Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 58


__ADS_3

...***...


"Jalan buntu," Dean bergumam seraya menatap dinding yang kini berdiri tepat di hadapannya. Tingginya sekitar dua puluh meter dari permukaan tanah.


"Sial! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ujar Taz.


"Kita tidak bisa kemana-mana lagi," Vicenzo menimpali.


DRAP! DRAP!


Beberapa pria itu berhenti tepat di belakang mereka. Dean dan ketiga sahabatnya lantas berbalik, dan mendapati beberapa pria itu berdiri di sana, tepat di belakang mereka.


"Lihat? Bukankah lebih baik jika kalian menyerahkan diri dengan suka rela saja?" Satu pria di sana berujar. Dean dan ketiga sahabatnya menatap mereka tajam.


"Siapa sebenarnya kalian?!" Marko berteriak dengan beraninya.


"Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Tapi yang pasti kami datang untuk menjemput kalian dan membawa kalian pada profesor. Beliau bilang, beliau sangat merindukan kalian."


"Haha, kau tampaknya sudah tidak waras. Aku saja bahkan tidak kenal dengan profesor manapun, bagaimana mungkin kau mau membawa kami bertemu dengan profesor?!" Taz terkekeh pelan disana.


"Profesor, siapa orang yang kau maksud?!" Dean dan Vicenzo mulai penasaran dengan arah pembicaraan pria itu.


"Kalian tidak tahu dan tidak kenal karena kalian tidak pernah datang mengunjungi mereka sejak kalian di ciptakan. Tapi ini sudah saatnya kalian bertemu dengan profesor dan mengenalnya lebih dekat."


"Apa maksud dari perkataan tidak masuk akal mu itu?!" Vicenzo angkat bicara.


"Hanya satu yang harus kalian tahu. Jika profesor adalah ayah dari kalian semua, orang yang telah berjasa dalam hidup kalian yang telah memberikan kalian semua keajaiban dalam dunia ini," tuturnya.


"Jangan harap kami akan ikut dengan orang sinting sepertimu!" Marko mulai sebal dengan beberapa pria itu.


"Kau pilih menyerahkan diri secara baik-baik, atau kami terpaksa harus melakukan kekerasan untuk memaksa kalian untuk ikut?"


"Kau pikir kau siapa?"


"Jangan mempersulit tugas kam—"


WOSHHH!!!


Marko menghembuskan kekuatan anginnya, membuat pria di sana terdiam seketika. Ucapannya terpotong gara-gara angin yang hampir saja membuatnya terbang.


"B-bagaimana mungkin. Kenapa ini tidak bekerja? Apa yang terjadi?" Marko cemas.


"Ada apa?" Tanya Dean yang tidak mengerti dengan maksud dari Marko.

__ADS_1


"Biasanya ini selalu berhasil membuat apapun terbang menjauh, termasuk manusia," jelasnya.


"Ah, apakah maksudmu seperti waktu pertama kali kita bertemu?"


"Iya. Tapi aneh, kenapa ini tidak bekerja?" Marko mulai panik.


"Kekuatan kalian tidak akan mampu melawan kami," pria di sana berujar membuat fokus mereka kembali beralih padanya.


"Tutup mulut kalian!" Taz menggerakkan tangannya, membentuk gesture mendorong yang spontan mengeluarkan semburan api merah pada kedua telapak tangannya. Kobaran api yang besar yang seketika membakar beberapa orang di depan mereka.


"Aku harap itu berhasil mengalahkan mereka," gumam Marko di sana. Sementara itu Taz tersenyum simpul mendapati beberapa orang itu terbakar akibat ulahnya.


Dean dan Vicenzo masih terdiam memperhatikan, sampai kemudian apinya hilang dan beberapa pria itu masih berdiri di sana. Bahkan tanpa lecet sedikit pun.


"M-mereka…" Marko terkejut bukan main saat menyadari apa yang dilihatnya. Taz, Vicenzo, dan Dean terbelalak di buatnya.


Baru pertama kali mereka menemukan orang yang tahan di bakar dan tidak terhempas saat angin badai menerpanya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Marko.


