Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 43


__ADS_3

***


Tiba di dalam kamar itu, Trish dapat mendengar suara gemercik air shower. Tampak jelas jika ada seseorang yang tengah mandi, tapi… di malam-malam seperti ini? Yang benar saja. Trish melangkah menghampiri satu pintu lain di sana, pintu yang tertutup namun sama seperti pintu masuk rumah nya. Pintu nya tidak tertutup rapat, sampai-sampai menyisa kan celah yang cukup besar. Trish berdiri di sana, mencoba mengintip seseorang yang tengah mengguna kan air shower itu. Ia begitu terkejut saat melihat seorang wanita yang tengah berdiri dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, berdiri di bawah air yang mengucur deras dari shower di sana. Membasahi seluruh bagian tubuh nya. Trish terpaku seketika melihat itu, ia sampai tidak bisa berkata-kata. Tiba-tiba ia merasa kan sesuatu di bawah sana yang tampak nya mulai bangun.


Sementara itu, di dalam sana Tessa tidak menyadari jika sejak tadi Trish tengah berdiri tepat di ambang pintu kamar mandi nya. Namun saat diri nya hendak mengambil shampoo untuk di gunakan oleh nya, secara tiba-tiba ia merasa jika ada seseorang yang tengah mengawasi nya. Hal itu membuat diri nya spontan menoleh ke arah pintu masuk dan terkejut bukan main saat menyadari Trish berdiri di sana.


"KYAAAAAA!!!!!" Tessa menjerit keras, shampoo di tangan nya spontan ia lempar kan tepat ke arah Trish yang tepat mengenai kepala pria itu dan…


BRUGH!!!


Pria itu tersungkur jatuh dalam keadaan tidak sadar kan diri setelah ia melempar nya keras dengan botol shampoo di tangan nya itu.


"A-astaga, sejak kapan dia di sana," Tessa bergegas mematikan air shower nya. Meraih kimono mandinya, lalu melangkah menghampiri Trish yang tersungkur di lantai diambang pintu sana. Tessa berjongkok mencoba memastikan jika Trish masih dalam keadaan hidup. Ia mengecek denyut jantungnya, dan beruntung masih berdenyut dalam keadaan normal.


"Huft~ untung saja dia hanya pingsan," Tessa menghela napas lega.

__ADS_1


"Tapi tunggu, apakah jangan-jangan dia…" wajah Tessa berubah merah ketika menyadari apa yang telah di lihat oleh pria itu. Oh apakah dia terlihat begitu jelas tadi? Jika benar, Tessa harus menghajarnya habis-habisan karena berani-beraninya pria itu menatapnya yang tengah tanpa busana, bahkan pria itu menatapnya nyaris tidak berkedip. Tessa mengangkat tangannya, memukul-mukul tubuh Trish yang kini tidak sadarkan diri. Ia lalu berdiri dan menendang-nendangnya, belum cukup sampai disana; Tessa lantas menarik keras tangan Trish. Menyeretnya bagaikan mayat menuju arah ruang tamu. Beberapa kali kepalanya berbenturan dengan beberapa benda keras didalam rumahnya. Setelah Tessa menyeretnya sampai tiba di ruang tamu, dengan kesal ia lalu menaikkan tubuh Trish ke atas sofa tua disana dengan sangat kasar.


"Dasar menyebalkan! Tubuhmu benar-benar berat, tapi setidaknya rasa kesalku berkurang sedikit setelah menyeretmu sampai kemari," Tessa bergumam. Dirinya berusaha untuk mengatur napasnya yang kini tersengal akibat lelah membawa Trish, menyeret tubuh besarnya hingga tiba diruang tamu. "Argghhh!!! Tapi aku masih belum benar-benar puas!!!" Tessa geram sendiri, kedua tangannya bergerak menjambak rambut pria itu dengan sekuat tenaga. Ia masih tidak terima karena pria itu sudah diam-diam mengintip dirinya.


