
...***...
TRING!
Lonceng di dalam sana berbunyi setiap kali pengunjung datang dan pergi. Dean dan ke tiga sahabatnya yang baru saja selesai menikmati makan siang mereka lantas melangkah dari sana.
"Ngomong-ngomong menurut kalian kemana pak Trish pergi? Dan kenapa dia belum kembali?" Taz meminta pendapat dari ketiga sahabatnya yang lain. Kini mereka melangkah beriringan bersama menyusuri trotoar yang terkadang di lewati beberapa pejalan kaki. Mereka harus kembali ke asrama sebelum jam pulang sekolah tiba.
"Entahlah aku juga tidak tahu," Vicenzo menanggapi.
"Tapi tampaknya ini semua ada hubungannya dengan evolver yang populasi hilangnya bertambah," Marko angkat bicara.
"Kenapa kau berpikir begitu?" Vicenzo melirik padanya.
"Ya, kalian lihat saja. Semenjak dia hilang orang-orang justru malah banyak yang hilang. Mungkin saja jika dia bergerak lebih leluasa setelah orang-orang tahunya jika ia hilang."
"Tapi itu tidak masuk akal."
"Menurut ku justru kebalikannya!" Ujar Dean tiba-tiba membuat mereka seketika beralih pandang padanya.
"Huh? Maksudmu Dean?" Vicenzo menatapnya bingung.
"Begini, maksudku adalah mungkin saja jika dia sebenarnya tidak terli…" belum sempat Dean menyelesaikan kalimatnya sebuah mobil tiba-tiba berhenti di dekat mereka, membuat perhatian mereka beralih menatapnya.
"Huh? Kenapa mobil ini berhenti disini. Menghalangi jalan saja," Taz sedikit kesal. Langkah mereka terhenti seketika.
Sekarang mereka berada di jalanan sepi yang semula dipakai mereka sebagai jalan pintas menuju statio yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka singgah. Tapi tepat saat mereka tiba di persimpangan jalan menuju gang yang hendak mereka lalui, tiba-tiba mobil itu berhenti. Tidak biasanya ada mobil yang lewat disana.
Beberapa orang pria berjas hitam dengan pakaian rapi lengkap dengan kacamata yang hitam yang senada terpasang menutupi mata mereka. Dan begitu beberapa pria itu keluar, spontan Vicenzo tercekat di tempatnya. Ia terkejut saat secara tiba-tiba harus bertemu dengan beberapa pria itu. Matanya terbelalak.
"Mereka…" ia bergumam seraya menatap mereka.
"Kau kenapa Vice? Apakah kau kenal mereka?" Tanya Dean yang menatap Vicenzo yang menampakkan raut wajah seolah-olah kenal pada beberapa pria itu.
"M-mereka adalah orang yang menangkap para evolver yang hilang," gumamnya pelan.
"A-apa?" Marko terkejut mendengarnya.
"Cepat tangkap mereka!" Salah satu pria yang baru saja keluar itu bergegas menginstruksikan pada anak buahnya yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Lari!" Marko memekik bergegas berlari, di belakangnya Vicenzo menarik Taz yang masih tampak berusaha mencerna apa yang tengah terjadi.
Kedua matanya spontan terbuka saat lagi-lagi ia melihat apa yang akan terjadi. Rei terduduk tegap pada kursi yang tengah di dudukinya.
__ADS_1
"Rei? Kau baik-baik saja?" Tanya Elvina yang baru saja tiba di ruang tempatnya berada saat ini. Di tangannya ia memegang dua gelas ice choco yang baru saja dibuatnya.
Fokus Rei beralih manatap Elvina yang baru saja tiba kemudian duduk tepat di hadapannya. Elvina kemudian menyodorkan satu gelas ice choco di tangannya pada Rei.
"Minumlah agar kau merasa lebih tenang," tuturnya.
"Terima kasih," ujar Rei seraya meraih dan meneguknya.
"Ya. Sama-sama." Elvina meneguk minuman miliknya.
TUK!
Rei menaruh kembali gelas itu ke atas meja. Ia lantas melipat kedua tangannya rapi tepat di atas meja.
"Kau kenapa lagi?" Tanya Elvina setelah terdiam beberapa saat.
