Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 93


__ADS_3

...***...


"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau bilang kalau mereka seharusnya di sini? Tapi kenapa tidak ada?"


"Aku tidak tahu. Tapi tampaknya mereka mengetahui kalau aku tengah mengintai mereka dan berusaha untuk mengungkap kebenaran mengenai apa yang terjadi, maka dari itu mungkin saja mereka mengubah rute perjalanan mereka."


"Jika mereka mengubah rute perjalanannya, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Hanya ada satu cara," Tessa menatap peta yang berada tepat di hadapannya itu.


"Apa itu?" Trish menatapnya lekat, dari raut wajahnya. Tessa dapat melihat dengan jelas rasa penasaran yang tengah menyelimuti pria itu.


"Kita harus menemukan salah satu tempat yang mereka tuju. Tempat yang dimana terjadi penculikan para evolver, dengan begitu kita bisa secara diam-diam mengikuti kemana mereka pergi dan kita intai mereka sampai mereka sendiri yang menuntun kita agar bisa tiba di tempat yang kita tuju," jelas Tessa pada Trish. Menjelaskan rencana yang telah ia susun.


"Oke. Sekarang dimana kau bisa menemukan tempat itu?" Tanya Trish.


"Aku yakin di sini juga ada, hanya saja mereka mengubah rute pengumpulan nya ke tempat lain. Membawa para evolver itu secara diam-diam dan berpencar. Sekarang, kita hanya harus mencari tempat dimana kemungkinan itu terjadi." Tessa beranjak bangun dari tempatnya.


"Jadi maksudmu kita cari dimana ada kasus evolver yang hilang? Agar kita bisa bertemu dengan para penculik itu dan mengikuti mereka secara diam-diam, begitu?" Trish memperjelas ucapan dari Tessa.


"Benar. Sekarang ayo pergi." Tessa menggulung peta miliknya, memasukkan benda itu ke dalam tas miliknya lantas berjalan di depan. Memimpin Trish yang kini melangkah di belakang nya.


"Tunggu! Bagaimana caranya kita bisa mencari di tempat seluas ini?"


"Mudah!"


"Bagaimana?" Trish mencengkeram pergelangan tangan Tessa membuat wanita itu berhenti dan menatap ke arahnya.


"Begini! Ada ciri-ciri seperti tempat khusus dimana mereka akan menyergap dan melumpuhkan para evolver, contohnya adalah tempat yang sepi yang jarang di lewati oleh orang-orang, kemudian jalanan yang tidak terpakai, atau mungkin tempat pembuangan sampah. Biasanya mereka melakukan penyergapan di tempat yang sepi seperti tempat-tempat itu."

__ADS_1


"Benarkah? Tapi, kalau di ingat-ingat kau juga tinggal di tempat yang seperti itu kan? Maaf, tapi bukan maksudku untuk menyinggung tapi…" Trish tidak melanjutkan ucapannya dan memilih untuk bungkam, rasanya ia tidak enak jika harus mengungkit mengenai kehidupan wanita di hadapannya.


"Tidak apa-apa, aku tidak tersinggung. Itu memang faktanya. Dan aku tinggal ditempat kumuh yang sepi dengan banyak jalan tidak terpakai itu adalah dengan tujuan agar pemerintah tidak menemukanku dan tentunya agar aku lebih mudah mencaritahu mengenai kasus ini. Bahkan aku tahu bahwa mereka juga telah melakukan penyergapan di jalan dekat tempatku tinggal, hanya saja sialnya setiap kali mereka melakukan penyergapan di saat itu pula aku sedang pergi bekerja. Aku jadi tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti mereka. Sekalinya aku tidak bekerja dan memutuskan untuk menangkap serta mengawasi mereka di saat itu pula mereka tidak datang untuk melakukan penyergapan di tempatku."


"O-oh begitu ya."


"Iya. Begitulah."


"Ah ya, lalu sekarang bagaimana cara kita menemukan tempat-tempat seperti itu?"


"Kita hanya perlu bertanya pada penduduk yang tinggal di sini."


