
***
"Itu mereka! Kejar!!!" Pekik pria itu mengintruksi kan pada anak buah nya untuk mengejar Nero dan Vicenzo yang kini berlari dengan sekuat tenaga menjauh dari mereka. Beberapa pria itu lantas bergerak dan berlari mengikuti perintah ketua mereka.
Sementara itu, Nero dan Vicenzo di depan berusaha untuk menghindari mereka. Kedua nya berlari bersebelahan, sebisa mungkin mereka berusaha untuk melolos kan diri.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Nero resah, kaki nya terus berlari sementara kepala nya menoleh menatap Vicenzo di samping nya.
"Aku akan berusaha menghubungi Dean dan yang lain," ucap Vicenzo yang kemudian berusaha menghubungi Dean lewat walkie talkie yang berada dalam genggaman tangan nya. "Dean! Masuk!" Vicenzo terus berusaha menghubung kan, sementara itu sinyal yang semula ia dapat tampak nya mulai terganggu dengan entah apa. Namun yang pasti, mereka jadi kesulitan untuk menghubungi Dean serta kedua sahabat mereka yang lain nya.
"Tidak bisa aku hubungi!" Ucap Vicenzo seraya menatap Nero.
"Bagaimana sekarang?" Nero semakin was-was.
"Terus saja berlari," sahut Vicenzo yang terus berlari dengan sekuat tenaga mereka, sementara orang-orang di belakang nya mulai semakin dekat.
Nero dan Vicenzo tanpa sadar berlari memasuki gang-gang sempit lain nya. Gang-gang yang sempit nan kumuh dan berliku bak sebuah labirin, membuat mereka terperangkap di antara dinding kumuh yang penuh dengan bak-bak sampah besar di sisi kiri dan kanan nya.
"Berhenti kalian!" Salah satu pria di belakang berucap. Nero menoleh ke arah nya, dan jarak nya sudah benar-benar dekat. Kaki nya terus bergerak, sampai tanpa sadar ia tersandung sebuah batu besar yang spontan membuat nya tersungkur jatuh ke depan.
BRUKKKK!!!
Nero jatuh dengan posisi tengkurap, celana panjang yang ia kenakan sampai sobek di area lutut nya. Dan kulit mulus berbalut kan celana panjang yang semula ia kenakan itu, kini mulai recet dan mengeluar kan cairan merah beraroma amis yang amat khas.
__ADS_1
"Akh—" ia meringis, hidung nya hampir saja bergesekan dengan tanah bersemen, namun beruntung Nero bisa menahan nya dengan kedua tangan nya. Sementara itu, Vicenzo yang melihat Nero jatuh bergegas berhenti, ia berbalik untuk membantu nya bangun. Orang-orang di belakang semakin dekat ke arah mereka, dan Nero cukup kesulitan untuk bangkit dari jatuh nya.
Vicenzo berusaha menangani mereka, tangan nya terangkat; bergerak membentuk gesture mendorong yang spontan membuat air keluar dari telapak tangan nya dan mendorong keras ke arah para pria yang semula mengejar mereka. Beberapa di antara nya berhasil ia tangani, pria-pria itu terpental jauh hingga ke belakang.
"Ayo cepat bangun!" Ucap Vicenzo seraya membantu nya berdiri. Nero berusaha berdiri. Bersamaan dengan itu, walkie talkie nya dapat terhubung dengan Dean di seberang sana.
"Vice? Ada apa?" Dean bertanya di seberang sana ketika sejak tadi menyadari walkie talkie-nya berbunyi namun tidak dapat terhubung dengan Vicenzo dan Nero.
"Dean?" Vicenzo bergegas meraih walkie talkie-nya, bergegas ia berusaha menjelas kan semua nya pada Dean. "Dean! Aku dan Nero di kejar oleh beberapa orang pria yang selama ini menangkap para evolver!" Tutur nya spontan. Namun perkataan nya tampak nya tidak di mengerti oleh Dean, Taz dan Marko di seberang sana.
