
"Bagaimana Milan?"
"Aku sudah menghubungi anak buahku, sebentar lagi mereka akan segera datang. Ra, kita harus mengalihkan perhatian mereka sampai anak buahku datang."
"Iya Milan, tapi apa yang harus kita lakukan?"
"Coba kau tanyakan bagaimana proses persalinan Bella."
"Iya Milan." jawab Rachel kemudian mendekat ke ruang persalinan. Beberapa kali Rachel mengintip ke dalam ruang persalinan tersebut. Terdengar suara Bella yang masih meraung sambil meneriakkan nama Arvin.
'Kasihan sekali Bella.' gumam Rachel di dalam hati.
"Ah itu dia Yessi." kata Rachel saat melihat Yessi yang sedang mengecek kondisi Bella. Rachel pun kemudian mendekat ke arah Yessi.
"Rachel, kenapa kau ada disini?"
"Yessi, wanita ini adalah temanku dan saat ini dia sendirian, bolehkah aku menemaninya selama proses persalinan?"
"Oh jadi dia temanmu?"
"Iya, tolong Yessi karena saat ini dia sedang sendirian."
"Baiklah kau boleh menemaninya Ra, ya dia tadi juga mengatakan jika suaminya sedang berada di Singapura, sedangkan salah seorang saudaranya juga sedang melahirkan."
"Terimakasih Yessi."
'Saudara Bella sedang melahirkan? Siapa yang dimaksud saudara Bella itu? Apakah Bella memiliki saudara lagi selain Gibran?' gumam Rachel dalam hati sambil mendekat ke arah Bella.
"Bella." panggil Rachel saat melihat Bella yang kini tampak begitu kesakitan.
"Ra, kau disini?" jawab Bella sambil meringis menahan rasa sakit.
"Iya, kebetulan Bidan Yessi adalah temanku."
"Ra, sakit."
"Iya Bella aku mengerti, kau harus sabar Bella, kau pasti kuat menjalani ini."
"Iya Ra, tapi aku ingin ada Arvin di sampingku." kata Bella sambil terisak.
"Memangnya Arvin ada dimana Bella?"
"Dia sedang ada urusan pekerjaan di Singapura, Ra tolong maafkan aku Ra, ini semua benar-benar mengingatkanku atas kejahatanku dulu yang telah kuperbuat padamu, aku baru merasakan bagaimana sakitnya melahirkan tanpa kehadiran seorang suami tapi saat itu aku malah memisahkan kalian dan anak kalian. Aku benar-benar jahat Ra." kata Bella sambil terisak dan dengan terbata-bata karena menahan sakit yang begitu hebat di perutnya.
"Bella sudahlah itu semua sudah lama berlalu, aku juga sudah melupakan itu semua, bukankah kita juga sudah lama berteman?"
"Iya Ra, tapi ini rasanya seperti terulang dalam hidupku."
"Bella tolong jangan pikirkan semua itu, sekarang gunakan tenagamu untuk proses melahirkan."
"Iya, Ra bolehkah aku meminta tolong sesuatu?"
"Iya Bella, ada apa?"
__ADS_1
"Tolong kau ambil ponsel di tasku, aku ingin menelepon Arvin."
"Iya Bella, aku akan menelepon Arvin."
Rachel kemudian mengambil ponsel Bella di dalam tasnya, lalu dia tampak sibuk mencoba untuk menghubungi Arvin. Hingga beberapa saat, akhirnya panggilan video itu pun diangkat oleh Arvin.
Melihat wajah Arvin, Bella pun langsung berteriak.
"ARVINNNNN!!" teriak Bella.
Arvin pun begitu panik melihat Bella yang kini begitu kesakitan.
"Bella, kau kenapa Bella?"
"Aku akan melahirkan, Arvin."
"Oh tidak, bukankah perkiraannya masih satu minggu lagi?"
"Aku juga tidak tahu Arvin, tiba-tiba aku dan Riana mengalami mulas bersama-sama. Arvin ini sakit sekali!!' teriak Bella.
"Bersabarlah Bella." kata Arvin sambil terisak, Rachel pun hanya melihat percakapan Arvin dan Bella dengan tatapan sendu.
'Kasihan sekali.' gumam Rachel.
Tiba-tiba Yessi pun mendekat ke arah Bella dan Rachel.
"Sepertinya pembukaan Bella sudah lengkap, aku akan membantumu proses persalinannya Ra."
"Iya pasti."
"Anda siap Bella?"
"Ya." jawab Bella dengan begitu lirih.