"Tapi bagaimana kalau mereka curiga?"


"Oh, kau benar." Tessa menghentikan langkah kakinya. Ia baru ingat bahwa para orang-orang juga terlibat dalam masalah ini, para warga sipil yang sebagian besar adalah evolver. Mereka juga merupakan orang-orang yang di curigai olehnya berkomplot dengan para penculik itu agar mereka mau tutup mulut soal apa yang terjadi dan terus diam. Ia curiga karena ia masih ingat betul bagaimana kecaman orang-orang terhadap artikel yang di buat oleh mendiang ibunya. Artikel yang sebagian besar di kecam oleh para evolver yang membaca isi artikel nya.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain," gumam Tessa akhirnya. Trish yang berada di sampingnya itu menatap Tessa dengan raut wajah bingung.


"Maksudmu?"


"Kita harus cari sendiri dimana tempat-tempat itu berada!" Tuturnya seraya menghempaskan tangannya melepaskan cengkeraman tangan Trish darinya. Ia lantas melangkah di depan, memimpin jalan dan meninggalkan Trish di belakang nya.


"Apa katanya barusan? Mencari sendiri?" Gumam Trish yang berusaha mencerna kalimatnya. Ia lantas menggelengkan kepalanya cepat. Ia berjalan cepat mengikuti Tessa di depannya.


"Hey! Kau bercanda kan?! Kau tidak akan mungkin mencarinya sendiri kan?" Tanya Trish memastikan.


"Ya, aku akan. Dan aku tidak akan menyerah hingga aku menemukan tempat itu!" Sahut Tessa tanpa menoleh. Wanita itu terus melangkah di hadapannya.


"Tunggu! Berhenti! Apakah kau serius?"

__ADS_1


"Sangat."


"Ka-kau yakin?"


"Tentu saja. Memangnya kenapa? Kau tidak ingin mencarinya bersamaku?" Tessa menghentikan langkah kaki nya. Ia lantas berbalik menatap Trish di sana seraya berhenti sejenak.


"Huh?" Trish bingung harus menjawab bagaimana. Ia ingin mencarinya karena ia juga penasaran, tapi ia juga lelah dan ingin beristirahat. Apalagi setelah dua hari perjalanan yang panjang dari kota satu ke kota yang lainnya. Tentunya sangat melelahkan baginya.


"Kalau kau tidak ingin mencarinya bersamaku, maka kau pulang saja. Aku tidak butuh bantuan mu!" Teriak Tessa seraya berbalik dan mempercepat langkah kakinya.


Mendengar ucapan dari Tessa membuatnya terkejut, lagi-lagi wanita itu mengusirnya. Ia tentunya tidak ingin pergi begitu saja apalagi sudah sejauh ini dan Tessa sudah mulai percaya padanya dan mulai mau membicarakan setiap rencana yang telah di buatnya. Tidak mungkin ia menyerah begitu saja dan pulang dengan tangan kosong.


"Tidak! Aku ikut!" Sahut Trish seraya mempercepat langkah kakinya mengejar Tessa yang sudah sangat jauh dari posisinya.


"Hey! Tunggu aku!" Teriak Trish namun tak di gubris oleh Tessa di sana.


"Kau tidak mau menungguku?"


"Percepat langkahmu atau kau pulang!" Pekik Tessa keras seraya terus berjalan tanpa menghiraukan dirinya yang tertinggal jauh di belakang.


Trish bergegas mempercepat langkah kakinya, ia berusaha untuk mengimbangi Tessa dan mengikuti gerak wanita itu. Ia tidak ingin di usir lagi oleh Tessa yang terus berharap agar ia segera pergi dari hadapannya. Trish tidak ingin menjadikan harapan wanita itu nyata.


Akhirnya Trish mampu mengimbangi Tessa. Kini dirinya berjalan bersebelahan dengan Tessa yang langkah kakinya amat cepat.


"Sekarang kita akan mulai darimana?" Tanya Trish seraya melirik.


"Kita mulai dari sebelah barat, kita cari tempat itu disana dan kita cari mereka," sahut Tessa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2