
...***...
"Astaga lihat, kau membawa semua buku-buku tebal ini sendirian?" Pria itu berjongkok untuk memungutnya.
"Eh, iya," sahutnya seraya berjongkok untuk membereskan buku-buku yang harus di bawanya ke gudang.
"Biar aku bantu merapikannya," ucap pria itu.
"Terima kasih," tutur Nero. Pria itu mulai sibuk membantu Nero untuk membereskan semua buku-buku di tanah kemudian menumpuknya menjadi satu. "Tampaknya kau lelah, sampai kau tadi menabrakku."
"Ah tidak. Aku baik-baik saja."
"Lebih baik kau beristirahat lebih dulu. Duduklah di sini, aku akan membantumu untuk membawa buku-bukunya," pria itu berjalan menghampiri bangku disana kemudian menaruh buku-buku yang di bawanya disana.
"Tidak perlu, aku harus bergegas."
"Tenang saja, aku akan membantumu agar semua buku-bukunya selesai kau bereskan. Lebih baik sekarang kau duduk dan beristirahat dulu, dan kebetulan aku memiliki minuman. Kau mau?" Pria itu menyodorkan satu botol minum yang dibawanya.
"Ambillah," ujarnya lagi. Nero lantas meraih minuman di tangan pria itu kemudian duduk tepat di sebelahnya.
"Kau harus banyak minum agar kau bisa lebih bertenaga," kata pria itu yang kemudian membuka botol miliknya lalu meneguknya. Nero ikut membuka botol yang berada dalam genggamannya lantas menatapnya sejenak sebelum meminumnya. Botol dalam genggamannya itu tampak asing dalam pandangannya. Ia sama sekali belum pernah melihat minuman seperti itu sebelumnya.
"Kau kenapa?" Tanya pria itu yang membuat Nero beralih pandang padanya.
"Oh tidak. Aku hanya merasa tidak pernah melihat minuman seperti ini."
"Tentu saja, karena minuman ini adalah minuman yang aku buat dan aku produksi."
"Oh, begitu rupanya."
"Cobalah, lagipula ini enak dan bisa menaikkan stamina mu."
"Baiklah biar aku coba," jawab Nero yang kemudian meminum isi botol itu. Pria di sampingnya menatap lekat pada Nero, sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk smirk.
Saat bibir Nero bersentuhan dengan bibir botol itu, Nero dapat mencium dengan jelas sebuah aroma unik yang keluar dari minuman itu.
"Bagaimana? Enak?" Tanya pria itu seraya memandangi Nero.
"Iya. Rasanya en…"
BRUUKKK!!!
Belum sempat Nero menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah lebih dulu tersungkur jatuh ke tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Si putih berdiri seraya tersenyum, kedua tangannya terlipat rapi di depan dada. Matanya menatap Nero di bawah sana yang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sudah aku bilang ini sangat mudah," gumamnya yang kemudian berjongkok memandangi wajah Nero lalu mengalihkan perhatiannya pada ponselnya, meminta untuk anak buahnya membawa pria itu dari sana.
...*...
"Rei! Rei! Rei!" Tiba-tiba suara itu membuat Rei berhenti di tempatnya membuat Elvina dan William ikut berhenti dan berdiri tepat di sampingnya.
"Ada apa Rei?" Tanya Elvina menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Dean. Sepertinya mereka sudah bertemu dengan orang-orang itu," tuturnya.
"Benarkah? Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ujar William.
"Benar. Kita tidak bisa tinggal diam begitu saja! Kita harus membantu mereka Rei!" Elvina menimpali.
"Aku tahu."
"Astaga dimana kau Rei! Kami membutuhkan bantuanmu!" Sekali lagi, Rei dapat mendengar jika Dean di sana berusaha untuk meminta bantuan pada dirinya dan kedua sepupunya.
