
...***...
"Pelan-pelan," Dean bergumam saat Vicenzo berusaha untuk turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Mereka keluar lewat balkon yang terdapat di kamarnya. Keadaan yang sepi membuat mereka cukup leluasa untuk pergi keluar secara diam-diam tanpa disadari oleh pengawas yang berjaga di pintu depan asrama.
Asrama putra letaknya berdekatan dengan gerbang samping yang mana di gerbang itu tidak terlalu ketat pengawasannya. Karena gerbang itu bukan jalan alternatif yang sering di lewati atau digunakan oleh siswa-siswi yang bersekolah disana.
"Tidak perlu melompat. Pegangan padaku!" Marko berujar, pria itu sudah siapa untuk membawa satu persatu sahabatnya itu turun dari lantai dua.
"Ah, ya. Aku lupa jika kau bisa terbang," ujar Dean yang baru ingat.
"Aku akan mengantarkan kalian satu persatu menuju gerbang luar, kalian tunggu disana sampai aku selesai."
"Baiklah," ujar Dean dengan suara pelan agar tidak terlalu berisik. Marko lantas membawa satu persatu sahabatnya itu untuk keluar dari asrama dan membawa mereka menuju gerbang luar di samping asrama. Setelah selesai dengan tugasnya, mereka lantas bergegas pergi dari sana dengan berjalan kaki. Pakaian casual melekat ditubuh mereka, membuat penyamaran mereka tidak terlalu mencolok dan bisa dikatakan berhasil.
"Kita akan makan dimana?" Tanya Vicenzo begitu mereka tiba di statio untuk menunggu bus yang hendak membawa mereka menuju restoran yang akan menjadi tempat mereka makan siang bersama.
"Aku dengar ada salah satu restoran tidak jauh dari sini yang menyajikan makanan enak. Bagaimana jika kita ke sana?" Tanya Marko yang kini fokus pada layar ponselnya. Tengah membaca salah satu artikel ulasan mengenai salah satu restoran yang jaraknya tidak jauh dari asrama mereka berada.
"Kedengarannya bagus," Taz menyahut.
"Tapi apakah kita tidak akan bertemu dengan siapa-siapa yang kita kenal di restoran itu? Kau harus ingat jika jaraknya dekat dengan asrama. Jadi bisa saja ada salah satu orang yang kita kenal, tiba-tiba datang dan bertemu dengan kita. Bisa gawat jika itu sampai terjadi," tutur Dean.
"Benar. Aku sepemikiran dengan Dean," Vicenzo menimpali. Marko dan Taz terdiam membenarkan ucapan Dean.
"Kau ada benarnya juga. Ng… lalu bagaimana dengan yang satu ini?" Marko mengubah mode hologram dalam ponselnya itu, membuat ketiga sahabatnya bisa melihat dengan jelas artikel yang tengah di bacanya.
"Ku dengar mereka juga menyediakan makanan yang enak di restoran ini. Di tambah lagi restorannya baru saja buka beberapa bulan lalu, tampaknya nyaman untuk kita makan siang bersama. Letaknya juga tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat juga. Di tambah ini adalah satu-satunya lokasi yang jarang sekali di lewati oleh guru-guru pengajar yang mengajar di sekolah kita. Jadi bisa di pastikan jika kita akan aman," jelas Marko panjang lebar.
"Kalau yang ini aku setuju," komentar Taz.
"Ya. Bolehlah," sahut Dean.
"Baiklah kita pergi ke sana," tutur Marko.
"Iya."
Mereka kini disibukkan dengan menunggu bus datang untuk mengantarkan mereka menuju restoran yang di tuju. Mereka akan menghabiskan waktu makan siangnya disana.
...*...
__ADS_1
"Bagaimana menurut kalian?" Tanya Marko meminta respon dari ketiga sahabatnya.
"Enak," sahut Vicenzo.
"Ya, benar. Ini enak," Taz menimpali.
"Tidak salah kau mencari restoran," tutur Dean.
