
"Evan kenapa kau melamun? Ayo kita ke ruang rapat sekarang."
"O..Oh iya sebentar Sinta, aku akan membereskan pekerjaanku terlebih dulu nanti aku menyusul." jawab Evan.
"Baik, tapi tolong jangan terlalu lama, Evan."
"Iya Sinta, akan kubereskan secepatnya."
"Iya Evan." jawab Sinta kemudian keluar dari ruangan Evan.
'Bre*gsek!! Sia-sia aku mengerjakan ini selama tiga hari berturut-turut dan sekarang tidak bisa kugunakan, ini pasti gara-gara Gibran sialan itu. Aku tahu jika Rafly sebenarnya adalah orang kepercayaan Gibran, pasti pertemuan antara Bella dan Rafly beberapa hari yang lalu ada kaitannya dengan semua ini. Ini benar-benar sungguh aneh, tiba-tiba saja Bella menemui Rafly, lalu mengatakan akan bertemu saudaranya, kemudian dia sudah menjalin hubungan kembali dengan laki-laki sialan itu dan saat ini ada pergantian CEO. Ada apa ini sebenarnya." kata Evan sambil mengusap kasar wajahnya.
"Aku harus menyelidiki semua ini, sepulang dari kantor aku akan pergi ke rumah Bella." kata Evan kemudian keluar dari ruangannya karena beberapa kali Sinta sudah menghubunginya kembali agar segera ke ruang rapat."
πΈπΏπΈπΏπΈπΏπΈ
"Bagaimana perasaanmu sayang?" tanya Arvin pada Bella saat memasuki jalanan ibu kota.
"Sangat bahagia." jawab Bella sambil tersenyum.
"Aku juga, aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu kemudian menikah denganmu, kupikir kau sudah sangat membenciku. Kau bahkan tidak pernah mau memandang wajahku saat kita bertemu."
"Maafkan aku, aku terlambat menyadari jika kau ternyata sangat mencintaiku, dan saat aku menyadari itu kau sudah pergi."
"Darimana kau bisa tahu semua itu, Bella?"
"Dari kardus yang kau buang di kontrakanmu."
"Ja.. Jadi kau juga datang ke kontrakanku?"
"Ya, dan aku masih menyimpan kardus itu di kamarku." jawab Bella sambil tersenyum yang membuat Arvin tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha. Jadi kau membaca semua yang kutuliskan untukmu?"
"Tentu saja, bukankah selama ini kau tidak pernah bisa menulis surat tapi kenapa tiba-tiba kau bisa menulis seperti itu?" kata Bella sambil terkekeh.
"Hahahaha karena itulah isi perasaanku yang sebenarnya padamu, sangat mudah menuliskan perasaan yang kurasa karena aku sangat mencintaimu."
"Gombal." bisik Bella di telinga Arvin yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah rumah mewah berlantai tiga dengan halaman yang sangat luas.
TIN TIN
__ADS_1
Arvin pun membunyikan klakson, Bella kemudian memanggil salah seorang petugas security dengan melambaikan tangannya, lalu seorang petugas security itu pun mendekat ke arah mereka.
"Selamat malam Nyonya Bella."
"Selamat malam Pak Rahman, perkenalkan ini suami saya Arvin."
"Selamat malam Tuan Arvin."
"Selamat malam Pak Rahman."
"Pak Rahman, anda lihat ada mobil di belakang kami?"
"Iya Nyonya Bella."
"Jika kau melihat siapa yang ada di dalam mobil tersebut tolong jangan katakan apapun pada orang luar, tolong jaga rahasia ini atau kau akan kupecat jika rahasia ini sampai bocor."
"Baik Nyonya Bella." kata security tersebut lalu membukakan gerbang otomatis di rumah itu untuk mobil Bella dan mobil milik Arvin yang ada di belakang mereka.
Tanpa mereka sadari, tiga pasang mata di dalam sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah Bella pun tampak mengamati mobil milik Bella dan mobil di belakang mereka yang masuk ke dalam rumah tersebut.
"Bagaimana? Apa ada yang mencurigakan dari Bella?"
"Sepertinya tidak, laki-laki yang ada di samping Bella bukan Gibran, sepertinya suami Bella, salah seorang mata-mata kita mengatakan jika tadi siang Bella melangsungkan pernikahan di sebuah desa terpencil yang hanya dihadiri oleh keluarga."
