
...***...
"Sebenarnya berapa banyak kekuatan yang kau miliki? Dan kenapa kau bisa mendapatkan banyak kekuatan?" Tanya Vicenzo yang penasaran disana.
"Ya. Berapa banyak kekuatan yang kau miliki?" Marko menimpali.
Rei hanya diam seraya tersenyum simpul di sana. Ia bingung antara harus menjelaskan atau tidak pada mereka, karena pada dasarnya jika ia jujur dengan seberapa banyak kekuatan yang ia miliki, bisa-bisa mereka pingsan.
"Kalian tidak perlu tahu seberapa banyak aku memiliki kekuatan. Yang jelas lebih dari yang kalian miliki," gumam Rei.
"Lalu, apa tujuanmu membuat kloning dari dirimu?" Tanya Dean mengalihkan pembicaraan.
"Oh, itu karena aku berusaha untuk membantu Nero. Salah satu teman kalian," jelas Rei.
"Nero?" Beo mereka serentak.
"Ada apa dengannya?" Tanya Marko.
"Dia baik-baik saja kan?" Taz cemas.
"Dimana dia sekarang?" Vicenzo menatapnya penasaran.
"Dia baik-baik saja saat ini, dan sedang istirahat di dalam kamar," kata Rei.
"Tapi kenapa kau mencoba menyelamatkan Nero? Apa maksudmu?"
"Tadi saat aku dalam perjalanan untuk membantu kalian, aku tiba-tiba mendapatkan kilasan jika Nero tengah bersama dengan salah satu dari kelompok pria yang menculik para evolver. Maka dari itu, aku berusaha untuk membantunya dan aku menggunakan kekuatanku untuk membuat kloning dari diriku untuk membantunya."
"Tapi tidak terjadi apa-apa padanya kan?"
"Tidak. Dia hanya pingsan karena menghirup kabut mimpi."
"Kabut mimpi? Apa itu?"
"Kabut mimpi adalah kabut yang dapat membuat seseorang tertidur dan masuk ke dalam mimpi sang pemilik kabut. Dan di dunia mimpinya, si pengendali kebut mimpi bisa berbuat apa saja pada targetnya."
"Apa? Itu artinya Nero dalam bahaya? Kau harus melakukan sesuatu! Bantu Nero agar tidak terjadi apa-apa padanya!" Kata Marko resah.
"Kalian tenang saja. Aku sudah menugaskan seseorang untuk mengawasinya di alam bawah sadarnya, jadi dia akan baik-baik saja."
"Seseorang?" Beo Dean di sana seraya melirik pada Rei di sana.
"Ya, seseorang," sahut Rei seraya balik menatap ke arahnya. Rei tahu jika Dean pasti mengerti siapa yang di maksudnya dengan seseorang.
"Oh, lalu ada sesuatu yang membuatku penasaran." Marko mengalihkan pembicaraan membuat mereka menoleh ke arahnya.
"Apa?"
"Tadi saat kau tiba untuk membantu kami, kau berkata seperti ini 'maaf karena mengabaikan panggilan mu Dean'. Apa maksud dari perkataanmu itu?" Tanya Marko menatapnya penasaran.
__ADS_1
"Oh benar. Aku juga penasaran," Taz menimpali.
"Soal itu… Dean manggilku, dia meminta bantuan," jelas Rei.
"Benarkah?" Ketiganya menatap ke arah Dean di sana.
"Apakah itu benar?" Vicenzo bertanya pada Dean.
"Iya," sahut Dean seraya menganggukkan kepalanya.
"Tapi, bagaimana bisa?" Taz mengerutkan keningnya bingung.
"Karena Rei memiliki kekuatan telepati," jelas Dean seraya melirik ke arah Rei.
"Apa?" Mereka semua semakin terkejut dibuatnya. Mereka menoleh serentak ke arah dimana Rei berada.
Mereka melongo menatapnya dengan mulut yang menganga terbuka sempurna.
"Ya, aku memang memiliki kekuatan telepati," kata Rei.
"Woah, luar biasa," Marko disana tidak bisa berkata-kata.
"Jadi kau meminta bantuan pada Rei dengan menggunakan telepati?" Tanya Vicenzo.
"Iya. Dan jika kalian berada dalam bahaya atau membutuhkan bantuan dariku, sebut namaku tiga kali dalam pikiran kalian. Maka kalian akan bisa berbicara denganku lewat telepati," jelas Rei.
