Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 22


__ADS_3

***


TUK!


Dean menaruh nampan di tangan nya itu ke atas meja, membuat ketiga teman nya yang lain mendongak menatap ke arah nya. Raut wajah ketiga nya berubah bingung, ketika menyadari mimik wajah Dean terasa aneh bagi mereka. Tidak biasa nya, lelaki itu menampak kan wajah seperti itu.


Dean mendaratkan bokong nya tepat di kursi kosong di sana. Bersebelahan dengan Nero yang kini masih menatap ke arah nya dengan raut wajah bingung. Dean duduk, mata nya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Vicenzo, Nero, dan Taz yang menatap nya merasa bingung.


"Dia kenapa?" Tanya Taz pada Vicenzo yang mana merupakan teman satu kelas nya. Vicenzo menoleh ke arah nya.


"Aku tidak tahu, sejak tadi pagi. Dia terus bersikap seperti itu. Mungkin kau tahu Nero?" Vicenzo beralih pandang pada Nero yang duduk tepat di hadapan nya, serentak bersama dengan Taz yang juga ikut menatap ke arah lelaki bermata hijau yang indah itu. Nero yang mendengar nya, kemudian menoleh ke arah mereka.


"Huh? Aku?" Nero menunjuk diri nya sendiri.


"Iya," sahut Taz mengangguk.


"Apakah kau tahu dia kenapa? Dia kan satu kamar dengan mu," Vicenzo menimpali.


"Tidak. Aku tidak tahu. Soal nya tadi pagi sejak bangun dan sebelum kita berangkat dia baik-baik saja, tidak aneh seperti ini," jelas nya.


"Benarkah?"


"Iya. Memang nya sejak kapan dia seperti ini?" Nero balik bertanya.

__ADS_1


"Coba aku ingat-ingat… kalau tidak salah, saat pagi tadi sejak kita sarapan bersama sikap nya sudah seperti ini," ucap Vicenzo mengingat-ingat.


"Sarapan?" Beo Taz dan Nero.


"Iya. Saat sarapan. Jadi tadi pagi aku dan Dean sarapan bersama, karena yang aku tahu kalian sudah berangkat lebih dulu ke sekolah begitu pula dengan Marko. Maka dari itu, aku sarapan dengan nya. Dan sejak kita sarapan, sikap nya sudah aneh seperti ini. Begitu pula dengan saat pelajaran berlangsung. Beberapa kali Dean bahkan sempat di tegur oleh guru karena tidak memperhatikan ketika tengah menerangkan," jelas Vicenzo.


"Berarti bisa di simpulkan jika Dean bersikap aneh seperti ini setelah pergi dari asrama dan berpisah dengan Nero," Taz menyimpulkan.


"Benar," sahut Nero dan Vicenzo bersamaan. Mereka bertiga kemudian kembali melirik pada Dean yang terduduk di sana. Entah mengapa sejak tadi Dean bahkan seakan-akan tidak bisa mendengar kan perbincangan mereka mengenai diri nya.


"Dean?!" Nero berusaha menyadarkan lelaki itu, karena rasa khawatir mulai ia rasakan. Takut nya itu bukan Dean yang sesungguh nya. Namun tidak ada jawaban. Remaja laki-laki yang duduk tepat di samping nya itu bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah nya, membuat Nero dan yang lain nya semakin khawatir. "Dean!" Nero kembali memanggil nya, namun masih tidak di jawab oleh lelaki itu. Remaja laki-laki yang menjadi teman nya, itu bahkan sibuk dengan lamunan nya. Sejak tadi ia terus diam, dan kegiatan yang di lakukan oleh nya hanyalah berkedip.


"DEAN!" Taz mengguncang tubuh nya, membuat Dean spontan tersadar dari lamunan nya dan menatap ke arah ketiga sahabat nya dengan raut wajah bingung.


"A-ah ya? Kenapa?" Tanya nya gelagapan.