"Aku melihatnya."
"Huh? Maksudmu apa yang akan terjadi?"
"Ya."
"Lalu? Apa yang kau lihat?" Elvina tampak penasaran, ia menggeser tempat duduknya lebih mendekatkan pada mejanya.
"Benarkah?"
"Ya. Mereka mulai sadar jika Vicenzo dan Nero tahu tentang mereka, maka dari itu mereka mulai bergerak untuk menangkap mereka lebih dulu sebelum mereka mengetahui semuanya lebih dalam."
"Kalau begitu ini gawat. Kita harus memperingatkan mereka! Kita jangan biarkan mereka menangkap Dean dan teman-temannya," Elvina mulai cemas.
"Aku akan berusaha menghubungi Dean lewat telepati. Kalau begitu kau bersiap, kita harus bantu mereka melawannya. Dan kita harus pastikan jika Dean dan teman-temannya dalam keadaan aman. Oh dan jangan lupa beritahu Will. Dimana dia?"
"Dia tadi bilang akan pergi keluar sebentar karena ada yang harus dibelinya. Tapi aku akan segera menghubunginya."
"Baiklah."
"Kalau begitu aku bersiap dulu," Elvina beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Rei yang tengah terduduk seorang diri di ruangan itu.
...*...
"Ahh~" Marko menyandarkan punggungnya pada kursi yang tengah di duduki olehnya. "Aku benar-benar kenyang," tuturnya kemudian.
"Makannya enak dan aku sangat menikmatinya," Vicenzo meraih gelas minumnya lalu meneguknya hingga habis.
__ADS_1
"Setelah ini kita harus segera kembali ke asrama," Dean mengingatkan.
"Ya. Kau benar, kita harus tiba sebelum ada yang sadar jika kita pergi," sahut Taz yang kemudian melambaikan tangannya pada pelayan. Ia hendak membayar makanan yang baru saja selesai mereka santap.
"Oke. Time to pay!" Taz mengeluarkan unlimited card yang diberikan papanya untuk membayar semua makanan yang telah mereka nikmati.
"Darimana kau mendapatkan kartu itu? Bukankah kita dilarang memakai itu?" Vicenzo menatapnya bingung. Baru pertama kali ia melihat Taz memegang kartu hitam itu.
"Papaku yang memberikannya dan selama ini aku menyimpannya secara diam-diam agar tidak di rampas oleh penjaga."
"Wah ternyata kau hebat dalam menyembunyikan sesuatu ya," Vicenzo menyandarkan punggungnya.
"Dia itu yang paling hebat!" Marko yang menyahut.
"Huh? Benarkah?" Vicenzo beralih pandang padanya.
"Iya. Dia sangat ahli dalam menyembunyikan sesuatu, maka jangan heran jika dia adalah orang yang sangat sulit untuk kau percaya."
"Aih, diam kau!" Taz kesal dibuatnya.
"Sudahlah. Lebih baik sekarang kita pulang," Dean menengahi.
"Tunggu, aku belum selesai bayar," Taz menahan Dean yang hendak berdiri. Mereka tengah menunggu sang pelayan untuk menyelesaikan pembayarannya dan mengembalikan unlimited card milik Taz.
"Dean!" Rei berbicara lewat telepati-nya membuat Dean terkejut.
"Astaga. Jantungku hampir copot. Maaf, aku masih belum terbiasa," Dean mengusap dadanya berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdebar kencang.
"Tidak apa-apa, aku mengerti."
"Iya. Oh, ngomong-ngomong ada apa? Kenapa kau menghubungi ku dengan telepati mu?"
"Ah, ya. Aku ingin kau dan teman-teman mu berhati-hati. Mereka mulai bergerak dan berusaha untuk menangkap kalian!"
"Mereka?"
"Iya. Orang-orang yang ditugaskan untuk menangkap para evolver, maka dari itu kau dan teman-temanmu harus berhati-hati. Kau akan bertemu dengan mereka nanti."
"Darimana kau tahu?"
"Kekuatan menerawang ku. Aku baru saja melihat ramalan tentang kalian. Jadi aku harap kalian berhati-hati dan jangan sampai kalian tertangkap oleh mereka," kata Rei.
...***...
__ADS_1