan segara terjadi.


"Aku yakin jika dia sebentar lagi akan pingsan, dan begitu dia tak sadarkan diri. Akan aku serang dia lewat dunia mimpi yang akan aku ciptakan bagai neraka baginya," pria itu membatin menatap Rei.


"Tidak akan semudah itu untuk menangkapku!" Batin Rei saat dirinya bisa dengan jelas mendengar suara hati pria itu. Rei bergegas menggunakan jubah yang di kenakan olehnya untuk menutupi hidungnya.


"Aku tidak boleh menghirup aromanya. Jika aku menghirupnya, maka aku tidak akan bisa membantu Rei yang asli," batinnya. Rei mulai berusaha untuk memikirkan cara agar ia bisa dengan cepat menyelamatkan Nero dan membawanya pergi dari sana.


"Sebelum itu, aku harus membawa Nero pergi dari sini lebih dulu," Rei mulai berpikir. "Aku punya ide," gumamnya. Ia kemudian memejamkan matanya sekilas lalu kembali membuka matanya yang spontan membuat warna pupil matanya berubah. Ia lantas menatap ke arah pria yang berdiri di hadapannya, bersamaan dengan itu pria itu seketika terbakar di bagian dimana ia menatap nya. Kobaran api mulai menyala, membuat pria di hadapannya memekik ke panasan. Semakin lama kobaran api nya semakin besar hampir membakar seluruh tubuh nya. Hal itu membuat pria tersebut kelabakan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2