Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 14


__ADS_3

***


"Baiklah anak-anak perkenalkan, ini adalah pak Trish Sereno. Beliau adalah guru olahraga yang akan menggantikan pak Gramercy yang sedang memiliki urusan yang tidak dapat di tinggalkan. Mungkin pak Trish akan menggantikan beliau sekitar dua sampai tiga bulan, pokoknya sampai pak Gramercy selesai dengan urusannya," jelas pak Cato yang tidak lain adalah guru wali kelas mereka. Pak Cato adalah pria paruh baya dengan kacamata persegi yang selalu terpasang di wajahnya, bagian kepalanya agak sedikit botak. Orangnya baik, ramah, humoris, dan selalu memiliki kemampuan yang unik dalam mengajari para siswa-siswinya mata pelajaran yang ia ajar.


Pak Cato berdiri disana. Di depan kelasnya. Dengan seorang pria yang lebih muda dan lebih tinggi darinya, memakai pakaian olahraga. Namanya pak Trish Sereno, lelaki yang akan menjadi guru pengganti mata pelajaran mereka. Trish sendiri memiliki wajah yang tampak lugu untuk ukuran seorang guru olahraga, jika di bandingkan dengan pak Gramercy, Trish jauh di bawahnya. Trish tampak seperti orang yang tidak terlalu mudah dalam berkata, dan cenderung tampak selalu gugup. Contohnya seperti sekarang ini. Anak-anak muridnya yang tengah duduk di sana, dapat melihat keringatnya yang bercucuran di keningnya.


"S-salam kenal semuanya," katanya gugup seraya tersenyum ke arah siswa-siswinya disana.


"Salam kenal pak," sahut mereka serentak dengan suara yang ramah. Ada sedikit rasa lega ketika mendapati sambutan ramah dari para calon anak muridnya itu.


"Baiklah pak Trish, biar saya antarkan ke kelas lain," pak Cato menawarkan.


"Boleh pak jika tidak keberatan," katanya pelan.


"Kalau begitu ikut saja," pak Cato menunjukkan jalannya. Ia berhenti sejenak sebelum keluar, menoleh ke arah siswa-siswinya kemudian berkata "jangan ada yang keluar. Dan ingat! Kerjakan tugas yang telah di berikan," kata pak Cato yang kemudian melangkah keluar dengan di ikuti oleh Trish dibelakangnya. Cato hendak menunjukkan beberapa kelas lain pada Trish dan memperkenalkan nya pada siswa-siswi lainnya.


Sepeninggalan pak Cato dan pak Trish, kini seisi kelas Dean itu kembali ricuh. Orang-orang mengobrol dan tertawa sekeras mungkin.


Jam kosong adalah hal yang paling menyenangkan bagi mereka. Pasalnya mereka hanya di berikan tugas tanpa di awasi oleh guru manapun yang mengajar mata pelajaran di kelas mereka.


Ketika yang lain senang dengan jam kosong, beda halnya dengan Vicenzo yang kini tampak muram disana. Vicenzo satu-satunya orang yang benci akan kebisingan di kelasnya itu, memilih untuk mendengarkan musik lewat buds yang dibawanya, ia lantas menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Ia mulai terlelap disana dan berusaha untuk tidak menghiraukan kebisingan yang timbul di sekitarnya.


Dean dan Vicenzo berada di kelas yang sama, namun beda halnya dengan Taz, Nero dan Marko. Mereka berada di kelas yang berbeda. Marko dan Nero di kelas yang sama, jaraknya hanya terlewati tiga kelas dengan kelas Dean. Sementara kelas Taz berada bersebelahan dengan kelas Marko dan Nero.

__ADS_1


Dean duduk bersebelahan dengan Vicenzo yang duduk di meja kedua dari belakang tepat di dekat jendela disana. Dean yang duduk disana kini tengah terdiam, asik sendiri dengan lamunannya. Ia tengah memikirkan tentang mimpi yang ia alami tadi pagi, tepat sebelum ia bersiap untuk pergi ke sekolah.


