
...***...
Nata terkulai lemas. Wanita yang menjadi kakak perempuan Nero itu tidak bisa berenang, hal itulah yang membuat Nero harus ikut terjun masuk untuk menolong nya.
Tubuhnya mulai tampak lemas, ia memejamkan kedua matanya perlahan bersamaan dengan tubuhnya yang semakin jauh tenggelam ke dasar danau.
SPLASH!!!
Samar-samar ia dapat mendengar suara seseorang terjun dari atas sana. Matanya yang hampir terpejam itu lantas menangkap sosok Nero yang tengah berenang ke dasar danau untuk membantunya.
"Bertahanlah! Aku akan menyelamatkan mu!" Nero membatin. Ia terus menggerakkan kedua tangan dan kakinya. Mengayuh semakin dalam menuju Nata yang semakin dekat ke arah dasar.
"Sedikit lagi! Hanya sedikit lagi!" Batinnya saat tangannya hampir bisa meraih tangan Nata. Hanya sedikit lagi dan… Berhasil! Nero bisa meraihnya. Ia mencengkeram pergelangan tangan Nata. Namun begitu ia hendak menariknya menuju permukaan air, Nata tiba-tiba menarik tubuhnya masuk menuju dasar.
"Arrrkkk!!" Nero hampir tersedak saat secara tiba-tiba Nata menariknya kasar. Ia begitu terkejut. Nero menatap Nata yang tiba-tiba membuka kedua matanya. Ia melotot menatap Nero.
"Nat! Kenapa dia bertingkah aneh seperti ini?" Innernya. Nero terbelalak, tapi tak ada rasa takut pun yang di rasa dalam dirinya.
Nata mengulurkan kedua tangannya, wanita itu tiba-tiba mencekiknya keras, membuat Nero tidak dapat bernapas.
"Akh—arrrkkk!" Nero terbatuk, membuka mulutnya yang spontan membuat air menerobos masuk ke dalam mulutnya. Bersamaan dengan itu tanpa sadar ia menghirup air yang berhasil membuatnya kehilangan sebagai kesadarannya.
"A-ada apa dengan Nat? Kenapa… dia seperti ini?" Batinnya. Nero berusaha memberontak, ia berusaha untuk melepaskan cekikikan Nata dari lehernya. Nata malah mengeratkan cekikannya membuat Nero benar-benar tidak dapat bernapas.
"Nat! Ada apa denganmu! Sadarlah!" Nero mengguncang bahu wanita itu, berusaha menyadarkannya. Tapi gagal. Ia semakin kehabisan napas. Nero mulai melemas, matanya mulai tak bisa melihat keadaan dengan jelas. Begitu ia mulai terkulai jatuh ke dalam dasar, Nata melepaskan cekikannya.
Pandangan Nero samar. Ia tidak bisa melihat keberadaan Nata sekarang.
"Apa yang terjadi dengan Nat?"
"Mengapa dia melakukan ini padaku?"
"Kenapa dia tiba-tiba berubah?"
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Nero membatin, tubuhnya semakin jatuh ke dalam dasar danau.
"Aku tidak ingin mati sekarang."
"Aku ingin hidup!"
"Aku ingin tetap hidup!"
"Siapapun…"
"…Tolong aku."
"Aku benar-benar tidak bisa bernapas."
...*...
SPLASH!!!
Rei melompat masuk ke dalam air. Dengan cepat ia menggerakkan kedua tangan dan kakinya, berusaha untuk menyelamatkan Nero dan membuatnya sadar.
"Nero, kau harus bertahan! Kau tidak boleh meninggal di sini!" Rei terus mempercepat gerakannya, berusaha untuk menolong Nero yang semakin dalam jatuh ke dasar sana.
"Siapa… itu?" Nero membatin, menatap Rei dengan tatapan tak jelas. Pandangannya benar-benar mengabur.
"Astaga! Nero! Bangunlah! Ini aku!" Rei meraih kedua tangannya, ia menatap Nero dan mengguncang tubuhnya keras, berharap pria itu sadar.
"Aku tidak bisa membiarkannya. Aku harus membawanya ke atas," Rei mencengkeram pergelangan tangan Nero erat. Ia mulai menarik tangannya perlahan menuju permukaan air.