"Apa maksud mu?" Itu Taz yang berbicara.
"Tidak ada waktu untuk menjelas kan semua nya sekarang! Tapi yang pasti kami sedang di kejar oleh mereka dan kami berusaha untuk lari saat ini," ucap Vicenzo.
"Aku tidak tahu, kami berlari tak tentu arah," tutur Vicenzo.
"Ayo lari," Nero menarik tangan Vicenzo untuk menjauh dari sana. Vicenzo kemudian berlari beriringan dengan Nero di samping nya. Beberapa orang yang semula jatuh di belakang sana, kemudian bangkit dan berlari mengejar mereka dengan tergopoh-gopoh. Jas hitam yang semula tampak rapi, kini berubah basah akibat Vicenzo.
Semakin jauh mereka berlari, sinyal yang semula di dapat oleh Vicenzo kini hilang bersamaan dengan tersesat nya mereka di antara gang-gang kumuh di sana.
Langkah kedua nya seketika terhenti ketika energi yang mereka miliki benar-benar terkuras habis, kedua nya tersungkur jatuh akibat kaki mereka yang sudah tidak kuat lagi menopang beban tubuh nya.
BRUKKKK!!!
__ADS_1
Kali ini bukan hanya Nero yang terjatuh, tapi Vicenzo juga. Walkie talkie yang semula di genggaman oleh nya, sampai terhempas jatuh cukup jauh dari tempat Vicenzo terjatuh.
"B-bagaimana ini? A-aku sudah be-benar-benar tidak kuat be-berlari lagi," ujar Nero dengan napas terengah-engah, ia berusaha mengatur napas nya namun gagal.
Fokus mereka tersita saat secara tiba-tiba mereka mendengar suara langkah pria-pria di belakang sana sudah benar-benar dekat dengan mereka. Pria itu kemudian berhenti tepat beberapa meter dari mereka tersungkur.
"Akhirnya kalian berhenti juga," ujar salah satu pria yang berusaha mengatur napas nya.
"Sudah cukup kalian ikut campur dalam urusan kami. Sekarang kalian juga harus ikut dengan kami," salah satu pria itu menaik kan sebelah tangan nya, menodong kan jam di tangan nya ke arah Vicenzo dan Nero.
Nero dan Vicenzo terbelalak ketika melihat apa yang mereka lihat. Sekarang, hanya satu kali tekan saja pada jam di tangan pria itu, maka mereka akan berakhir sama dengan gadis yang tadi mereka lihat. Pria itu menarik sudut bibir nya membentuk smirk.
"Terima kasih sudah mempermudah pekerjaan kami," tutur nya. Jari nya bergerak hendak menekan tombol berbentuk bulat dengan ukuran kecil itu. Di sisi lain, Vicenzo dan Nero di buat was-was di depan sana.
Nero tidak ingin berakhir seperti gadis yang di lihat nya tadi. Bergegas ia mencari ide agar bisa meloloskan diri. Mata nya mengedar mencari sesuatu yang dapat ia gunakan sebagai senjata, sampai kemudian ia melihat beberapa pipa besi yang tergelatak di sisi kiri dan kanan nya.
"Aku punya ide," Nero membatin. Ia lantas segera bergerak, merentangkan kedua tangan nya, dalam keadaan tersungkur seperti semula. Mata nya menatap ke arah pria dihadapannya, memastikan jika pria itu tidak sadar akan pergerakan nya.
Jemarinya mulai bergerak, membentuk gesture yang dalam seketika membuat pipa-pipa besi itu meleleh menjadi besi cair. Nero tersenyum, ia menunggu sesaat sebelum ia menyerang.
"Tembak!" Satu pria mengintruksi kan pada pria itu, dan bersamaan dengan itu jemarinya bergerak memencet tombol dijamnya; membuat peluru itu melesat keluar dari dalam sana dan…
***
__ADS_1