Lagi-lagi mimpi aneh itu mengganggu pikirannya, mimpi aneh yang bahkan tidak dapat di ingatnya secara jelas bagaimana isi mimpinya itu.


"Apa sebenarnya mimpi itu? Dan kenapa aku bisa memimpikan hal yang sama dua kali?" Gumamnya seraya terus memikirkan dan mengingat-ingat mengenai mimpinya.


Hanya sedikit saja yang dapat di ingat olehnya, sosok wanita dan sosok pria tua yang bersama dengannya. Wajah mereka tidak dapat di kenali olehnya secara jelas, dan yang membuatnya menduga-duga mengenai wanita yang di lihatnya dalam mimpi adalah Sofia —mamanya. Tapi Dean tidak mengerti kenapa ketika dalam mimpi itu, dirinya tidak dapat mengenali Sofia yang tak lain adalah mamanya sendiri.


"Apakah mimpi ini memiliki arti? Tapi apa artinya?" Batinnya. Dean menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang tengah di duduki olehnya. Kepalanya mendongak menatap ke arah langit-langit kelasnya, menerawang jauh berusaha mencari jawaban atas mimpi yang di alami olehnya.


*


TUK!


"Kau kenapa?" Tanya Taz mewakili Vicenzo yang tampak ingin menanyakan hal yang sama. Sementara itu Dean yang sejak tadi duduk disana hanya diam terhanyut dalam lamunannya. Ia bahkan tidak menyentuh ataupun memperhatikan percakapan teman-temannya.


Nero menatap ke arah mereka lesu. Dengan malas, ia mengaduk-aduk makanan yang dibawanya.


"Aku memiliki tugas yang belum selesai, dan sialnya tengat waktunya hanya tinggal besok," gerutnya yang kini mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Ooh seperti itu rupanya. Aku kira kau kenapa," ucap Vicenzo menanggapi.


"Lalu… kau kenapa?" Taz beralih pandang pada Dean yang kini duduk di antara Vicenzo dan Nero disana. Sejak tadi pria itu terus diam dalam lamunannya.

__ADS_1


Nero yang baru saja sadar akan hal itu, menoleh ke arah lelaki disampingnya.


"Dean!" Ia menyikut Dean membuat pria itu seketika sadar dari lamunannya.


"Ah? Ya? Kenapa?" Tanyanya gelagapan.


"Kau kenapa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Nero.


"A-ah itu…" Dean menggantungkan ucapannya bingung harus bagaimana menjelaskannya. Taz, Vicenzo dan Nero terdiam disana menunggu penjelasan Dean. mereka tampak penasaran.


"T-tidak. tidak ada," finalnya yang memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang mengganggu pikirannya itu. Ketiganya kecewa ketika teman mereka yang satu itu enggan untuk menjelaskan apa masalahnya.


"Oh ayolah ceritakan pada kami apa yang mengganggu pikiranmu!" Taz berucap disana, berusaha untuk meminta temannya itu untuk bercerita.


"Tidak, lagipula bukan hal yang terlalu penting. Jadi tidak perlu aku ceritakan," kata Dean.


"Kau bohong.bagaimana mungkin tidak ada apa-apa tapi kau begitu memikirkannya. Lagipula kau lupa? Aku bisa melihat dan membedakan dengan jelas mana ucapan yang berkata jujur dan mana yang berbohong! Dari warna suaramu itu aku bisa melihat dengan jelas jika kau berbohong!" Nero berucap membuat Dean bungkam, lupa akan kemampuan yang dimiliki oleh Nero.


"A-ah itu…"


"Sudah katakan saja yang sebenarnya. siapa tahu jika kau punya masalah, kita bisa membantumu kan?" Ucap Nero lagi yang kemudian diangguki pertanda setuju oleh Vicenzo dan Taz.


***

__ADS_1


__ADS_2