Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 2 - Flying bed


__ADS_3

Aku tidak tahu mengapa mimpi itu terus saja menghantuiku. Apa sebenarnya mimpi itu? Mengapa aku akhir-akhir ini selalu memimpikan hal yang sama? pikir Dean.


Tok… tok… tok!


Ketukan di pintu terdengar, namun fokusnya terus tertuju pada mimpi yang baru saja ia alami dan berbagai pertanyaan yang terus menghampirinya.


"Dean, apakah kau sudah bangun? Jangan bilang kalau kau masih tidur, cepat bangun ini sudah hampir waktunya!" teriak wanita di balik pintu dengan suara melengking.


Namun suaranya, ia hiraukan. Dean malah diam dengan kening berkerut, ia berusaha mencari faktor penyebab dari mimpi buruknya yang terus menghantui diri.


Brakk!


Tak lama, atensinya beralih pada pintu yang mendadak hancur berkeping-keping. Serpihannya berterbangan kemudian jatuh ke lantai. Dirinya terperanjat kaget begitu melihat siapa pelakunya.


Dean melotot, menatap Sofia yang kini tengah berdiri dengan raut wajah kesal, amarah tampak jelas memuncak di mimik wajahnya.


"M… mama…" lirih Dean dengan wajah pucat.

__ADS_1



Wanita itu melangkah masuk dengan langkah besar ke dalam kamarnya. Dengan cepat menghampiri Dean, menarik keras telinga menjunjungnya ke udara, membuat Dean berteriak kesakitan seraya meminta ampun.


"Cepat bangun atau mama buat telingamu putus!" murkanya.


Suara nyaring itu terdengar amat menggema di dalam kamar berukuran besar namun penuh dengan barang-barang miliknya yang berserakan itu. Kamarnya amat mirip bagai kapal pecah, tampak tak terurus sama sekali padahal ada orang yang tinggal di dalamnya.


"A… aw aww! Sa… sakit, ma. Lepaskan telingaku, ma," ucapnya, memohon untuk di lepaskan.


"Makanya kalau kau memiliki telinga itu dipakai. Jangan hanya di jadikan objek hiasan! Cepat bangun lalu bersiap. Papa dan adikmu sudah sejak tadi menunggumu dibawah untuk sarapan bersama. Kenapa kau ini pemalas sekali?" Sofia melepaskannya.


Flying bed adalah ranjang tidur tanpa kaki yang melayang di udara setinggi sepuluh centimeter dari permukaan lantai. Selain melayang, dan di gunakan sebagai tempat tidur, benda itu disertai dengan pengatur suhu otomatis yang membuat si pemakainya bisa merasa nyaman saat sedang tidur.


Pengatur suhunya sendiri bisa secara otomatis mengatur sendiri, menyesuaikan dengan suhu di sekitarnya. Ketika dingin tiba, maka benda itu akan berubah menjadi hangat, begitu juga sebaliknya.


Flying bed juga memiliki sistem pemijat yang dapat merilekskan tubuh ketika si pemakainya merasa kelelahan sehabis melakukan aktivitas dan lain sebagainya. Selain itu, kasurnya tak pernah mengempis dan akan senantiasa terasa seperti baru.

__ADS_1


Dean menghampiri kamar mandinya hendak bersiap untuk pergi ke asrama tempat yang akan menjadi persinggahannya hingga lulus SMA.


Sofia menggelengkan kepala. Ia menepuk tangannya dua kali, dan dalam sekejap tirai terbuka dengan sistem sirkulasi udara yang secara otomatis langsung bekerja.


Jendela-jendela terbuka, dan udara pengap yang semula menyelimuti ruangan itu, berganti menjadi udara segar dari luar.


"Andrew!" teriak Sofia dengan suara kencang. Tak lama sebuah robot android bergerak menghampiri dirinya.


"Ya, nyonya?"


"Bersihkan serpihan pintu tadi, lalu pasang pintu baru."


"Baik."


Robot itu mengubah layar digital pada wajahnya hingga menampakkan sebuah simbol penyedot debu, tak lama selang muncul dari tangannya, dan ia mulai sibuk membersihkan serpihan kayu di lantai.


Sementara itu, Sofia mulai sibuk membereskan seisi kamar putranya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2