
Perlahan Bella pun mendekat pada laki-laki yang sedang mencuci mobil tersebut, setelah berjalan kian dekat perasaan Bella pun semakin tak menentu, hatinya berdegup kian kencang saat melihat sosok yang kini ada di dekatnya meskipun Bella melihatnya dalam posisi menyamping, namun dia sangat yakin jika laki-laki itu adalah Arvin.
'Oh Tuhan, aku benar-benar tak menyangka akan bertemu dia disini.' gumam Bella dalam hati, air mata pun mulai membasahi pipinya, kemudian dia mempercepat langkahnya lalu memeluknya dari belakang karena kini Arvin dalam posisi membelakanginya. Arvin yang sedang asyik mencuci mobil dan tidak menyadari kehadiran seseorang di rumahnya pun begitu terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya.
"Hei bodoh, kenapa kau meninggalkan aku begitu saja. Tahukah kau, aku begitu tersiksa karena kehilangan dirimu." kata Bella sambil terisak.
'Siapa yang memelukku? Kenapa suaranya seperti Bella? Apa ini hanya perasaanku saja yang sedang terngiang akan suaranya?' kata Arvin dalam hati.
"Sekarang berjanjilah, kau jangan pernah meninggalkan aku lagi." kata Bella disertai isakan yang kian kencang serta dekapan yang kian erat.
'Apakah dia benar-benar Bella?' gumam Arvin, perlahan dia pun membalikkan tubuhnya dan melihat Bella yang kini sedang memeluknya sambil terisak.
"Bella?" kata Arvin yang begitu terkejut akan kehadiran Bella. Namun kini Bella semakin erat memeluk tubuhnya.
"Tolong jangan pernah tinggalkan aku lagi, jangan tinggalkan aku."
Arvin pun kemudian balas memeluk Bella.
"Ya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." jawab Arvin kemudian mencium kening Bella.
"Aku sangat mencintaimu, Bella."
"Ya, aku tahu itu. Aku juga sangat mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpamu."
"Ya, aku juga. Aku pikir kau sudah bersama laki-laki lain dan hidup bahagia bersamanya jadi aku memilih mundur karena tidak ingin mengganggumu lagi dan membuatmu terluka." kata Arvin sambil memeluk dan membelai wajah Bella.
"Tolong jangan pernah katakan itu, karena sebenarnya hanya kau yang aku cintai. Beberapa hari ini aku sudah hampir gila karena terus memikirkanmu, ponselmu tidak aktif, lalu saat aku pergi ke kontrakanmu, kau juga sudah pergi. Aku begitu hancur, Arvin." kata Bella yang kini masih dalam dekapan Arvin.
"Maafkan aku, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
Bella pun menganggukkan kepalanya. Mereka berpelukan begitu lama diiringi isakan sambil sesekali saling menciumi bagian tubuh mereka satu sama lain.
'Terimakasih Tuhan, terimakasih aku bahkan tidak pernah menyangka semua ini akan terjadi di hidupku, aku pikir semua ini begitu mustahil terjadi. Kupikir Bella begitu membenciku, berbicara denganku saja dia tidak mau apalagi membalas cintaku. Tuhan sekarang aku yakin akan kebesaranmu, kau lah yang membolak-balikan hati manusia, meskipun aku tidak tahu apa yang membuat Bella berubah dan mau menerima cintaku, aku sangat bersyukur akan semua ini. Terimakasih Tuhan.' gumam Arvin dalam hati sambil terus memeluk dan menciumi kepala Bella.
'Terimakasih Tuhan, di saat aku begitu putus asa dan tidak ada harapan untuk bisa menemukan Arvin kembali, secara tidak sengaja, aku bisa bertemu dengannya tanpa kuduga sebelumnya. Sekarang aku percaya akan semua kebesaran Mu, aku percaya semua akan menemukan jalannya dan tidak akan ada yang bisa merubah takdir yang sudah Kau tuliskan.' kata Bella dalam hati.
__ADS_1
Perlahan, Arvin pun melepaskan pelukan itu.
"Bella, ini sudah sore sebentar lagi malam, ayo kita masuk." kata Arvin kemudian menggandeng tangan Bella masuk ke dalam rumah.
"Ya."
"Kenapa kau tiba-tiba ada disini, Bella?" tanya Arvin saat mereka berjalan di halaman rumah itu.
