Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Selamat Tinggal


__ADS_3

Evan terus menerus menghubungi Bella namun selalu diindahkan oleh Bella karena dia belum siap berbicara dengan Evan, perasaan Bella kini begitu berkecamuk. Namun karena Evan terus menerus menghubunginya, akhirnya Bella pun mengangkat panggilan telepon itu.


[Halo, kamu dimana sayang?]


[Aku masih di dalam, Evan.]


[Apa kau belum selesai? Aku sudah menunggumu di depan.]


[Kau sudah di depan?]


[Ya, aku sudah menunggumu di depan.]


[Baik, aku ke depan sekarang.] jawab Bella kemudian menutup panggilan telepon itu. Dia lalu bergegas bangun dari tempat duduknya, lalu berjalan ke arah halaman parkir di depan rumah sakit. Sepanjang perjalanan keluar dari rumah sakit, Bella berusaha mencoba mengendalikan perasaannya agar tidak tampak sedih, dia juga terlebih dahulu merapikan penampilannya agar tidak tampak berantakan sehingga Evan tidak curiga padanya.


"Apa kau sudah lama menunggu, Evan?" tanya Bella saat sudah masuk ke dalam mobil.


"Belum, aku ingin mengajakmu makan siang."


"Oh."


"Bagaimana hasil pemeriksaan medical check up mu sayang?"


"Oh.. Itu.. baik, semua baik-baik saja."


"Lalu apa yang menyebabkanmu pusing?"


"Aku hanya kelelahan."


"Benar kau tidak sedang sakit apapun?"


"Tidak Evan, kau tenang saja."


"Syukurlah." jawab Evan sambil membelai wajah Bella.


"Kita pergi sekarang?"


"Ya."

__ADS_1


Mereka lalu pergi ke sebuah restoran yang berada tidak jauh dari rumah sakit tersebut. Bella pun begitu terkejut ketika Evan memilih untuk makan siang di restoran tersebut.


"Kita mau makan siang disini?"


"Iya Bella, bukankah kau tahu masakan di sini sangat enak? Aku ingin kau makan yang banyak agar bisa sehat kembali." kata Evan sambil terkekeh.


Bella pun tersenyum. "Iya Evan."


'Oh tidak, bukan itu maksudku Evan. Hanya saja restoran ini adalah restoran favoritku bersama Arvin dulu. Datang ke restoran ini membuatku teringat akan semua masa laluku dengannya. Bagaimanapun juga Arvin adalah cinta pertamaku, apalagi saat ini aku sedang mengandung darah dagingnya.' gumam Bella dalam hati sambil keluar dari dalam mobil tersebut.


Dia lalu melangkahkan kakinya dengan perlahan masuk ke dalam restoran tersebut. Hatinya seakan begitu teriris saat memasuki restoran tersebut dan melihat meja favorit tempat dia sering menghabiskan waktu bersama Arvin dulu.


"Evan, aku ke toilet sebentar ya."


"Iya sayang."


Bella pun bergegas masuk ke dalam toilet, dia lalu menangis sejadi-jadinya dengan sedikit berteriak. "TIDAK! KENAPA SEMUA INI TERJADI PADAKU!" teriak Bella di depan wastafel sambil membasuh wajahnya. Air mata yang bercampur dengan air untuk membasuh mukanya pun kini memenuhi wajah Bella.


"Bella tenangkan dirimu, tenangkan dirimu meski hanya sebentar saja." kata Bella saat memandang wajahnya di depan cermin.


Akhirnya dia mengambil tissue lalu menghapus semua air yang membasahi wajahnya kemudian mengoleskan make up tipis agar matanya tidak terlihat sendu.


"Kau cantik sekali, Bella." kata Evan saat Bella kini duduk di sampingnya.


"Terimakasih Evan." jawab Bella mencoba untuk tetap tersenyum dengan manis meskipun kini perasaannya begitu berkecamuk.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata kini sedang melihat mereka berdua.


"Bella tampaknya kau begitu bahagia dengan lelaki itu, bahkan kau membawanya ke tempat kenangan kita dulu, mungkin kau memang sudah benar-benar melupakan semua tentang kita, sehingga tempat ini pun tak berarti lagi bagimu."


Melihat Evan yang kini membelai wajah Bella, perasaan Arvin pun semakin tak menentu, dia lalu bangkit dari tempat duduknya.


