Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 89


__ADS_3

...***...


"Mungkin saja dia kelelahan," sahut Nero seraya menoleh sekilas padanya lantas beralih pandang menatap satu buku kemudian meraihnya. Membuka dan membaca buku itu sekilas.


"Tampaknya ini menarik," gumam Nero kemudian saat membaca isi buku itu secara perlahan. Nero tertarik dengan buku yang baru saja di bawa olehnya.


"Ya, mungkin kau benar dia kelelahan," gumam Vicenzo yang kemudian kembali fokus pada buku yang tengah di genggamnya.


"MAMA!!!" Dean tiba-tiba saja berteriak, suaranya menginterupsi seisi ruang perpustakaan membuat Vicenzo dan Nero tersentak dan spontan menoleh ke arah dirinya di sana.


"Dean?!" Nero bergegas menghampiri pria itu, begitu pula dengan Vicenzo yang spontan bangun dan berusaha untuk membangunkan nya.


"Dean? Sadarlah!" Ucap Vicenzo seraya mengguncang tubuhnya.


"Argh!!!" Dean membuka kedua matanya spontan. Napasnya terengah-engah, jantungnya berdegup kencang, dan bersamaan dengan itu keringat dingin mengucur deras menghiasi keningnya.


"Hahh… hahh… hahh…" Dean berusaha untuk mengatur napasnya. Sedangkan disampingnya, Vicenzo dan Nero masih diam menatap ke arahnya.


"Kau bermimpi lagi?" Tanya Nero memastikan. Dean beralih menatap padanya kemudian mengangguk sebagai jawaban.


"Aneh, mengapa kau terus bermimpi? Apakah kau akan terus memimpikan hal yang sama selama kau memejamkan mata? Kalau hal ini terus terjadi, akan membuatmu tersiksa," gumam Vicenzo.


"Kau benar, itu akan membuat Dean merasa tersiksa," sahut Nero.


Sementara keduanya tengah berdialog, beda halnya dengan Dean yang kini terdiam tanpa bersuara di tempatnya.


"Kau akan aman berada disini!" Ucap wanita itu seraya memeluknya. Wanita itu lantas beranjak bangun, menatap ke arah pria tua yang kini memegang tangan anak kecil berusia sekitar tiga tahun itu.


"Apakah kau yakin akan melakukannya seorang diri? Bukankah ini terlalu gegabah? Jika kau sampai tertangkap juga, masalahnya akan bertambah rumit. Setidaknya bawalah salah satu anak buahku, dengan begitu kau akan aman," pria tua itu berkata seraya menatap lekat wanita dihadapannya itu.


"Aku tidak bisa pa. Ini terlalu berbahaya untuk papa nantinya. Biarkan aku pergi sendiri, dengan begitu akan lebih aman. Walaupun jika aku tertangkap nanti, setidaknya aku bisa kembali bersama dengan Dam."


"Tapi apakah kau tidak merasa kasihan pada Dean? Dia masih sangat kecil, dan dia membutuhkan sosok kedua orangtuanya untuk menemaninya hingga dewasa nanti. Dia akan sangat sedih jika menyadari jika kau sebagai orangtuanya tidak ada disisinya ketika ia berusia sekecil ini."

__ADS_1


"Bukannya aku tidak kasihan padanya, dan bukan berarti aku juga tidak menyayangi nya. Tapi bagaimana pun, aku tidak ingin membuat Dean berada dalam bahaya. Jika dia terus bersama denganku, yang ada mereka akan berusaha untuk merebut Dean dariku karena mereka tahu jika Dean memiliki DNA istimewa dariku dan Dam. Maka dari itu aku tidak ingin membuatnya terancam bahaya. Lagipula dengan Dean bersama dengan papa, aku yakin dia akan aman karena tempat ini sudah di rancang agar tidak terdeteksi oleh alat apapun. Jadi aku mohon jaga Dean dengan baik pa," katanya penuh harap.


"Baiklah kalau begitu, papa akan berusaha," ucapnya kemudian.


"Kalau begitu aku pergi," wanita itu berbalik lantas melangkah pergi. Dean yang melihat wanita itu pergi seketika menangis dan berusaha mengejarnya tapi tidak bisa.


"MAMA!!" Dean berteriak seraya terus berusaha mengejarnya namun gagal. Pria yang kini bersamanya menahannya untuk tetap di sana.


