
...***...
Rei berjalan menghampiri kloningnya di sana. Ia berdiri di sana, beradu pandang sesaat dengan dirinya disana.
"Bagaimana dengan Nero?" Tanya Rei dengan suara yang pelan agar tidak membuat Dean dan ketiga sahabatnya itu cemas.
"Aku sudah memindahkannya ke tempat lain, dia aman untuk saat ini," sahutnya.
"Bagus. Kalau begitu kita hanya perlu menyelesaikan ini dan membawa Dean serta teman-temannya yang lain pergi dari sini. Kita tidak bisa membiarkan mereka untuk tetap di sini. Itu terlalu berbahaya."
"Iya, kau benar," tuturnya menjawab. Fokus mereka tersita saat segerombolan pria itu bangkit dengan tergopoh-gopoh.
"Jangan kau pikir ini semua telah berakhir! Semuanya belum berakhir, dan tidak akan pernah berakhir sebelum kami berhasil menangkap kalian dan membawa kalian kembali pada profesor," pria di sana berucap sebelum melangkah pergi dari sana bersamaan dengan keempat rekannya yang lain, keempat rekannya yang sama-sama terluka.
"Jangan kau pikir juga jika kami akan menyerah begitu saja! Kami juga tidak akan membiarkan kalian menyentuh sedikit pun dari mereka," sahut Rei.
"Kita lihat saja!" Pria itu beranjak menghampiri rekan-rekannya, membantu mereka untuk bangkit kemudian pergi dari sana meninggalkan Rei yang berdiri bersama dengan kloningnya dan Elvina serta William disana.
Begitu mereka pergi, Rei lantas berbalik menghadap ke arah Dean dan ketiga temannya. Ia yang berbalik bersamaan dengan kloningnya berhasil membuat Dean serta ketiga sahabatnya itu terkejut bukan main saat mereka mendapati Rei ada dua di hadapan mereka.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Rei yang asli sembari menghampiri Dean serta ketiga sahabatnya yang saat ini tengah melongo menatapnya dengan raut wajah terkejut. Sementara itu, kloningnya berusaha membantu Elvina dan William yang masih tersungkur di sana.
Dean serta ke tiga sahabatnya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan apa yang sekarang tengah di lihatnya. Mereka benar-benar terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"R-rei… bagaimana kau…" Marko mewakili keterkejutan ketiga sahabatnya di sana.
Rei beralih pandang padanya. Ia lantas tersenyum simpul menatap satu persatu wajah sahabat Dean yang tampak sangat terkejut di sana.
"Akan aku jelaskan nanti. Sekarang ayo pergi lebih dulu dari sini," tutur Rei.
...*...
"Anda baik-baik saja tuan?" Tanya pria itu begitu api yang menyelimuti tuannya itu berhasil mereka padamkan.
Pria itu terengah-engah, ia masih berusaha untuk mengatur napasnya yang masih belum bisa ia atur.
__ADS_1
"Ya, aku baik-baik saja," tuturnya.
"Sekarang bagaimana tuan? Tuan besar dan profesor pasti akan sangat marah ketika tahu jika kita tidak berhasil membawanya."
"Kalian tenang saja. Ini belum berakhir," pria itu tersenyum simpul.
"Belum berakhir?" Beo pria yang menjadi bawahannya itu.
"Aku masih memiliki kesempatan untuk menyerangnya lewat mimpi. Aku sudah berhasil membuatnya masuk ke dalam dunia mimpiku, sekarang aku hanya perlu melawan nya di dalam sana," ujarnya. Kedua anak buahnya hanya diam menyimak.
"Sekarang ayo kita kembali," pria itu berjalan dengan susah payah di bantu oleh kedua anak buahnya. Mereka lantas berjalan menuju arah dimana mereka memarkirkan mobilnya. Mereka harus kembali.
...*...