"Benar tidak salah aku mencari restoran," Marko kembali menyuapkan makanan di sendoknya ke dalam mulut.
Saat ini mereka sudah berada di dalam restoran tempat yang di pilih oleh Marko. Duduk bersama di salah satu meja yang jaraknya cukup jauh dari pintu masuk dan beberapa pelanggan lain yang tengah berkunjung di sana. Mereka sengaja memilih meja yang berada di sudut ruangan karena tidak ingin terlihat mencolok.
DRRTTTT... DRRTTTT...
Ponsel Dean bergetar didalam kantong celana panjang yang di kenakan olehnya. Ia segera mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi panjang itu keluar dari dalam kantong celananya kemudian memandangi layar ponselnya untuk sejenak.
"Siapa?" Tanya Marko di hadapannya seraya melirik sekilas padanya kemudian kembali fokus pada makanannya.
"Nero," sahut Dean.
"Kalau begitu angkat saja," ujar Taz.
"Baiklah," Dean segera menekan satu tombol disana yang secara otomatis menghubungkan nya dengan Nero di seberang sana.
"Apakah kau sedang bersama dengan Marko dan yang lain? Ada yang ingin aku katakan pada kalian," kata Nero.
"Oh, sebentar." Dean menekan mode hologram pada ponselnya yang secara otomatis langsung menampakkan Nero. Ia kemudian menaruh ponselnya di tengah-tengah meja. Agar ketiga sahabatnya yang lain bisa melihat dan mendengarkan dengan jelas.
"Syukurlah kalian masih bersama. Oh, kalian sedang menikmati makan siang?"
"Iya. Kau juga sedang makan siang?" Marko menjawab.
"Ya, aku juga. Ah, ada yang ingin aku bicarakan pada kalian semua."
"Apa itu?" Tanya Taz yang kemudian melahap kembali makanannya.
"Ini soal pak Trish."
"Ada apa dengannya?"
__ADS_1
"Dia tidak masuk hari ini."
"Huh? Benarkah?"
"Iya. Dan tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Menurut kalian apa yang terjadi?"
"Entahlah. Apakah mungkin dia tidak pulang semalaman?" Taz terdiam.
"Tapi jika dia tidak pulang semalaman lalu kemana dia pergi? Tidak mungkin dia tiba-tiba pergi dan tak kembali. Bukan?" Dean angkat suara.
"Ya. Aku setuju," Vicenzo menimpali.
"Teman-teman, sepertinya kita harus mulai lebih berhati-hati," ucap Marko tiba-tiba membuat ke empat sahabatnya itu menoleh padanya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Nero di seberang sana lewat sambungan video nya.
"Korbannya semakin bertambah banyak, dan bahkan lebih banyak dibandingkan kemarin saat pak Trish masih ada. Kalian ingat bukan perkataan Rei kemarin. Jika kita juga adalah bagian dari orang yang diincar mereka," Marko mengingatkan.
"Ah ya, kau benar," sahut Dean.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Taz menatap satu persatu sahabatnya.
"Kita harus lebih berhati-hati dan jangan sampai kita lengah. Kita jangan sampai tertangkap."
"Ya."
"Baiklah. Oh, teman-teman sepertinya aku harus pergi sekarang," kata Nero di seberang.
"Ah, baiklah kalau begitu sampai jumpa di asrama," sahut Marko.
"Ya sampai jumpa."
"Ingat! Jangan lengah dan tetap berhati-hati," pesan Taz.
"Iya. Kalian juga, dan jangan lupa untuk pulang sebelum waktu pulang sekolah," Nero mengingatkan.
"Iya. Lagipula kami tidak akan lama disini," kata Vicenzo.
"Kalau begitu sampai jumpa."
__ADS_1
"Ya. Sampai jumpa," sahut mereka. Nero lantas mengakhiri panggilannya. Dean lalu meraih kembali ponselnya dan memasukkan nya ke dalam kantong celananya. Selanjutnya mereka kembali di sibukkan berkutat dengan makanan yang sudah tersaji tepat di hadapan mereka.
...***...