Paradoxon : Fix In Posterum

Paradoxon : Fix In Posterum
Fix 62


__ADS_3

...***...


"A-aku… tidak ak-akan… tinggal diam," William berusaha untuk bangkit dengan sisa tenaganya, tapi lagi-lagi gagal.


"Energiku benar-benar habis… ba-bagaimana ini? Aku tidak mungkin diam saja. E-elvina membutuhkan bantuanku," gumam William. Ia terus bersikeras berusaha untuk bangkit tapi terus gagal, energi yang ia miliki benar-benar sudah terkuras habis. Jika ia terus di paksakan untuk melawan mereka, bisa-bisa kesadarannya hilang. Dan itu akan semakin membuat yang lain repot akibat ulahnya.


SRAKKKK!


Elvina semakin terseret, ia kini sudah berada tepat bersebelahan dengan William. High heels yang di kenakan nya sampai menciptakan sebuah kepulan asap akibat gesekan yang cukup kasar dengan tanah di sana.


"A-argh!!!" Elvina menggeram keras, berusaha untuk menahan mereka. Sementara itu, bersamaan dengan usahanya melindungi orang-orang di belakangnya, hidungnya mengeluarkan darah segar.


"Menyerahlah! Kalian tidak akan menang melawan kami," satu pria yang melawannya itu berucap seraya terus melawan dirinya.


"Kau akan kalah," pria lain berujar.


"G-gawwat. Energiku semakin menipis," Elvina membatin. Ia mulai kehilangan sebagian besar energi miliknya, sedikit lagi saja maka ia akan benar-benar kehilangan kesadarannya.


"Aku harus bisa bertahan!" Batinnya menyemangati dirinya sendiri.


"ARRGGGHH!!!" Satu pria di sana memekik keras sembari spontan menghentikan serangannya melawan Elvina. Fokus mereka spontan menatap ke arahnya dan mendapati api biru yang sama yang menyerang salah satu di antara mereka tadi.


"Apa yang terjadi?" Satu pria di sana berhenti menyerang. Ia melihat pada satu rekannya. Tapi yang ditanyanya sekarang bergerak berusaha untuk mematikan api yang membakar tubuhnya.


"ARRGGGHH!!!" Ia terus memekik keras.


"Siapa sebenarnya pelakunya," satu pria lain mencoba mencari asal dari kekuatan api biru yang baru saja menyerang rekannya.


"Ini waktu yang tepat," batin Elvina di sana. Ia lantas menghentakkan kedua tangannya ke arah dua orang lain yang masih menyerang dirinya, dan dalam satu kali hentakkan tangannya. Mereka spontan tersungkur jatuh. Terpental jauh ke belakang.


BRUGH!


Elvina terjatuh bersamaan dengan itu, ia jatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Elvina!" Dean dan teman-temannya memekik, melihat wanita itu terjatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri di sana.


"Kita harus melakukan sesuatu!" Marko tak bisa tinggal diam. Ia hendak melangkah sebelum kemudian langkahnya terhenti saat fokusnya tersita oleh sosok pria dengan jubah yang sama seperti mereka. Corak dan warna garisnya benar-benar mirip dengan yang di kenakan oleh Rei di sana.

__ADS_1


"S-siapa itu?" Taz terdiam memandangi sosoknya dari arah belakang.


"B-bukankah itu Rei?" Gumam Vicenzo.


"Eh?" Ketiga sahabatnya itu menoleh spontan ke arahnya.


"Lihatlah jubah yang di kenakan olehnya," ucap Vicenzo menunjuk ke arah lambang jubah yang di kenakannya. Benar-benar mirip dengan apa yang di kenakan oleh Rei di sisi lain.


"Benar. T-tapi bagaimana mungkin?"


TAP!


Rei mendarat tepat di depan Elvina dan William di sana. Sosoknya yang muncul tiba-tiba membuat fokus beberapa orang pria berjas di hadapannya itu beralih pandang pada dirinya.