"Mungkin itu teman-temannya atau keluarganya yang akan mengadakan pesta pernikahan Bella, anda lihat sendiri kan komandan mobil yang ada di belakang mobil Bella bukanlah mobil mewah, hanya mobil jenis MPV biasa, Gibran tidak akan mau menaiki mobil seperti itu." jawab salah seorang polisi yang ada di dalam mobil tersebut.
"Jadi bagaimana?"
"Tidak ada aktivitas mencurigakan dari Bella karena dia sedang sibuk dengan pernikahannya, lebih baik kita mencari Gibran di tempat lain. Sepertinya Gibran juga tidak mungkin memberitahu Bella dimana dia saat ini berada."
"Baik jika kesimpulanmu seperti itu, ayo kita pergi dari sini." kata polisi tersebut lalu mengendarai mobilnya menjauhi rumah Bella.
Setelah melihat mobil polisi tersebut pergi, salah seorang laki-laki yang mengenakan atribut ojek online yang sedang berpura-pura duduk menunggu penumpang di samping mobil polisi itu lalu tampak menelpon seseorang.
"Beres bos mereka sudah pergi." kata orang tersebut pada seseorang di ujung sambungan telepon.
"Baik, tapi kau dan anak buahmu harus tetap berjaga di sekeliling rumah Bella, pastikan keamanan di sekitar rumah ini." jawab orang tersebut di ujung sambungan telepon.
"Siapa Gibran?" tanya Riana saat mereka berjalan di halaman menuju ke dalam rumah Bella.
"Anak buahku, tadi ada polisi yang berjaga di sekitar rumah ini."
__ADS_1
"LALUUUU?" teriak Riana dengan sedikit panik.
"Kau tenang saja Riana, mereka sudah pergi, kau tahu sendiri kan aku memiliki anak buah yang selalu menjaga keamananku."
"Iya Gibran."
"Apa kau takut kehilangan diriku saat ini?" tanya Gibran pada Riana yang membuat Riana tersenyum.
"Sangat takut Gibran." kata Riana kemudian memeluk Gibran dan menciumi tubuhnya.
"Sabar Riana, kita lakukan di dalam." kata Gibran sambil tertawa terbahak-bahak.
πππππ
Evan mengendarai mobilnya dengan perasaan begitu kacau. "Aku harus memastikan keadaan ini, apa yang sebenarnya telah terjadi pada Bella. Bukankah besok dia sudah berangkat ke kantor? Jika besok dia sudah berangkat ke kantor pasti saat ini dia sudah ada di rumah. Ya, aku harus bertemu dengan Bella secepatnya." kata Evan sambil mengendarai mobilnya menuju ke rumah Bella.
Beberapa saat kemudian, dia pun sudah sampai di rumah tersebut. Dia lalu membunyikan klakson mobilnya, namun beberapa kali dia membunyikan klakson, petugas security yang menjaga gerbang itu tidak kunjung membukakan gerbang tersebut.
"Apa mereka tuli?" gerutu Evan.
Akhirnya dia pun keluar dari mobil tersebut lalu berjalan ke arah pos security.
"Kenapa kalian tidak membukakan pintu untuk saya? Padahal sudah berulangkali saya membunyikan klakson mobil saya."
"Maaf Tuan, ini perintah Nyonya Bella."
"Perintah Bella? Apa maksudmu? Bukankah kau tahu jika aku juga salah satu teman dekat Bella?"
"Ya tapi ini benar-benar perintah dari Nyonya Bella karena saat ini dia sedang tidak ingin diganggu."
'Tidak ingin diganggu? Kenapa sikap Bella semakin aneh seperti ini? Apa karena sudah kembali pada laki-laki itu dia jadi tidak ingin bertemu denganku?' gumam Evan di dalam hati.
"Pak, tolong anda katakan pada Bu Bella jika aku ingin bertemu dengannya. Dia pasti mau bertemu denganku."
"Maaf Tuan tidak bisa, Nyonya Bella tidak ingin diganggu karena dia sedang ingin menghabiskan waktu dengan suaminya."
Perasaan Evan pun begitu kacau mendengar perkataan security tersebut. Tubuhnya pun mundur beberapa langkah.
"Suami?" tanya Evan lagi.
"Ya, hari ini Bu Bella baru saja menikah." jawab security tersebut yang diabaikan begitu saja oleh Evan. Di lalu masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"BRENGSEK... BRENGSEK HANCUR SUDAH SEMUA RENCANAKU!!!" teriak Evan di dalam mobil dengan begitu menggema.