"Bertahanlah! Kau harus pulang dengan selamat. Teman-teman mu menunggu," batin Rei yang terus menggerakkan kedua tangan dan kakinya. Membawa Nero menuju permukaan.
...*...
"Ini adalah dunia mimpiku. Dan aku tidak akan kalah semudah itu!" Pikir Azura yang kemudian memfokuskan energinya untuk mencairkan es yang membekukan tubuhnya.
"Aku tidak akan membiarkan kau lepaskan begitu saja!" Ujar Louis seraya menatapnya tajam. Pria itu bisa mendengar dengan jelas suara hati Azura di sana.
__ADS_1
Azura mengalihkan perhatian pada danau, memfokuskan kemampuannya pada air di sana.
"Kita lihat, mana yang akan kau pilih. Menyelamatkan tuanmu atau melawanku," tuturnya yang spontan membuat Louis beralih menatap ke arah yang di tatap Azura.
Dari arah dimana perahu yang semula di lihatnya, Louis melihat sebuah gelembung air yang bermunculan dari dalam air. Hal itu membuatnya cemas, apalagi saat ia membaca dengan jelas isi pikiran Azura. Ia tidak tenang.
"Sekarang kau hanya harus memilih," ucapnya.
"Kau…" Louis mengepalkan tangannya, ia menatap penuh rasa kesal pada Azura di hadapannya.
Sementara itu, di bawah sana. Rei yang berusaha membantu Nero berenang menuju permukaan, tiba-tiba di hadang tanaman rambat dari dasar danau yang tiba-tiba saja bergerak mengikat kedua kalinya dan perlahan mulai menariknya menuju dasar danau.
"Sial! Dia benar-benar ingin membuat ku dan Nero terjebak selamanya dalam dunianya," Rei membatin. Ia semakin di seret masuk ke dalam dasar danau bersama dengan Nero yang sudah tidak sadarkan diri.
Tanaman rambat itu semakin menariknya hingga benar-benar ke dasar. Mengikat tubuhnya secara perlahan bersama dengan Nero. Rei mulai kehabisan napas, ia berusaha memberontak dan berusaha untuk membebaskan diri. Tapi lagi-lagi gagal.
Tubuhnya semakin di lilit erat sampai-sampai ia mulai kehabisan napas. "Gawat! Aku tidak bisa bernapas. Energiku juga mulai melemah, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk menyingkirkan semua air ini," inner Rei.
Ia menoleh ke arah Nero di sampingnya. "Nero bertahanlah. Aku akan segera membawamu keluar dari dalam sini secepatnya."
Rei semakin merasa jika napasnya mulai semakin menipis. Dan bersamaan dengan itu, perlahan kesadarannya mulai menghilang.
Di sisi yang berbeda, Louis yang mendapati Rei tak kunjung kembali ke permukaan, lantas mulai merasa cemas.
"Tentukan pilihan mu," Azura tersenyum di sana. Senyuman yang tampak menyebalkan bagi Louis.
"Jangan anggap jika urusan kita sudah selesai!" Louis bergegas melompat masuk ke dalam air. Dengan bantuan kedua tangan dan kakinya, ia bergegas bergerak menuju arah dimana Rei berada.
"Pilihan yang tepat," Azura bergumam pelan di sana. Ia berbalik saat di rasa ada seseorang yang berusaha memanggilnya dari alam sadarnya. Pria itu berbalik dan menghilang dalam langkah kedua nya.
"Tuan!" Louis berusaha berkomunikasi dengan Rei lewat telepati nya. Matanya terus mengedar mencari ke sekeliling dasar dan mencari keberadaan Rei yang menjadi tuan nya itu.
"Astaga, aku tidak bisa menemukannya di mana pun," Louis terus berusaha mencari keberadaan Rei. Pria itu tak menjawab saat dirinya berusaha berkomunikasi lewat telepati-nya. Hal itu tentu membuat Louis semakin cemas karena Rei tak kunjung dapat ia temukan di mana pun keberadaan nya.
Louis tak menyerah dan terus mencari, sampai akhirnya ia bisa menemukan Rei yang tergulung diantara tanaman rambat di sana. Tanaman itu melilitnya hingga mencapai leher. Bergegas Louis menghampirinya, hendak membantu.
__ADS_1
"Bertahanlah tuan. Aku akan menyelamatkanmu."
...***...