Setelah puas meluapkan semua emosinya, Tessa lalu beranjak dari sana. Hendak menyelesaikan mandinya yang sempat terpotong. Tapi kali ini ia memastikan lebih dulu jika kamarnya terkunci, agar ia berjaga-jaga kalau-kalau Trish terbangun, ia tidak akan bisa mengintipnya secara diam-diam lagi.


*


Trish membuka kedua matanya secara perlahan, pandangannya semula mengabur tapi setelah beberapa kali ia mengerjapkan mata nya, pandangannya lantas kembali seperti semula. Trish dapat melihat semuanya dengan sangat jelas. Rasa sakit ia rasakan pada beberapa bagian tubuhnya, khususnya pada bagian kepala dan tangan bagian atasnya. Hal itu disebabkan karena Tessa yang telah menyeretnya dengan kasar dan menjambak rambutnya sekeras mungkin sampai-sampai rasa sakitnya masih bisa ia rasakan sampai saat ini. Hal pertama yang dilihat oleh Trish ketika ia terbangun dan duduk dari posisi semula adalah seorang wanita cantik yang kini tengah duduk diseberang sofa dihadapannya. Wanita itu mengenakan kaos putih yang menampakkan sedikit bagian belahan dadanya, kaos putihnya berbalutkan jaket hitam. Kaki jenjangnya memakai celana jeans panjang yang berpadu dengan sepatu boot heels berwarna cokelat yang terikat kencang. Rambut panjangnya terikat satu ke belakang. Dan wanita itu—Tessa, saat ini duduk dengan keadaan bersandar pada sandaran sofa. Kedua tangannya terlipat rapi di depan dadanya dan bertumpang kaki. Menatap Trish dengan tatapan tajam.


"K-kau siapa?" Hanya kalimat itu yang dapat terlontar pertama kali dari mulutnya. Tessa menghentikan aktivitas nya, menatap Trish yang kini menatapnya.


"Itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah. Kapan kau masuk ke dalam rumahku! Dan apa tujuanmu melakukan…" Tessa menggantungkan ucapannya, ia menutupi wajahnya dengan satu tangan. Wajahnya memerah, ia masih malu jika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


"…Ah sudahlah tidak perlu bahas yang satu itu, intinya kenapa kau menyusup masuk ke dalam rumahku?!" Tessa menatapnya tajam.

__ADS_1


"Oh, itu, aku menjatuhkan barang milikku di rumahmu, maka dari itu aku kembali untuk mencarinya tapi tanpa sengaja aku melihat… tunggu," Trish ingat sekarang. Mengingat kejadian itu membuatnya lagi-lagi bangun. Tessa yang mendengar itu lalu memalingkan wajahnya.


"Oh sial! Kenapa dia harus mengingat kejadian itu!" Batinnya. Ia benar-benar tidak kuat jika harus mengingat dan membahas kejadian tadi.


"Ma-maaf aku tidak senga—"


"Ah! Sudah-sudah! Jangan bahas mengenai hal itu, yang aku pertanyakan disini adalah kenapa kau bisa masuk?! Jangan mengalihkan pembicaraan!" Ketusnya penuh penekanan di akhir kalimatnya.


"Ah, aku bisa masuk karena pintu depannya terbuka sedikit. Maka dari itu aku pikir ada orang dirumah. Tapi tunggu, apakah kau adalah wanita yang tinggal di rumah ini? Apakah itu artinya, kau adalah wanita yang aku cari?" Wajah Trish berubah senang. Tessa yang melihatnya merasa sedikit heran.


"Apakah dia tidak mengenali aku? Bukankah sudah jelas-jelas jika kita bertemu tadi sore? Tapi kenapa dia tampak tidak mengenaliku?" Pikirnya.


"Akhirnya kau mau memberikan kesempatan aku untuk bicara, setelah apa yang aku alami. Akhirnya aku bisa bertemu langsung denganmu."


***

__ADS_1


__ADS_2