"Kita harus segera—"
SRAKKKK…
Dean menghentikan langkahnya spontan saat mereka tiba di ujung jalan buntu. Mendapati Dean yang berhenti secara tiba-tiba, spontan membuat teman-temannya yang lain juga berhenti.
"Sial! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ujar Taz.
"Kita tidak bisa kemana-mana lagi," Vicenzo menimpali.
DRAP! DRAP!
Beberapa pria itu berhenti tepat di belakang mereka. Dean dan ketiga sahabatnya lantas berbalik.
Ucapan Rei seketika terhenti saat secara tiba-tiba kemampuannya menangkap sebuah kilasan dimana Dean terperangkap di jalan buntu.
"Kau baik-baik saja?" Elvina memastikan, di guncangnya sedikit pundak pria yang menjadi sepupunya itu, berusaha untuk membuatnya sadar.
Rei seketika membuka matanya dan menatap ke arah kedua sepupunya disana.
"Ya, aku baik-baik saja," tuturnya kemudian.
"Apa yang kau lihat?" Tanya William.
"Aku melihat mereka sudah benar-benar terpojok dan tidak ada jalan keluar. Jika mereka melawannya mereka akan tertangkap."
"Kalau begitu kita harus bertindak secepatnya! Cepat kita pergi ke sana dan selamatkan mereka. Hanya mereka satu-satunya jalan agar kita bisa menemukan jalan menuju tempat dimana semua ini berawal!" Ujar Elvina.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Terutama Dean. Kuncinya ada padanya. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menuntun kita menuju tempat dimana kita akan bisa membantu Rei, Elvina dan William dari dimensi lain."
"Benar. Dan ini satu-satunya jalan agar kita bisa membantu diri kita sendiri agar semua ini selesai!"
"Kalau begitu ayo bergegas!"
"Ayo!" William sudah hampir bergerak sebelum kemudian Rei tiba-tiba saja terdiam di tempatnya, membuat mereka spontan menatapnya bingung.
"Kau harus banyak minum agar kau bisa lebih bertenaga," kata pria itu yang kemudian membuka botol miliknya lalu meneguknya. Nero ikut membuka botol yang berada dalam genggamannya lantas menatapnya sejenak sebelum meminumnya. Botol dalam genggamannya itu tampak asing dalam pandangannya. Ia sama sekali belum pernah melihat botol minuman itu sebelumnya.
"Kau kenapa?" Tanya pria itu yang membuat Nero beralih pandang padanya.
"Oh tidak. Aku hanya merasa tidak pernah melihat minuman seperti ini."
"Tentu saja, karena minuman ini adalah minuman yang aku buat dan aku produksi."
"Oh, begitu rupanya."
"Cobalah, lagipula ini enak dan bisa menaikkan stamina mu."
"Baiklah biar aku coba," jawab Nero yang kemudian meminum isi botol itu. Pria di sampingnya menatap lekat pada Nero, sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk smirk.
Saat bibir Nero bersentuhan dengan bibir botol itu, Nero dapat mencium dengan jelas sebuah aroma unik yang keluar dari minuman itu.
"Bagaimana? Enak?" Tanya pria itu seraya memandangi Nero.
"Iya. Rasanya en…"
BRUUKKK!!!
Belum sempat Nero menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah lebih dulu tersungkur jatuh ke tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Si putih berdiri seraya tersenyum, kedua tangannya terlipat rapi di depan dada. Matanya menatap Nero di bawah saya yang tidak sadarkan diri.
"Sudah aku bilang ini sangat mudah," gumamnya yang kemudian berjongkok memandangi wajah Nero kemudian mengalihkan perhatiannya pada ponselnya, meminta untuk anak buahnya membawa pria itu dari sana.
Lagi-lagi Rei melihat kilasan yang baru saja terjadi. Ia lantas membuka kedua matanya spontan dan menatap ke arah kedua sepupunya dengan raut wajah terbelalak.
"Kau kenapa?"
"Apa yang kau lihat?" Tanya William.
"Nero dalam bahaya!"
...***...
__ADS_1