
...***...
Nero membuka kedua matanya spontan saat ingatan demi ingatan itu tiba-tiba hadir kembali dalam memorinya.
Rei membuka kedua matanya perlahan dan menatap Nero di sana. Ia menjauhkan wajahnya dari Nero, dan menatapnya lekat.
"R-rei…" gumam Nero seraya menatap Rei di hadapan nya. Rei merekahkan senyumannya kala mendengar Nero menyebut namanya.
"Syukurlah kau mengingat semuanya," tutur Rei.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?"
"Ceritanya panjang. Yang terpenting sekarang adalah, kita harus pulang. Teman-teman mu sudah menunggu."
"A-ah, tapi bagaimana caranya kita bisa pulang?"
"Itu mudah. Sekarang, ayo bangun." Rei beranjak bangun, mengulurkan tangannya ke arah Nero kemudian membantunya berdiri.
Fokus Nero tersita seketika saat kedua manik matanya menangkap sosok Louis yang kini berdiri di samping Rei.
"Tunggu… Rei, ini siapa?" Tanya Nero seraya menoleh ke arah Louis di samping Rei.
"Oh, ini Louis."
"L-louis?"
"Ng." Rei menganggukkan kepalanya. "Dia adalah orang yang telah membantuku untuk bisa masuk ke dalam dunia ini dan membantu menyelamatkan mu," sambungnya.
"Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu, terima kasih karena sudah membantuku," Nero tersenyum ke arah Louis di sana.
"Bukan masalah," sahut Louis.
"Baiklah. Ayo pergi dari sini," kata Rei yang kemudian di angguki oleh Louis dan Nero.
Rei, Nero, dan Louis berjalan menuju arah dimana rumah nenek nya Nero berada. Mereka melangkah menyusuri taman belakang rumah nya.
"Tapi Rei, bagaimana cara nya agar aku bisa keluar dari sini?" Tanya Nero dengan raut wajah penasaran menatap ke arah Rei. Ia spontan menghentikan langkah kakinya.
"Sudah aku bilang itu hal yang mudah. Kau hanya perlu melawan apa yang menjadi ketakutanmu."
"Yang menjadi ketakutanku?" Beo Nero mengerutkan keningnya, berusaha untuk mencerna setiap kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Rei.
"Iya. Dia tahu apa ketakutan terbesarmu, maka dari itu dia membuatmu mengalami semua ini. Dia ingin membuatmu terjebak dalam dunia yang telah di ciptakan olehnya."
"Dia?" Nero mengulang dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Iya. Orang yang telah membuatmu terjebak dalam dunia ini. Si pengendali kabut mimpi."
"Pengendali kabut mimpi? Apa itu?'
"Itu adalah kekuatan evol yang mampu membuat seseorang terjebak dalam dunia yang di ciptakan olehnya. Dunia itu di buat berdasarkan ketakutan orang yang mengalaminya."
"Ooh… ya. Aku mengerti," Nero menganggukkan kepalanya. "Tapi bagaimana aku bisa melawan ketakutan ini?"
"Ketakutan mu adalah kehilangan Nata, kakak perempuan mu. Maka dari itu, kau harus bisa melawannya. Dalam beberapa menit lagi, semua ini akan kembali normal. Kau akan kembali ke rumah nenekmu dan bertemu dengannya. Dan saat itulah, kau harus melawan rasa takutmu untuk kehilangannya. Rasa takut di tinggalkan olehnya. Kau mengerti?"
"Rasa takut di tinggalkan olehnya?" Ulang Nero dengan suara pelan. "Ooh ya. Aku mengerti."
"Bagus. Aku tahu kau adalah orang yang cepat tanggap dan mudah memahami apa maksud dari perkataan ku."
"Tapi… bagaimana kau bisa tahu tentang kakakku, Nat?"
"Aku bisa mengetahuinya karena aku memiliki satu kekuatan evol spesial yang membuatku mampu mengetahui apa yang semula tidak aku ketahui. Maka dari itu, aku bisa mengetahui semua hal tentang kalian."
"Oh… begitu rupanya. Pantas saja kau bisa tahu segala hal tentang aku, Dean dan yang lainnya."
"Begitulah," Rei menanggapi.
