
***
"Aneh, tadi aku yakin sekali jika asal suara itu dari sini. Tapi kenapa tidak ada siapa-siapa ya?" Trish bergumam. Ia masih terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suara yang di dengarnya. Namun lagi-lagi dirinya tidak melihat siapapun disana.
"Pak Trish!" Tiba-tiba seorang pria mengejutkan dirinya. Ia mendongak dan mendapati pak Cato berdiri disana.
"Pak Cato," ucapnya dengan raut wajah terkejut. "Bapak mengejutkan saya saja!" Trish mengusap dadanya.
"Ahaha, maaf jika saya mengejutkan bapak," Cato terkekeh. "Oh ya, pak Trish sedang apa disini?"
"Oh, itu saya akan pergi ke ruang olahraga untuk mempersiapkan ruangannya. Rencananya saya akan mengajar anak-anak kelas XI disana."
"Ooh, begitu rupanya."
"Iya. Pak Cato sendiri kenapa disini? Bukankah ruang guru jauh dari sini ya?" Trish tampak bingung. Ia menatap Cato dengan raut wajah penasaran, namun seketika air muka pria tua itu berubah dingin dan tak bersahabat. Cato melangkah melewati Trish lalu berhenti sejenak dan menepuk pundaknya.
"Apapun yang kau dengar, berpura-pura lah tidak tahu. Karena jika tidak, kau akan menerima akibatnya. Apalagi kau sendiri tahu bukan, sangat mudah untuk menyingkirkan manusia biasa sepertimu dari dunia ini," bisiknya tepat di telinga Trish yang seketika membuat dirinya resah.
Trish melirik ke arahnya yang kini balik menatapnya dengan tatapan tajam yang amat menusuk. Aura dingin begitu lekat ia rasakan apalagi dengan tatapan Cato yang tampak menakutkan di matanya.
"Ya, kau mengerti apa maksudku kan? Kalau begitu selamat mengajar dan sampai jumpa, aku harap kau tidak terbebani dengan ucapanku haha," Cato melangkah pergi dari sana meninggalkan Trish yang kini berdiri terpaku seorang diri disana. Ia menatap punggung pria tua itu yang kini semakin jauh hingga akhirnya hilang dari pandangannya ketika sosoknya berbelok di antara jalan bercabang disana.
*
"Taz!" Suara itu membuat pria tampan yang tengah beristirahat di salah satu kursi disana menoleh ke arah sosok yang baru saja menyerukan namanya.
Diego Joannes, adalah teman satu kelas Taz. Dan mereka cukup dekat. Diego adalah pria yang amat royal terhadap Taz dan orang yang paling perhatian padanya layaknya seorang kakak yang perhatian pada adiknya. Usia mereka hanya berbeda satu tahun, tapi sekolah bersamaan. Diego berusaha lebih muda di bandingkan Taz namun Diego lebih dewasa dibandingkan dengan Taz.
Kemampuan yang di miliki oleh Diego adalah membekukan sesuatu dengan sentuhan tangannya, sedangkan satu kemampuan lainnya adalah menerawang dan memprediksi apa yang akan terjadi.
Diego disana berjalan menghampiri Taz lantas duduk di sampingnya seraya menyodorkan sebotol air mineral yang di belinya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Taz yang kemudian membuka botol itu lantas meminum isinya hingga tersisa seperempatnya.
"Kau tidak ikut latihan?" Tanya Diego seraya mengeguk minumannya. Taz menoleh ke arahnya sekilas lantas kembali fokus ke depan, menatap ke arah beberapa teman sekelasnya yang sedang berlatih basket disana.
Hujan yang tiba-tiba turun dengan deras membuat kelas mereka harus belajar di ruang olahraga.
"Tidak. Aku sedang malas. Kau sendiri kenapa tidak ikut latihan?" Taz balik bertanya padanya.