"Benarkah?"
"Woah benar-benar tidak bisa di percaya. Aku sampai kehabisan kata-kata."
"Oh ada satu lagi! Bagaimana dengan kekuatan api biru yang kami lihat itu?" Tanya Taz mengalihkan pembicaraan.
"Ah ya, aku juga penasaran dengan hal itu!" Marko menimpali.
"Soal kekuatan api biru itu juga adalah salah satu kekuatan yang aku miliki," ujar Rei.
"Huh? Benarkah?" Vicenzo terbelalak menatapnya.
"Iya. Aku bisa membakar sesuatu hanya dengan tatapan mataku."
"Woah luar biasa. Berarti mulai saat ini dan seterusnya kita tidak boleh bertatap mata dengan Rei! Atau kita bisa terbakar!" Marko di sana buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain. Rei terkekeh menanggapinya.
"Haha, tentu saja tidak seperti itu. Kekuatan itu hanya akan muncul ketika aku menginginkannya."
"Benarkah?" Marko kembali menatap padanya.
"Iya. Mau aku tunjukkan?" Tanya Rei.
"Boleh. Coba kau bakar ini," Marko menyodorkan secarik kertas yang semula berada di dalam kantong celananya. Ia menaruh kertas itu di atas meja kaca di hadapan mereka.
__ADS_1
"Ayo bakar!" Tuturnya.
"Baiklah, akan aku tunjukkan," kata Rei yang kemudian memejamkan matanya sekilas lantas membukanya dan begitu pupil matanya berubah warna mereka semua spontan ternganga dibuatnya.
"Woah, bola matanya berubah warna," Marko menutupi mulutnya yang ternganga di sana.
Rei mulai memfokuskan kekuatan nya menatap ke arah kertas yang di berikan oleh Marko. Kertas yang kini berada di atas meja kaca di hadapannya. Rei menatapnya dan dalam seketika asap mulai muncul secara perlahan dan percikan api mulai bisa di lihat mereka. Percikan api biru yang tampak begitu indah, membakar setiap bagian kertas itu hingga berubah menjadi abu.
Rei memejamkan kembali matanya sekilas mengubah warna pupil matanya yang berhasil membuat mereka semakin ternganga dengan apa yang di lihat mereka. Mereka benar-benar terkagum-kagum dibuatnya.
"Woah tadi benar-benar luar biasa. Baru kali ini aku melihat yang seperti itu," kata Marko heboh sendiri.
"Tunggu! Darimana kau mendapatkan kertas itu? Dan… kertas apa itu?" Vicenzo menoleh ke arah Marko di sana. Marko spontan diam, ia melayangkan cengiran ke arah Vicenzo dan kedua temannya yang lain di sana.
"Itu adalah kertas ulangan matematika ku," tuturnya.
"Astaga kau membakarnya?" Dean tak percaya.
"Nilainya benar-benar menakutkan. Jadi jangan salahkan aku membakarnya, jika orangtuaku tahu mereka akan sangat marah. Jadi lebih baik aku membakarnya," kata Marko.
"Astaga. Kau mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini?" Taz menatapnya tidak menyangka.
"Haha, habisnya aku selalu lupa untuk membakarnya," Marko cengengesan.
"Jadi itu kertas ulangan mu?" Tanya Rei. Marko menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu apakah aku perlu kembalikan ini seperti semula?" Tanya Rei yang membuatnya spontan menatap horor ke arahnya.
"A-apa?"
"Memangnya kau bisa?" Tanya Dean dengan raut wajah bingung.
"Aku bisa melakukannya jika kau mau."
"Tidak jangan!" Marko memekik panik di sana membuat yang lain menoleh padanya.
"Apa-apaan kau ini! Sudah kembali kan saja Rei!" Taz melirik sekilas pada Marko kemudian beralih pada Rei.
"Tapi kenapa kau ingin kertasnya di kembalikan seperti semula?" Tanya Rei.
"Aku ingin tahu berapa nilainya," sahut Taz.
"Apa?! Please jangan! Jangan kembalikan kertas itu seperti semula." Marko memohon di sana.
"Hanya itu? Aku bisa memberitahu kan hal itu pada kalian," tutur Rei.
"Benarkah itu?"
...***...
__ADS_1