
***
Hening. Itulah yang di rasakan Dean saat ini. Begitu hening, sampai-sampai ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang menjadi topik pembicaraan nya dengan Rei, Elvina, William, serta ke-empat sahabat nya saat di ruangan tadi.
"Kau tahu jika kami juga adalah sasaran dari mereka?" Dean bertanya.
"Iya. Dan kau juga adalah salah satu orang yang di incar mereka Dean."
"Huh?" Dean terkejut, begitu pula dengan ke empat sahabat nya. Sontak ia menoleh ke arah Dean yang duduk di sana. "Aku juga?" Tanya Dean memasti kan jika apa yang di dengar nya itu benar.
"Ya, kau juga."
"Tapi kenapa? Aku bahkan hanya manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan evol, lalu bagaimana mungkin aku menjadi incaran mereka?"
"Karena kau sudah mengetahui pergerakan mereka, dan mereka tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Dan lagi… ada sesuatu yang selama ini tidak kau sadari."
"Apa maksudmu dengan yang tidak di sadari oleh nya?" William yang hanya menyimak mulai penasaran.
"Tentang kekuatan yang dia miliki."
"Apa?" Dean terbelalak. "Aku memiliki kekuatan?" Tanya Dean.
"Benarkah itu?" Marko sama penasaran nya dengan yang lain.
"Benar. Kau juga memiliki kekuatan, Dean. Hanya saja kau belum menyadari akan kekuatan yang kau miliki."
__ADS_1
"Lalu, jika memang aku memiliki kekuatan, kekuatan apa yang aku miliki sebenarnya? Dan mengapa kekuatan itu tidak muncul dan tidak aku ketahui sampai saat ini?" Dean mengerut kan kening nya.
"Kekuatan itu sudah ada sejak awal, hanya saja kau tidak menyadari nya. Dan seiring berjalan nya waktu, kau akan mulai menyadari kekuatan yang kau miliki. Kekuatan yang selama ini kau anggap tidak ada, justru tanpa sadar ada dalam diri mu," jelas Rei. Dean lantas terdiam berusaha untuk mencerna setiap informasi yang ia dapatkan dari Rei.
Ingatan mengenai perbincangan mereka terus berputar di otak nya. Semakin lama semakin membuat nya penasaran dengan kekuatan apa yang sebenar nya ia miliki, dan mengenai alasan kenapa diri nya sejak awal tidak menyadari jika ia memiliki kekuatan tersebut.
"Jika aku memang memiliki kekuatan, lalu apa kekuatan yang aku miliki?" Dean membatin, perkataan Rei benar-benar membuat nya kesulitan untuk tertidur malam ini.
Saat ini diri nya berada di dalam sebuah kamar yang di sedia kan Rei agar diri nya bisa tidur bersama dengan ke empat sahabat nya. Dean saat ini terbaring di atas ranjang tidur yang ada di sana. Mata nya menatap ke arah langit-langit kamar nya yang tampak gelap karena lampu nya mereka mati kan sebelum tidur.
Dean terbaring dengan Nero di sebelah kiri nya dan Vicenzo di sebelah kanan nya, sementara itu Taz dan Marko terbaring di dekat Vicenzo di sana.
Saat yang lain nya terpejam, hanya diri nya seorang yang tidak bisa tidur di sana. Di samping nya Nero bahkan sudah terlelap, tampak jelas jika pria itu sudah melanglang buana di alam mimpi nya. Sementara itu, Vicenzo, oh pria itu saat ini tidur membelakangi diri nya. Entah mengapa namun sejak tadi Vicenzo tidur sangat gelisah. Beberapa kali pria itu mengubah posisi tidur nya. Padahal seingat Dean, Vicenzo bukanlah orang yang tertidur berantakan seperti itu. Pria itu biasa nya tidur dengan satu posisi yang sama hingga pagi menjelang, tapi malan ini dia tampak gelisah. Entah mungkin karena ia tertidur di tempat yang asing atau apa, Dean tidak tahu.
"Semakin aku pikir kan, semakin aku penasaran. Sebenar nya apa kemampuan yang aku miliki? Dan kenapa Rei tidak mau memberitahu kan nya pada ku?" Dean di sana bergumam pelan. Amat pelan bagai bisik kan, dengan mata yang terus menerawang jauh ke langit-langit kamar nya saat ini.
"A-ah, apakah aku membangun kan mu? Maaf," ucap Dean seraya menatap Vicenzo yang masih dengan posisi nya.
"Tidak," tutur nya yang kemudian bergerak mengubah posisi nya jadi menghadap ke arah yang sama dengan Dean. Tidur terlentang seraya menatap langit-langit kamar nya. "Aku tidak bisa tidur," sambung nya.
"Kenapa? Apakah karena ini tempat yang asing bagi mu, jadi membuat mu tidak bisa tidur?"
"Ya salah satu nya itu, tapi bukan hanya itu yang membuat ku tidak bisa tidur."
"Lalu apa?" Dean menatap nya bingung.
__ADS_1
"Aku terus kepikiran, menurut mu siapa sebenar nya Rei, Elvina dan William itu? Mengapa mereka tiba-tiba saja datang dan membantu kita? Apa tujuan mereka?" Vicenzo mengeluar kan semua pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggu nya, yang membuat nya tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Ia terus gelisah setiap kali pertanyaan itu terus saja bermunculan di benak nya.
"Ah, ya. Jika di pikir-pikir kau ada benar nya juga, mereka tiba-tiba saja datang dan membantu kita. Sebenarnya ini juga yang aku pertanyakan."
"Menurut mu siapa mereka?" Vicenzo melirik Dean di samping nya.
"Entahlah, aku juga penasaran siapa sebenar nya mereka. Tapi yang pasti aku yakin jika mereka adalah orang baik."
"Kenapa kau begitu yakin, padahal mereka adalah orang yang baru saja kita kenal. Apakah kau yakin karena Rei baru saja memberitahu jika kau juga memiliki kekuatan sama seperti para evolver lain nya?"
"Aku juga tidak terlalu yakin itu alasan nya. Hanya saja, hati ku yang berbicara jika Rei dan kedua sepupu nya adalah orang yang baik."
"Begitu ya," Vicenzo menanggapi.
"Ah, ngomong-ngomong sejak tadi aku terus teringat akan ucapan Rei mengenai diri ku yang ternyata memiliki kekuatan sama seperti kalian."
"Kau pasti sangat penasaran kan?"
"Iya."
"Jika kau penasaran, lalu kenapa kau tidak tanya kan lagi pada nya?" Vicenzo beranjak dari tempat nya hendak pergi dari sana. Dean yang melihat itu, spontan ikut bagun.
"Kau mau kemana?" Tanya nya saat Vicenzo hampir melangkah pergi. Vicenzo menoleh ke arah nya sekilas.
"Cari udara segar. Aku ingin menenangkan pikiran ku di luar, mungkin saja dengan begitu, aku bisa tidur," tutur nya seraya melangkah menuju pintu keluar kamar mereka.
__ADS_1
"Kalau begitu aku ikut," Dean bergegas beranjak dari tempat nya. Berjalan dengan langkah besar mengikuti Vicenzo yang kini sudah lebih dulu berada diluar. Dean menutup kembali pintu kamarnya, lalu berjalan beriringan dengan Vicenzo. Mereka menghampiri beranda disana.
***