"Sebenarnya aku sedang mencari Gibran, aku memperoleh alamat ini dari orang kepercayaan Gibran di kantor tapi ternyata aku malah bertemu denganmu." kata Bella sambil bergelayut di tangan Arvin.
"Mencari Gibran?"
"Ya, apa dia ada disini?"
"Ya, dia ada disini, kau bisa menemuinya di dalam. Tapi tolong untuk saat ini kau jangan memberitahu keberadaan Gibran pada polisi yang sedang mencarinya."
"Tentu tidak, itulah alasannya kenapa aku terlebih dulu mencarinya, aku tidak ingin polisi-polisi itu menemukan Gibran sebelum aku bertemu dengannya."
"Ya."
"Nanti kau akan tahu semuanya setelah kau bertemu dengan Gibran di dalam." jawab Arvin yang membuat Bella semakin penasaran. Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu dan melihat Gibran yang sedang duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.
"Itu dia, kau temui saja."
"Ya." jawab Bella kemudian mendekat pada Gibran.
"Gibran!" panggil Bella.
Gibran yang begitu terkejut mendengar seseorang yang memanggilnya kemudian mengangkat wajahnya. Dia pun kini begitu terkejut saat melihat Bella yang sudah berdiri di hadapannya dan tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Be... Be.. Bella, kenapa kau ada disini?" tanya Gibran dengan begitu gugup.
"Itu bukan urusanmu! Aku yang seharusnya bertanya padamu kenapa kau melakukan semua ini Gibran? Kenapa kau harus kabur dari penjara? Apa kau tidak sadar, perbuatanmu itu justru akan merugikanmu sendiri!"
"Aku tidak tahan hidup di penjara Bella, mengertilah."
__ADS_1
"Tidak tahan? Bukankah baru beberapa hari kau menjalani kehidupan sulit di penjara? Bukankah biasanya kau selalu mendapatkan fasilitas mewah layaknya di hotel atupun di rumah." kata Bella yang membuat Gibran begitu terkejut.
"Darimana kau tahu semua itu?"
"Itu tidak penting, bahkan selama empat tahun menjalani masa tahanan, kau juga bisa mengendalikan perusahaan kita kan?"
"Pasti Rafly yang sudah mengatakan semua ini padamu."
"Bukan urusanmu siapa yang mengatakan semua itu padaku. Polisi itu pun sudah datang ke rumah untuk mencarimu, sebelum situasinya semakin tak terkendali, lebih baik sekarang kau menyerahkan diri sebelum hukumanmu diperberat, Gibran."
"Suatu saat aku pasti akan menyerahkan diri Bella tapi tidak sekarang."
"Kenapa tidak bisa sekarang? Bukankah sudah kukatakan padamu jika kau tidak menyerahkan diri secepatnya, hukumanmu bisa semakin berat, Gibran."
Gibran pun hanya terdiam sambil menundukkan wajahnya.
"Kenapa kau diam Gibran?"
"Bella, tolong beri dia kesempatan sampai beberapa bulan lagi karena dia sedang menunggu kelahiran buah hatinya, setelah anak itu lahir dia akan menyerahkan diri ke polisi." jawab Arvin yang kini ikut duduk di samping Bella.
"Bu... Buah hati? Apa maksudmu Arvin?"
"Ya, Gibran sedang menanti kelahiran anaknya."
"Ti... Tidak mungkin, bagaimana bisa? Bukankah kau belum menikah? Lalu siapa wanita itu? Siapa wanita yang sudah kau hamili, Gibran?" kata Bella dengan raut wajah begitu tanda tanya sambil menatap wajah Gibran, namun Gibran hanya terdiam. Dia hanya memejamkan matanya sambil memijit keningnya.
"Gibran cepat katakan padaku, apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa yang sudah kau hamili?" tanya Bella dengan penuh berapi-api. Namun Gibran masih terdiam.
"Dia adikku, Gibran telah menghamili adikku." jawab Arvin.
"Oh tidak, bagaimana semua ini bisa terjadi?" kata Bella sambil menutup wajahnya.
NOTE:
Hai dear, jangan lupa tinggalin jejaknya ya like, komen atau vote, kan othor udah ngetik panjang kali lebar tinggalin jejaknya buat othor dong 🤭
__ADS_1
Love you dear 🥰😘❤️🤗