"Aku baru saja selesai. Karena hujan jadi kita tidak bisa berlatih di luar lapangan. Sayang sekali, padahal aku ingin berlatih di luar," gumamnya. Diego menaruh botol minum yang baru saja di tutupnya itu di bangku kosong di sebelahnya.
"Ya benar, sayang sekali. Pahal aku juga ingin olahraga di luar."
"Iya. Oh ya, ngomong-ngomong kau sadar tidak, jika sikap pak Trish itu sedikit aneh hari ini tidak seperti Minggu sebelumnya?" Diego beralih pandang menatap guru mereka yang tengah terduduk di seberang sana. Duduk di bangku seorang diri seraya meminum air mineral yang di genggamnya.
Taz menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar ucapan Diego barusan. Ia lalu melirik pada Diego yang duduk tepat di sampingnya itu.
"Aneh? Aneh bagaimana maksudmu?"
"Ng… kalau di ingat-ingat kau ada benarnya juga. Aku juga baru sadar."
"Benar kan? Berarti bukan hanya aku saja yang merasa seperti itu."
"Iya. Aku juga merasakan keganjilannya."
"Benar. Tapi apa yang membuatnya bersikap seperti itu ya? Aku jadi penasaran. Oh dan lihat! Dia berkeringat sangat banyak," Diego menatap lekat Trish yang kini menatap layar ponselnya.
"Jika itu tidak aneh. Dia kan baru saja mengajar, jadi tentu saja dia berkeringat. Kau juga berkeringat."
"O-oh, benar juga ya. Ah tapi tetap saja aneh kenapa dia bersikap seperti itu."
"Iya memang benar. Tapi mungkin saja dia sedang memiliki banyak pikiran yang membuat dirinya resah?"
__ADS_1
"Hm… bisa jadi juga. Tapi aku tetap curiga."
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, lebih baik kita ganti baju. Pelajaran berikutnya segera dimulai," Taz beranjak dari tempat duduknya. Melangkah melewati Diego yang masih terduduk sejenak disana. Taz melangkah hampir jauh, namun ia berhenti dan menoleh ke arahnya sejenak.
"Diego!" Serunya membuat Diego menoleh padanya.
"A-ah ya?"
"Ayo!"
"O-oke. Ayo," Diego beranjak pergi dari sana. Melangkah mengikuti Taz dari belakang. Sejurus kemudian mereka berdua melangkah pergi bersama. Keluar dari dalam ruang olahraga itu untuk mengganti pakaian mereka, karena jam pelajaran berikutnya akan segera di mulai dan mereka harus bersiap sebelum bel berikutnya berbunyi.
*
TRING!
Ponsel miliknya itu berbunyi membuat fokus Trish yang tengah duduk disana menoleh ke arah ponselnya.
"Pesan?" Gumamnya. Ia membuka pesan itu dan menatap isi pesannya. Pesan itu di kirimkan oleh pak Cato yang sempat di temui olehnya di koridor menuju ruang olahraga yang letaknya berada dekat dengan gudang.
"P-pak Cato?" Ucapnya pelan. Keringat dingin tiba-tiba saja bermunculan di keningnya, dan kini tangannya bergetar.
GLUP!
Trish menelan saliva-nya susah payah. Ia membaca setiap kata yang berjejer disana.
"Hari ini jika kau tidak sibuk, aku ingin mengajakmu berbicara sambil makan bersama di restoran sepulang sekolah. Bagaimana? Apakah kau sibuk?" Trish membacanya pelan. Amat pelan sampai-sampai hanya dirinya saja yang dapat mendengar suaranya.
"A-apa yang ingin pak Cato bicarakan denganku ya?" Trish mulai resah, apalagi ketika dirinya mendapati fakta bahwasannya Cato ingin bertemu dan berbicara empat mata dengan Trish. Firasatnya tidak enak, dan ada sedikit rasa takut untuk datang dan bertemu dengan Cato, apalagi ketika mengingat tatapan pria tua itu tadi amat menakutkan.
***
__ADS_1