"K-kenapa…? Maksudnya?" Dean tampak bingung dan tidak mengerti dengan apa yang di tanya kan oleh Vicenzo pada diri nya.


"Kau sejak tadi melamun!" Nero memberitahu.


"H-huh? Melamun? Benarkah?" Dean mengerut kan kening nya. Ia bahkan baru sadar jika sejak tadi ia melamun.


"Iya kau melamun. Tidak seperti biasa nya. Apakah ada yang mengganggu pikiran mu?" Tanya Nero yang dapat melihat warna suara Dean yang berubah tidak seperti biasa nya.

__ADS_1


"A-ah itu…"


"Teman-teman!" Marko berteriak membuat Dean yang hendak menjelaskan berhenti berbicara dan spontan menoleh ke arah Marko bersamaan dengan Taz, Nero dan Vicenzo. Marko di sana berjalan dengan amat tergesa, menghampiri meja mereka dengan nampan berisi makanan milik nya di tangan nya. Raut wajah lelaki itu tampak sangat bersemangat. Marko kemudian berjalan menghampiri mereka, lalu menaruh nampan berisi makanan nya di atas meja. Ke empat sahabat nya itu menatap ke arah nya dengan raut wajah bingung, mereka penasaran dengan apa yang sebenar nya tengah terjadi dengan salah satu sahabat mereka itu.


"Kau kenapa sangat tergesa-gesa?" Tanya Taz dengan raut wajah bingung.


"Aku membawa berita untuk kalian!"


"Berita apa?" Tanya Nero yang tidak kalah penasaran dengan ke tiga sahabat nya yang lain. Marko kemudian mengeluar kan ponsel yang tersimpan dari dalam kantong celana nya, meraih nya kemudian mulai berkutat dengan ponsel nya untuk sesaat, sebelum kemudian Marko mengaktifkan mode hologram pada ponsel nya yang seketika menampak kan sebuah artikel yang baru saja di upload beberapa jam yang lalu.


"Lihat ini! Korban nya bertambah!" Ucap Marko seraya menunjuk ke arah angka yang menunjuk kan berapa jumlah orang yang menghilang.


"Jumlahnya terus bertambah?" Nero memperhatikan angka di sana.


"Benar, sebelum nya bahkan tidak mencapai jumlah saat ini."


"Hm… aku jadi penasaran sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan dunia ini, mengapa mereka tiba-tiba menghilang seperti ini? Benar-benar aneh bukan?" Taz melirik ke arah ke empat sahabat nya yang tengah duduk menatap ke arah layar hologram di hadapan mereka.


"Benar, ini sangat-sangat aneh," Vicenzo menimpali. Sementara yang lain sibuk berdiskusi mengenai apa yang tengah terjadi, beda hal nya dengan Dean. Lelaki itu bahkan saat ini mulai kembali di sibuk kan dengan lamunan nya. Namun kali ini, fokus mata nya menatap ke arah layar hologram yang tampak di hadapan nya. Melihat apa yang ada di hadapan nya, membuat Dean teringat mengenai apa yang sempat ia temukan tadi pagi, ketika diri nya hendak pergi untuk menemui seseorang.


"Menurut kalian siapa orang yang berada di balik semua ini? Siapa orang yang menjadi otak atas tragedi yang terjadi ini?" Marko menatap satu persatu sahabat nya yang kini mulai sibuk menerka-nerka.


"Aku tidak tahu," Nero menyahut.

__ADS_1


"Kalau menurut mu siapa Dean?" Tanya Marko yang kini beralih pandang pada lelaki yang sejak tadi hanya diam menyimak tanpa berkomentar apapun itu. Marko bahkan baru sadar jika Dean sejak tadi hanya diam tak berkomentar apa-apa mengenai berita yang di bawa nya. Marko terdiam sesaat menunggu jawaban, namun Dean tak menjawab bahkan menoleh saja tidak membuat ia bingung. "Dean?" Panggil Marko sekali lagi berusaha menyadarkannya.


***


__ADS_2