Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Bukti


__ADS_3

Rachel dan Milan pun berjalan ke dalam kantor polisi. Tampak Gibran dan Bella yang sudah duduk di depan seorang polisi di dalam ruang penyidikan.


"Jadi mereka yang tadi pagi saudara Milan laporkan atas kasus pembunuhan berencana dan penyalahgunaan identitas?"


"Iya Pak." jawab Milan sambil melirik pada Gibran yang kini menatapnya dengan tatapan tajam. Sedangkan Bella terlihat begitu murung, wajahnya kini tertunduk tanpa ada satu patah katapun yang terucap.


"Sebentar saya panggilkan dulu penyidik yang akan menangani kasus kalian." kata polisi tersebut kemudian keluar dari ruang penyidikan.


"Dasar breng*ek kau, Milan! Kau pasti sudah mempengaruhi Rachel agar menusuk kami dari belakang! Kalian memang manusia tidak tahu diri yang tidak tau berterima kasih!"


"Terimakasih? Terimakasih untuk apa?" tanya Milan sambil tersenyum kecut.


"Apa kau lupa Milan, jika tidak ada aku, mungkin istrimu sudah meninggal dalam kecelakaan itu?"


"Hah kau tidak salah bicara kan Gibran? Bukankah kecelakaan itu terjadi karena ulahmu! Jika kau memiliki niat baik, kau pasti akan mengembalikan Rachel bukan mengubah identitasnya."


"Hei jangan menuduh sembarangan tanpa bukti, Milan!"


"Menuduh tanpa bukti? Apa kau menginginkan bukti?"


"Tentu, kalian semua tidak bisa menuduhku sembarangan tanpa bukti seperti ini! Kau bahkan tidak memiliki satupun bukti atas keterlibatanku dalam kecelakaan itu! Kalian hanya memiliki bukti tes DNA jenazah Vania dan pemalsuan identitas itu kan? Tapi semua bukti itu tidak menunjukkan jika akulah pelakunya! Selama ini kalian mengira jenazah Vania adalah Rachel itu bukanlah kesalahanku, ini semua karena kebodohan kalian semua, sedangkan tentang identitas palsu kalian pun hanya memiliki bukti tentang jati diri Almira yang sebenarnya tanpa bisa menunjukkan akulah yang membuat identitas palsu untuk Rachel." kata Gibran sambil tersenyum menyeringai.


"Jadi kau ingin bukti?" tanya Milan sambil mendekatkan wajahnya pada Gibran yang dibalas tatapan tajam. Milan pun kemudian tertawa terbahak-bahak melihat wajah Gibran yang penuh luka lebam.


"Kau tidak usah tertawa, Milan! Tidak usah mengulur-ulur waktu lebih baik sekarang kau tunjukan bukti keterlibatanku!"


"Baik jika kau terus memaksa." kata Milan lalu mengambil ponselnya.


"Kau lihat ini, ini bukti pertama yang kutemukan di ponsel milik Bella, bukti percakapanmu dengan Bella mengenai pemalsuan data tentang Almira, lalu lihat file ini, file kartu identitas milik Almira yang kau ganti fotonya dengan foto milik Rachel. Aku kemudian menyuruh anak buahku untuk mencari keberadaan Almira yang asli dan ternyata Almira asli sudah meninggal!"


Mendengar perkataan Milan, Gibran pun memandang pada Bella. "Bella! Bagaimana Milan bisa tahu isi ponselmu! Kau benar-benar ceroboh dan bodoh! Selama ini kau terlalu percaya diri sampai kau tidak sadar telah dibodohi oleh Milan!" kata Gibran dengan tatapan tajam pada Bella yang kini terus tertunduk.


"Sudah Gibran, kau tidak usah memarahi Bella, ini sudah takdir dari Tuhan, secerdik apapun kalian menutupi semua ini jika Tuhan sudah berkehendak tidak ada yang mampu melampaui kuasanya."


"Bukankah sudah kubilang tidak usah berceramah di depanku, lebih baik kau tunjukkan saja bukti keterlibatanku dengan kecelakaan itu. Jika kau bisa." kata Gibran sambil tersenyum kecut.


"Hahahaha, aku tidak perlu mencari bukti apapun karena kau sendiri yang mengatakannya padaku."

__ADS_1


"Apa maksudmu? Sudah lama kita tidak pernah bertemu, Milan. Aku tidak pernah mengatakan apapun padamu."


"Hahahaha mungkin aku perlu mengingatkanmu tentang kejadian di hutan itu." kata Milan sambil terkekeh.


"Ja.. Jadi, kau yang telah membuatku dan Bella tersesat di hutan itu?"


