Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Dendam


__ADS_3

"Gibran, tolong lepaskan aku!" teriak Rachel. Jantungnya semakin berdegup kencang karena Gibran kini semakin mendekatkan wajahnya. Saat bibir Gibran hampir saja menyentuh bibir Rachel di saat itu pula Milan dan Bella pun datang ke apartemen Milan dan melihat Gibran dan Rachel.


"Apa-apaan ini?" bentak Milan. Bella pun menyunggingkan senyumnya. Rachel dan Gibran pun seketika kaget mendengar teriakkan Milan. Gibran lalu melepaskan cengkraman tangannya pada Rachel dan sedikit menjauhi Rachel.


"Bukankah sudah kubilang padamu jika Rachel tidaklah sebaik yang kau pikirkan Milan!" sahut Bella sambil tersenyum kecut. "Tidak Milan, tolong percaya padaku. Aku tidak melakukan apapun dengan Gibran, dia tiba-tiba datang ke apartemen ini lalu merayuku."


"Enak saja kau berkata seperti itu Rachel, bukankah kau yang mengundangku ke apartemen ini karena kau merindukanku?"


"Milan, maaf jika kau harus melihat semua ini. Tapi inilah kenyataan yang sebenarnya jika aku dan Rachel sebenarnya memiliki hubungan di belakangmu."


"BOHONG!!!" teriak Rachel.


"Kau jangan berpura-pura lagi Rachel, aku sudah tidak bisa terlalu lama menutupi semua ini karena Milan adalah sahabatku."


Mendengar perkataan Gibran dan Rachel, Milan hanya bisa terdiam sesekali wajahnya menatap Rachel yang kini mulai menangis kemudian berganti menatap Gibran dan Bella yang masih termenung. Perasaannya terasa begitu berkecamuk. Melihat Milan yang kini terlihat mulai bimbang, Bella pun mendekat pada Milan.


"Apa semua bukti yang kuperlihatkan padamu belum cukup Milan? Bukankah kau sudah melihat dengan mata kepalamu sendiri jika Rachel dan Gibran selama ini telah membodohimu."


"Tidak Milan, sungguh aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Gibran!" teriak Rachel sambil menangis.


"Milan, berfikirlah dengan akal sehatmu mana ada wanita baik-baik yang mau merelakan tubuhnya untuk sebuah taruhan dalam pesta lajang!"


"Maaf Milan aku melakukan semua itu karena terpaksa untuk membiayai operasi ibuku." kata Rachel sambil terisak.


"Kalian semua memang sama saja! Sekarang kalian semua pergi dari sini!" bentak Milan.


"Tapi Milan, sungguh aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Gibran." kata Rachel sambil bersimpuh di depan Milan.


"PERGI!" teriak Milan.


"Bagus Milan, kau memang harus mengusir Rachel dari hidupmu!" sambung Bella.

__ADS_1


"KAU JUGA PERGI BELLA!!! PERGI KALIAN SEMUA DARI SINI!!"


Perlahan Rachel pun mulai bangkit, dia lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu. Namun saat dia berdiri di ambang pintu seseorang berdiri di hadapannya. "Tunggu dulu Pak Milan, anda harus mendengar penjelasan saya."


Mendengar sebuah suara, Milan pun kemudian membalikkan tubuhnya. Bella dan Gibran yang masih ada di dalam apartemen itu pun kemudian mulai melihat ke arah sumber suara tersebut. Bella pun kemudian ikut tersenyum saat melihat yang datang adalah Dinda.


'Pasti Dinda datang ke sini untuk ikut membantuku,' kata Bella dalam hati sambil tersenyum menyeringai. Dinda pun kemudian masuk ke dalam apartemen Milan sambil menarik tangan Rachel. "Tunggu Pak Milan. Rachel tidak bersalah, dia tidak seperti yang mereka tuduhkan," ucap Dinda sambil melirik pada Bella yang kini terlihat begitu marah saat mendengar kata-katanya.


"Hei untuk apa kau ikut campur! Kami tidak ada urusannya denganmu!" bentak Bella pada Dinda.


"Benarkah kita tidak pernah ada urusan Nyonya Bella? Kita bahkan belum menyelesaikan urusan kita!" teriak Dinda dengan tatapan begitu sengit. Milan pun kemudian menatap Dinda. "Apa yang ingin kau katakan Dinda?"