"Kau bisa mulai mengejan jika sakitnya mulai datang, apa kau mengerti Bella?"
"Ya."
Bella pun kini mulai terlihat kesakitan. "Ya, anda bisa mulai mengejan sekarang Bella."
Bella pun mengejan dengan begitu kepayahan, peluh kini sudah membasahi seluruh tubuhnya. Beberapa saat kemudian suara tangis bayi pun pecah. Arvin yang melihat proses kelahiran anaknya melalui sambungan video pun hanya bisa menangis.
"Terimakasih Ra."
"Sama-sama Bella."
"Sekali lagi aku minta maaf, saat ini aku jauh lebih beruntung darimu karena suamiku menemaniku meskipun lewat sambungan telepon, tapi saat itu Milan pun tak tahu jika kau sudah melahirkan." kata Bella sambil menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah Bella, tolong jangan dipikirkan lagi, aku bahkan sudah melupakan semua kejadian itu karena saat ini aku sudah bisa hidup bahagia dengan Milan."
Namun Bella tetap terisak, Rachel pun kemudian memeluknya.
'Tuhan, maafkan aku Tuhan, aku sungguh berdosa dulu pernah memisahkan mereka. Tapi saat ini mereka malah menolongku. Tuhan apakah ini teguran darimu atas semua dosa masa laluku? Tuhan, tolong terima semua tobat dan permintaan maafku padamu.' gumam Bella sambil terus menangis di pelukan Rachel.
__ADS_1
Sementara Amran yang mendengar tangisan bayi kini pun tersenyum. Dia lalu mengambil ponselnya kemudian tampak menelpon seseorang.
[Halo Bos, anak itu sudah lahir.]
[Cepat lakukan tugasmu.]
[Iya bos.]
Amran pun memberi kode pada tiga orang yang tampak sedang duduk di sebuah mobil yang ada di parkiran klinik tersebut. Namun baru saja mereka berjalan di halaman klinik, tiba-tiba ketiga orang tersebut sudah dikepung oleh lima orang berperawakan besar.
"Sial, ini perangkap. Kita dikepung." kata salah seorang preman tersebut. Mereka kemudian mencoba melarikan diri, namun dikarenakan jumlah yang tidak seimbang antara kedua belah pihak, ketiga preman tersebut pun dapat dilumpuhkan dengan mudah.
Amran yang melihat kejadian itu pun kini terlihat panik, dia kemudian masuk ke dalam klinik untuk melihat keadaan Bella. Namun saat baru saja masuk ke dalam klinik tersebut, Milan sudah mencegatnya.
"Anda mau kemana?"
"Itu bukan urusanmu, lagipula aku juga tidak mengenalmu!"
Milan pun tersenyum.
"Kau ingin berbuat jahat pada Bella?"
"Kau tidak usah ikut campur!"
"Jangan pernah coba-coba berani-berani mengusik kehidupan Bella jika kau masih sayang dengan nyawamu!"
"Dasar bre*gsek! Lebih baik kau tutup mulutmu dan tidak usah ikut campur dengan urusanku!" kata Amran kemudian menyerang Milan. Di saat itu juga salah seorang anak buah Milan pun masuk ke dalam klinik tersebut, dia kemudian melumpuhkan Amran begitu saja dengan sekali serangan pada bagian wajah dan kakinya.
BRUGGGGG
Tubuh Amran pun terkapar tidak berdaya. Milan kemudian mendekat ke arah Amran lalu menjambak rambutnya.
"Cepat katakan padaku siapa yang menyuruhmu!"
Namun Amran hanya diam.
"Kenapa kau diam? Apa kau bisu?"
"Itu bukan urusanmu!" bentak Amran, mendengar bentakan Amran, anak buah Milan pun menendang punggung Amran.
"Jangan berani-berani kau berkata tidak sopan pada bosku!"
"Biarkan saja, nanti dia juga akan mengaku."
"Cih jangan bermimpi!" jawab Amran. Di saat itu pula ponsel milik Amran pun berdering. Milan kemudian mengambil ponsel itu.
"Evan." kata Milan saat melihat sebuah nama di layar ponsel milik Amran. Milan pun kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
[Bagaimana Amran? Apakah kau sudah bisa mengambil bayi milik Bella? Cepat bawa bayi itu kesini, aku sudah tidak sabar meminta tebusan yang sangat banyak pada Bella dan Arvin.] kata sebuah suara di ujung telepon.
Milan pun menatap Amran.
'Apa maksud semua ini?' gumam Milan dalam hati.
__ADS_1