"Tunggu… kekuatan api itu tadi…" Taz di sana menyadari sesuatu. Ia terdiam sesaat. Ketiga sahabatnya itu menoleh ke arah Taz di sana, mereka menatap Taz dengan raut wajah bingung.


"Ada apa?" Tanya Dean mewakili.


"Kalian lihat kekuatan api biru tadi?" Taz menoleh ke arah ketiga sahabatnya.


"Apakah mungkin itu adalah… salah satu kekuatan yang di miliki oleh Rei?"


"Apa?" Vicenzo terkejut.


"Kenapa kau berpikir begitu?" Tanya Dean.


"Kalian tidak memperhatikan tadi? Saat Rei pertama kali tiba di sini, tiba-tiba ada kobaran api biru, dan lagi sekarang…" Taz melirik pada Rei kloning di sana.


"Memangnya dia benar-benar Rei?" Marko menaikkan sebelah alisnya.


"Dia benar-benar mirip seperti Rei," Dean menyahut disana.


"R-rei," William di sana berucap dengan terbata. Dan hal itu berhasil membuat Dean dan teman-temannya terkejut. Mereka benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang mereka lihat. Mendapati dua orang yang benar-benar mirip berada di dalam situasi yang sama seperti saat ini.


"D-dia benar-benar Rei?" Gumam Dean.


"Jika itu Rei… lalu yang itu siapa?" Tanya Marko menoleh ke arah dua Rei di sana secara bergantian.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang aku lihat," kata Taz.


Beberapa pria yang masih tersisa di sana menatap ke arah Rei dengan raut wajah sama terkejutnya dengan Dean dan ketiga sahabatnya.


Kedua pria itu benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria itu benar-benar mirip dengan pria lain yang saat ini tengah melawan rekan mereka yang lain.


"D-dia… tapi bagaimana mungkin," si pengendali laser itu menatap secara bergantian Rei yang ada di hadapannya dengan Rei yang sedang melawan rekan mereka yang lain. Mau berapa kali pun ia menatapnya, tetap saja mereka benar-benar mirip.


"Argh!!! Itu tidak penting untuk saat ini," pria itu menggelengkan kepalanya cepat, bergegas ia bergerak hendak melawannya tapi Rei di sana lebih dulu menyerangnya. Mengangkat tubuh pria itu ke udara dengan kekuatan yang ia miliki.


Dean dan ketiga sahabatnya spontan berdecak kagum di sana, mereka semakin di buat terkejut dengan setiap kekuatan yang di miliki oleh Rei. Pria itu benar-benar bukan evolver biasa.


Dengan tatapan matanya, Rei membakar pria itu di udara dengan kekuatan api biru miliknya. Pria itu mengerang kepanasan.


Ia menyerang Rei, tapi Rei lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke tanah yang berhasil membuat suara yang begitu nyaring.


BRUGH!


Pria itu tersungkur jatuh di sana. Begitu ia turun, ia bergegas berguling mengikuti satu rekannya yang lain yang sejak tadi berusaha untuk memadamkan apinya.


BRUUKKK!!


Satu pria lain yang sejak tadi di serang Rei yang asli akhirnya terjatuh dalam keadaan luka-luka.


"A-argh," pria itu meringis. Tangannya bergerak mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


Rei berjalan menghampiri kloningnya di sana. Ia berdiri di sana, beradu pandang sesaat dengan dirinya disana.


"Bagaimana dengan Nero?" Tanya Rei dengan suara yang pelan agar tidak membuat Dean dan ketiga sahabatnya itu cemas.


"Aku sudah memindahkannya ke tempat lain, dia aman untuk saat ini," sahutnya.


"Bagus. Kalau begitu kita hanya perlu menyelesaikan ini dan membawa Dean serta teman-temannya yang lain pergi dari sini. Kita tidak bisa membiarkan mereka untuk tetap di sini. Itu terlalu berbahaya."


"Iya, kau benar," tuturnya menjawab. Fokus mereka tersita saat segerombolan pria itu bangkit dengan tergopoh-gopoh.


...***...

__ADS_1


__ADS_2