"Sudah aku bilang berhenti untuk bermain-main, dan cepat ikut kami," pria itu kembali berujar, kali ini ia melangkah. Mengikis jarak di antara mereka.


"Mundur!" Dean menginstruksikan. Mereka berempat perlahan berjalan mundur untuk menjauh, tapi beberapa pria di hadapannya itu tidak berhenti begitu saja dan terus berjalan tanpa mengindahkan ucapan Dean dan teman-temannya.


"Kami tidak akan pernah ikut dengan kalian!" Teriak Vicenzo.


"Kalian tidak memiliki pilihan." Mereka semakin dekat menghampirinya.


"ARRGGGHH!!!!" Tiba-tiba salah satu pria di sana memekik, membuat fokus mereka spontan menoleh ke arahnya. Dan di sana, mereka dapat melihat salah satu pria yang berteriak kepanasan saat secara tiba-tiba kobaran api biru membakar tubuhnya.


Semua orang di sana terbelalak, mereka terkejut sekaligus bertanya-tanya asal dari api yang mereka lihat. Pria itu berguling, bergerak dari arah yang satu ke arah lain, berusaha untuk memadamkan api yang membakar tubuhnya.


"A-api apa itu?" Dean dan teman-temannya menoleh pada Taz yang mana merupakan evolver pengendali api.


"Bukan aku! Kalian tahu sendiri kan kekuatanku tidak mempan pada mereka."


"Lalu, jika bukan kau yang melakukannya lalu siapa?" Marko saling berpandangan.


"Entahlah. Tapi lihat, apinya berwarna biru," Taz baru menyadari hal itu.


"K-kau benar. Api nya berwarna biru."


"Itu benar-benar bukan kekuatanku," ujar Taz.

__ADS_1


"Lalu, siapa yang mel—"


"Maaf membuat kalian menunggu lama," tiba-tiba seorang pria berujar, membuat fokus mereka seketika tersita.


"S-suara itu…" Dean celingukan mencoba mencari suara Rei yang tiba-tiba di dengarnya.


"Di atas saja!" Satu pria berjas itu menunjuk ke arah Rei yang kini melayang di udara lantas bergerak perlahan turun sampai kemudian sosoknya mendarat tepat di hadapan Dean dan teman-temannya.


Keempatnya terpaku mendapati Rei yang tiba-tiba datang dengan terbang.


"R-rei… dia bisa terbang?" Vicenzo terbelalak.


"L-luar biasa," Marko tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ia tidak bisa berkata-kata melihat Rei yang juga ternyata memiliki kekuatan yang sama dengannya.


"A-api itu… apakah mungkin…" Taz terdiam, di sibukkan berasumsi dengan dugaannya sendiri.


"Maaf karena mengabaikan panggilan mu Dean," Rei melirik pada Dean lewat ekor matanya.


"Jadi… dia benar-benar bisa mendengarnya," Dean bergumam spontan membuat ketiga sahabatnya menoleh padanya.


"P-panggilan? Maksudnya apa Dean?" Tanya Vicenzo bingung.


"Ya, apa maksud Rei?" Marko menimpali.


"Nanti saja aku jelaskan," tutur Dean.


"Tapi… kenapa dia sendirian?" Tanya Marko yang baru sadar jika Rei tiba di sana seorang diri.


Dan bersamaan dengan itu, fokus mereka beralih pada Elvina yang tiba dari arah yang sama dengan Rei. Wanita itu turun dengan kemampuan medan gaya yang di milikinya. Elvina turun dengan medan gaya yang dibentuknya seperti bola yang mampu melindungi dirinya.


Dean dan ketiga sahabatnya dibuat berdecak kagum melihat kemampuan Elvina itu.


"W-woah! K-kekuatan apa itu?" Marko kehabisan kata-kata untuk menggambarkan kekagumannya.


"Kalian baik-baik saja?" Elvina melirik pada Dean dan yang lainnya. Berdiri tepat di samping Rei.


"Kami baik-baik saja," sahut Dean.


"Bagus. Aku senang mendengarnya," tutur Elvina.


"Jangan bersenang-senang tanpa aku!" Tiba-tiba William sudah berada tepat di dekat Elvina tanpa mereka ketahui kapan datangnya.


"K-kapan William tiba di sana?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2