"Menurutmu bagaimana? Bukankah menyenangkan kalian berlarian sepanjang malam di dalam hutan?"


"Dasar breng*ek kau Milan! Baji*gan!"


"Kau tidak usah marah padaku karena ini tidak sebanding dengan penderitaan yang kualami selama satu tahun akibat dipisahkan dengan anak dan istriku!"


"Anak? Jadi kau sudah tahu anakmu masih hidup?"


"Tentu saja, kau yang menaruh Arsen di panti asuhan itu kan? Lalu kau juga yang ingin menculiknya saat Arsen berada di rumah sakit."


"Jadi kesialan di rumah sakit, panti asuhan dan di hutan itu semua karena ulahmu?"


"Akhirnya kau sadar juga, kupikir kau begitu bodoh sampai tidak menyadari semua ini."


"Ini benar-benar gila Gibran! Kita telah benar-benar dipermainkan seperti orang bodoh!"


Gibran pun semakin emosi mendengar perkataan Bella. "Sudah cukup Bella kau tidak usah menambah beban pikiranku saat ini! Heh, Milan kau hanya menceritakan permainanmu padaku beberapa hari ini tapi kau tidak bisa mengatakan tentang bukti yang kau miliki tentang keterlibatanku dengan kecelakaan itu kan? Hahahaha." kata Gibran sambil tertawa terbahak-bahak.


"Jangan tertawa dulu sebelum kau mendengar ini." kata Milan sambil memutar voice note yang ada di ponselnya.


"Ba.. Bagaimana kau bisa memiliki rekaman suara itu?" tanya Gibran dengan begitu panik.


"Dari Almira, tepatnya hantu Almira. Dia yang merekam semua percakapanmu saat kau dan Bella berada di pos kamling itu." jawab Milan sambil terkekeh.


"Jadi hantu Almira itu juga permainanmu? Dasar iblis kau Milan."


"Tidak usah mengataiku iblis jika kau adalah iblis yang sebenarnya."


"Breng*ek!" umpat Gibran pada Milan yang hanya dibalas senyum ejekan dari Milan.


"Milan, jadi selama ini kau mempermainkan aku?" kata Bella dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Satu tahun aku berusaha mendekatimu tapi kau selalu mengabaikanku, dan di saat aku begitu bahagia karena kau mau merespon semua perhatianku padamu ternyata semua itu hanyalah palsu." kata Bella sambil terisak.


"Bukankah dulu kau begitu mencintaiku tapi kenapa sejak kau bertemu dengan Rachel semuanya berubah?" kata Bella kembali sambil menutup wajahnya.


"Bukan aku, tapi kalianlah yang memulai semua ini, kalian mempertemukan aku dengan Rachel. Ini semua terjadi karena keserakahan kalian yang ingin menghancurkan perusahaanku dan keluargaku hingga akhirnya menghancurkan kehidupan kalian sendiri."


"Gibran, Bella, masih ada waktu untuk memperbaiki semua ini. Masih ada waktu untuk memperbaiki kehidupan kalian menjadi pribadi yang lebih baik."


"Milan, bukankah aku juga cantik? Sama cantiknya dengan Rachel?"


Milan pun mendekat pada Bella. "Kau cantik Bella, sangat cantik. Semua wanita cantik, tapi kau akan jauh lebih cantik di depan orang yang tepat, orang yang benar-benar tulus mencintaimu dan suatu saat kau akan bertemu dengan orang itu."


"Permisi saudara Milan, saya harus meminta keterangan dari saudara Gibran dan Bella, apakah anda sudah selesai berbicara dengan mereka?"


"Oh iya pak polisi saya sudah selesai. Silahkan."


"Bella, Gibran aku pulang dulu. Jaga diri kalian, renungkan semua kesalahan yang pernah kalian perbuat. Kalian masih punya banyak waktu untuk bertaubat." kata Milan. Gibran dan Bella pun hanya terdiam sambil menatap lantai dengan tatapan kosong.


Milan kemudian berjalan ke arah Rachel yang kini duduk di sudut ruangan sambil melihat semua percakapan diantara mereka.


"Ayo kita pulang Ra."


Rachel pun mengangguk kemudian menggandeng tangan Milan.


"Apa ini sudah selesai?" tanya Rachel saat keluar dari kantor polisi.


"Sudah."


"Lalu setelah ini apa?"


"Membuat adik untuk Arsen." jawab Milan yang membuat Rachel tersipu malu.


NOTE:


"Tidak ada kejahatan yang sempurna"


Conan Edogawa

__ADS_1


__ADS_2