"Siapa anak laki-laki tadi? Kenapa dia memiliki lebih dari satu kekuatan?" Cato yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan di lantai atas yang letaknya dekat dengan taman itu lantas bergumam. Sejak tadi ia terus memperhatikan, dan ia begitu di buat penasaran akan sosok yang baru saja membantu Nero lepas dari pria yang semula di sebutnya tuan itu.
"Ini aneh. Baru pertama kali aku melihat seorang evolver dengan kekuatan lebih dari satu."
"Tapi bagaimana mungkin lelaki itu memiliki kekuatan lebih dari satu? Tampaknya dia bukan evolver biasa. Bahkan dia bisa membakar tuan Azura hanya dengan tatapan matanya," gumam Cato yang kini mulai di sibukkan dengan pemikiran nya.
Cato beranjak pergi dari sana, meninggalkan ruangan yang tengah di tempati olehnya dan berjalan kembali ke ruang guru.
...*...
"Apakah mereka akan baik-baik saja?" Tanya Dean pada Rei begitu mereka tiba di tempat persembunyian Rei dan kedua sepupunya. Ia lantas melirik pada Elvina dan William yang saat ini terbaring bersebelahan di atas ranjang yang tersedia di dalam ruangan itu.
"Kau tenang saja. Mereka hanya pingsan karena kehabisan energi. Setelah mereka istirahat dan memulihkan energi mereka, mereka akan kembali sadar," jelas Rei.
"Syukurlah, aku lega mendengarnya," Marko mengusap dadanya lega.
"Oh ya, kau berhutang penjelasan pada kami," Taz mengingatkan. Rei spontan menoleh ke arahnya.
"Oh ya, aku lupa soal itu," sahut Rei seraya tersenyum simpul.
"Kalau begitu jelaskan sekarang!" Kata Vicenzo.
__ADS_1
"Kalau begitu ikut aku. Akan aku jelaskan semuanya pada kalian semua di ruang tengah." Rei berjalan keluar dari dalam ruangan itu di ikuti oleh Dean dan ketiga sahabatnya.
Tiba di ruang tengah mereka lantas duduk bersama di sofa yang tersedia di sana.
"Jadi ayo jelaskan!" Kata Taz.
"Baiklah akan aku jelaskan. Aku tahu kalian pasti sangat terkejut dengan apa yang baru saja kalian lihat tadi. Jadi aku akan menjelaskan tentang kenapa aku ada dua. Aku akan menjelaskannya lebih dulu. Karena tampaknya hal itu yang lebih membuat kalian penasaran."
"Iya benar," sahut Marko.
"Jadi sebenarnya memang benar yang kalian lihat itu adalah aku."
"Tapi kenapa kau ada dua? Kau memiliki kembaran?"
"Tidak. Dia adalah kloning ku."
"K-kloning?" Vicenzo mengulang.
"Iya. Kloning. Aku memiliki kekuatan untuk membagi diriku menjadi lebih dari satu, aku bisa membuat kloning diriku sesuai dengan keinginanku. Misalnya seribu, sepuluh ribu, bahkan jutaan," jelas Rei yang membuat mereka terkejut di buatnya.
"W-woah. Aku benar-benar tidak percaya ada kemampuan seperti itu," Marko berdecak kagum di sana.
"Apakah kau serius?" Tanya Taz memastikan.
"Aku baru pertama kali ini mendengar kekuatan seperti itu," kata Vicenzo.
"Ya. Aku juga," Dean menimpali.
"Aku serius. Dan ini memang benar-benar kemampuan lain yang aku miliki, dan aku benar-benar bisa membagi diriku menjadi lebih dari satu. Di tambah lagi, kalian mungkin baru mendengarnya karena tidak banyak orang yang memiliki kekuatan seperti ini," jelas Rei.
"Woah luar biasa," Marko tak henti-hentinya terkagum-kagum.
"Sebenarnya berapa banyak kekuatan yang kau miliki? Dan kenapa kau bisa mendapatkan banyak kekuatan?" Tanya Vicenzo yang penasaran disana.
...***...
__ADS_1