...*...
"Bagaimana?" Tanya William pada Elvina.
"Napasnya sudah kembali normal," tutur Elvina.
"Benarkah? Syukurlah," Dean tersenyum simpul mendengarnya. Kini dirinya dan yang lain bisa merasa lebih lega.
"Tapi kenapa mereka masih belum kembali? Ini sudah cukup lama sejak Rei pergi," ujar Taz.
"Tampaknya, Rei masih berusaha membuat Nero untuk menyadari jika dunia yang tengah di jalaninya itu adalah ilusi. Dan Rei mungkin sekarang sedang berusaha menyadarkan Nero untuk pulang," gumam Elvina seraya menatap wajah tampan Rei yang masih terpejam di sana.
"Aku harap mereka cepat sadar," gumam Marko.
"Ya. Aku harap juga begitu," sahut William.
...*...
"Nero?" Panggilnya.
Untuk sesaat Nero terdiam, berusaha memperjelas suara yang di dengarnya samar-samar.
"Suara ini… suara Nat?" Nero membatin, masih dalam keadaan kedua matanya yang terpejam.
"Nero! Sadarlah!"
Sekali lagi Nero dapat mendengar suara Nata yang memanggilnya. Perlahan kedua tangan wanita itu bergerak mengguncang tubuhnya.
__ADS_1
"Nero!" Panggilnya lagi.
"Tunggu… bukankah tadi aku bersama dengan Rei? Lalu kenapa aku tiba-tiba bersama dengan Nat?"
"Apakah mungkin… keadaan nya sudah seperti semula? Seperti apa yang di ucapkan oleh Rei?"
"Jika benar… maka ini saatnya untuk aku bebas," Nero membatin.
Sementara itu di rasanya, Nata yang mulai bergerak memompa dadanya dengan kedua tangannya.
"Uhuk-uhuk," Nero terbatuk, mengeluarkan sebagian air yang di telannya.
"Ah, syukurlah kau sadar," gumam Nata seraya tersenyum.
Nero membuka kedua matanya perlahan, dan hal yang pertama kali di lihatnya adalah Nata yang kini menatapnya seraya tersenyum.
"Nat…" lirih Nero.
"Bangunlah," Nata membantu Nero untuk duduk di sana.
"Tunggu… ini tidak seperti yang di perkirakan oleh Rei. Dia bilang jika aku akan ada di rumah nenek, tapi… aku masih di danau?" Innernya.
"Syukurlah kau sudah sadar. Aku benar-benar merasa cemas karena kau teggelam bersamaku," ujar Nata.
"Tenggelam? Ooh… aku mengerti. Dia mengulangnya ketika aku tenggelam, agar aku beranggapan jika apa yang aku alami saat bertemu dengan Rei adalah mimpi. Kali ini aku tidak akan terkecoh lagi dengan trikmu," batin Nero.
"Nero! Kau kenapa? Kenapa kau melamun? Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Nata yang masih menatapnya. Nero menatapnya tajam.
"Kau bukan Nat!" Gumam Nero.
"Huh?"
"Kau bukan Nata!" Nero menekankan.
"A-apa maksudmu? Ini aku aku, Nata. Kakakmu! Kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Kau bukan Nata Zoilos yang asli! Kau hanya ilusi!"
"H-huh? Apa maksudmu? Kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Kali ini aku tidak akan tertipu lagi dengan trikmu!" Nero beranjak bangun dari sana, berjalan cepat meninggalkan Nata yang kini mulai berdiri menatap ke arahnya.
"Tapi siapa peduli?" Teriaknya yang berhasil membuat langkah Nero terhenti.
Nata berdiri di sana, menatap ke arah Nero yang berdiri membelakangi dirinya.
"Asalkan aku ada di sampingmu, menemanimu, menjagamu, dan selalu bersamamu. Tak peduli aku asli atau palsu dan tak peduli kita hidup di dunia nyata atau tidak, bukankah itu sudah lebih dari cukup? Bukankah yang kau inginkan sejak dulu adalah aku selalu ada menemanimu? Bukankah ini yang kau mau? Selalu bersama denganku?" Ujar Nata dibelakang sana.
...***...
__ADS_1