Kedua mata Dean membulat sempurna saat ia dapat mengingat isi dari mimpi yang selama ini menjadi tanda tanya dalam benaknya.


"Aku ingat," gumam Dean pelan tapi dapat di dengar dengan sangat jelas oleh Vicenzo dan Nero yang tengah berdiri di sana. Atensi mereka seketika tersita ketika dirinya berbicara seperti itu.


"Huh? Apa maksudmu?" Tanya Vicenzo mengerutkan keningnya bingung.


"Apa maksud dari perkataan mu itu?" Tanya Nero yang sama penasaran nya dengan Vicenzo.


Dean masih terdiam, ia masih berusaha menangkap ingatannya yang terasa samar-samar. Sebuah ingatan yang selama ini hilang dan mulai kembali bagaikan sebuah kepingan puzzle yang selama ini di carinya.


"Aku… ingat isi mimpinya," sambung Dean. Ada jeda sejenak pada kalimatnya.


Mendengar ucapan dari Dean spontan membuat Nero dan Vicenzo terkejut.


"A-apa?" Nero terbata.


"Benarkah kau mengingat semuanya?" Vicenzo mencoba memastikan.


"Iya… aku dapat mengingat semuanya," Dean memperjelas. Menatap kedua manik mata Vicenzo untuk menyakinkan.


"Lalu, apa isi mimpinya?" Tanya Nero yang kini mengubah air mukanya menjadi serius.


"Itu…"


...*...

__ADS_1


"Mereka mengubah rute perjalanan mereka, mungkin karena mereka tahu kalau selama ini kita mengawasi pergerakan mereka," ujar Rei seraya menatap Elvina dan William di sisi kiri dan kanannya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang Rei?" Tanya Elvina.


"Iya, jika sudah begini jadinya. Apa yang akan kita lakukan? Bukankah dengan mereka mengubah rute perjalanan mereka sama artinya dengan kita tidak bisa mengawasi pergerakan mereka kan?" William menimpali.


"Kalau mengandalkan kemampuan meramalku saja tidak akan mampu mengawasi mereka apalagi aku hanya bertemu dengan mereka beberapa kali. Itu tidak akan cukup untuk mengawasi mereka sekarang," Rei bergumam. Ia berusaha untuk memikirkan cara lain agar bisa mendapatkan solusi dari permasalahan mereka.


"Jadi apa? Apakah kau memiliki rencana lain?"


"Hanya ada satu cara." Rei menatap kedua sepupunya bergantian.


"Apa itu?" William menatapnya dengan penuh tanya.


"Kita harus membantu Dean mendapatkan ingatannya kembali, kemudian memberikan petunjuk untuknya bisa menyadari kekuatan yang ia miliki," jelas Rei.


"Maksudmu, dengan begitu kita bisa mengetahui rute pergerakan mereka?"


"Tidak. Hanya saja, kalau Dean mendapatkan ingatannya kembali… kita akan bisa langsung menemukan dimana letak pulau itu berada."


"Benarkah?" Elvina menatapnya dengan raut wajah yang tampak senang.


"Bagus. Dengan begitu, kita bisa langsung memotong jalan dan segera menemukan dimana letak pulau itu berada," William merekahkan senyumannya.


"Hanya saja, masalahnya. Ingatan itu adalah sesuatu yang sulit untuk bisa kembali apalagi kalau ingatan itu memiliki sebuah kenangan menyakitkan yang dapat mengganggu kehidupan si pemilik tubuhnya. Mustahil untuk mengembalikan ingatan Dean secepatnya. Apalagi kita tidak memiliki barang atau sesuatu yang dapat membuat Dean mengingat kembali mengenai ingatannya," kata Rei yang seketika menghapus senyum cerah di kedua wajah sepupunya itu.


"Kalau begitu, bagaimana?" Tanya Elvina.


"Kita tidak mungkin diam saja kan?" William menimpali.


"Aku tahu, kita tidak mungkin diam saja. Karena diriku di masa lalu tengah menungguku untuk datang dan membantunya. Tapi kita tidak bisa datang ke sana tanpa tahu arah kemana kita harus melangkah," ujar Rei seraya menundukkan kepalanya, ia tengah dilanda bingung.


...***...

__ADS_1


__ADS_2