"Pak, hari ini mereka telah menjebak Rachel. Nyonya Bella sengaja datang ke kantor Pak Milan untuk menghasut Bapak sedangkan Tuan Gibran datang ke sini untuk merayu Rachel agar seolah-olah mereka memiliki hubungan di belakang Bapak."


"Bohong Milan, Dinda adalah teman kerja Rachel! Pasti dia sudah berkomplot dengan Rachel untuk memojokkan kami!"


"Saya berkomplot dengan Rachel? Anda tidak salah berkata seperti itu Nyonya Bella? Bukankah anda yang berkomplot dengan saya untuk menjatuhkan harga diri Rachel? Bahkan Pak Milan pun sudah tahu hal ini."


"Oh jadi anda menanyakan bukti pada saya? Baiklah sekarang dengarkan ini baik-baik," jawab Dinda lalu mengambil ponsel di tasnya.


"Pak Milan, sekarang dengarkan ini!" Dinda pun memperdengarkan sebuah rekaman suara di ponsel Dinda saat Bella tengah menelepon Gibran di sampingnya beberapa saat sebelum Bella menemui Milan.


Milan pun begitu marah mendengar percakapan Bella dan Gibran. Matanya menatap tajam pada Bella dan Gibran.


"Berani-beraninya kalian mempermainkan aku!" teriak Milan kemudian mendekat pada Gibran dan Bella. Dia lalu melayangkan bogem mentahnya pada Gibran. Gibran yang terkejut mendapat serangan mendadak dari Milan pun berusaha melawan namun Milan dengan begitu bertubi-tubi menghajarnya tanpa ampun hingga kini dia terkapar. Bella pun kemudian mendekat pada Gibran yang kini terkapar tidak berdaya.


"Selama ini sebenarnya aku sudah curiga akan kejadian malam itu! Namun aku berusaha mengabaikan tanda tanya yang ada di hatiku karena aku menganggap malam itu sebagai suatu anugerah karena bisa bertemu dengan Rachel. Tapi kini aku tahu ternyata Rachel sebenarnya juga telah diperalat oleh kalian berdua! Dasar manusia licik dan biadab!"


"Milan, sungguh kami tidak seperti yang kau pikirkan."


"Sudah cukup Bella, kau tidak perlu membela dirimu! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah percaya pada kata-katamu. Sekarang pergi kalian berdua dari sini sebelum aku berubah pikiran untuk menghabisi kalian!"

__ADS_1


"Tapi Milan...."


"Sudah Bella, lebih baik kita pergi dari sini." kata Gibran yang kini sudah berdiri di sampingnya, dia kemudian menarik tangan Bella untuk keluar dari apartemen Milan.


"Awas kamu, tunggu pembalasanku!" teriak Bella saat melewati Dinda.


"Kau tidak perlu takut pada ancamannya, Dinda karena kau dalam perlindunganku," kata Milan sambil melirik Bella.


"Terimakasih banyak Dinda."


"Iya Pak Milan, saya permisi kembali ke kantor lagi." kata Dinda.


Milan pun kemudian mendekati Rachel yang kini masih menangis.


"Maafkan aku Rachel, maafkan aku. Maaf aku hampir saja terpengaruh pada mereka dan tidak percaya padamu."


Rachel pun kemudian mengangguk.


"Ayo istirahat, kau masih sakit kan?" kata Milan sambil menuntun Rachel masuk ke dalam kamar.


***


"BRENGSEK!!!" umpat Bella di dalam mobil saat perjalanan pulang.


"Gara-gara Dinda semua rencana kita berantakan!" kata Bella lagi.


"Memangnya kau ada urusan apa dengan Dinda, sampai dia begitu dendam padamu."


"Emhh.. E... Itu..."


"Itu semua karena kesalahmu Bella! Kau pasti juga sudah bertindak ceroboh hingga membuat Dinda dendam padamu!" teriak Gibran yang membuat Bella terdiam.

__ADS_1


'Brengsek lihat saja, selama nafas ini masih berhembus aku tidak akan pernah berhenti untuk memisahkan kalian berdua!!' batin Bella diiringi hembusan nafas yang begitu keras menahan semua rasa emosi yang berkecamuk di hatinya.


__ADS_2