'Bella, kesempatan bagiku untuk kembali padamu sepertinya memang benar-benar telah tertutup, mulai saat ini aku pun akan mengubur semua kenangan tentang kita. Aku akan menjauh dari hidupmu untuk selama-lamanya Bella karena berada di dekatmu hanya akan membuatku merasa sakit.' gumam Arvin di dalam hati lalu pergi meninggalkan restoran itu.


"Selamat tinggal Bella, mulai hari ini aku tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi, aku akan pergi sejauh mungkin dari sini. Berbahagialah." kata Arvin sambil tersenyum, namun tanpa dia sadari air mata pun mulai membasahi wajahnya.


Dia lalu pulang ke sebuah rumah kontrakan yang beberapa tahun ini dia tinggali. "Aku akan pergi sejauh mungkin untuk mengubur semua kenangan ini, aku akan melupakanmu untuk selama-lamanya dan memulai hidup baruku serta menghapus semua tentangmu." kata Arvin, dia lalu menghapus semua foto-foto Bella yang ada di dalam ponselnya lalu membuang sim card yang ada di ponselnya tersebut.

__ADS_1


'Selamat tinggal masa lalu, aku akan memulai kehidupan baruku tanpamu di hatiku.' gumam Arvin sambil keluar dari rumah kontrakan itu dengan membawa seluruh barang-barangnya.


🌿🌸🌿🌸🌿🌸


"Evan, bisakah kita pulang sekarang? Aku ingin beristirahat."


"Tentu saja Bella sayang, kau memang harus banyak beristirahat."


"Lagipula, nanti kau juga ada meeting lagi kan?"


"Ya, kau benar satu jam lagi aku ada meeting."


"Ya, sebaiknya kita pulang sekarang."


"Iya Bella."


Evan dan Bella pun kemudian keluar dari restoran tersebut. Evan kemudian mengantar Bella pulang ke rumahnya, lalu dia kembali lagi ke kantor.


"Kau istirahat, jaga kesehatanmu."


"Iya Evan."


"Nanti setelah pulang kantor aku ke sini untuk menemanimu lagi."


"Iya sayang, kau hati-hati."


"Ya." kata Evan kemudian mengecup kening Bella.


Bella pun kemudian turun dari mobil Evan, dia lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya kemudian tampak mondar-mandir di dalam kamar.


"Apa yang harus kulakukan? Apakah sebaiknya aku jujur saja pada Evan jika aku sedang mengandung anak Arvin? Oh tidak bagaimana jika dia marah padaku? Bagaimana jika dia meninggalkanku?" gerutu Bella.


"Tapi bagaimanapun juga ini adalah darah daging Arvin, bukankah sekarang Arvin sudah berubah dan menyadari semua kesalahannya dulu? Apakah sebaiknya aku bicara dengan Arvin saja? Tapi bagaimana dengan Evan? Oh kenapa hidupku begitu rumit?"


"Tapi kenapa semenjak malam itu Arvin tidak pernah menemuiku lagi bahkan sekedar berkirim pesan? Padahal biasanya dia selalu tiba-tiba datang menghampiriku dimanapun aku berada, lalu dia juga sering mengirim pesan padaku meskipun tidak pernah kubalas." gerutu Bella sambil mengigit bibirnya.


Dengan dipenuhi perasaan yang begitu bimbang, Bella lalu mengambil surat milik Arvin yang dia tinggalkan untuknya setelah mereka bercinta. Bella lalu membaca kembali surat tersebut dan berulang-ulang membaca kalimat terakhir surat tersebut.

__ADS_1


Sayangnya aku terlalu bodoh hingga penyesalan ini pun datang terlambat, aku baru merasakan sakitnya mencintai orang yang tidak mencintaiku, tapi kuanggap ini adalah hukuman untukku yang kini terpenjara akan rasa cintaku padamu.


"Oh tidak, aku tahu sekarang kenapa dia tidak pernah menghubungiku lagi, di surat ini disebutkan jika dia menyadari jika aku sedang mencintai seseorang, jadi Arvin memilih mundur dan menjaga jarak denganku. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa membicarakan semua ini? Apakah sebaiknya aku menghubunginya saja?" kata Bella sambil melihat sebuah nama di layar ponselnya.


__ADS_2