Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Kembali Padaku


__ADS_3

"Ra, apa ini? Kenapa ada bekas jahitan di perutmu?"


"Oh kau tidak tahu ada bekas jahitan di perutku? Apa saat dulu aku bersamamu belum ada bekas jahitan itu, Milan?"


"Belum Ra. Apakah kau pernah menanyakan ini pada Gibran?"


"Ya, dia mengatakan padaku jika dulu aku pernah sakit usus buntu dan bekas jahitan itu adalah bekas jahitan operasi usus buntu yang pernah kulakukan."


Milan pun bangun kemudian duduk di atas ranjang. "Astaga." kata Milan sambil mengusap kasar wajahnya.


"Ada apa Milan? Kenapa kau berubah setelah mengetahui ada bekas jahitan di perutku? Apa kau jadi tidak tertarik lagi padaku?" tanya Rachel sambil mengigit bibirnya.


"Bukan Ra, bukan itu. Apapun keadaanmu aku tetap mencintaimu. Tahukah kamu, saat mengalami kecelakaan itu kau sedang hamil tujuh bulan."


Rachel pun kemudian menutup mulutnya. "Milan, mungkinkah bekas jahitan ini adalah bekas jahitan operasi sesar?"


"Ya, kemungkinan itu adalah operasi sesar."


"Lalu dimana anak kita Milan? Apakah dia masih hidup atau sudah meninggal?" kata Rachel sambil terisak.


"Entahlah aku juga tidak tahu, aku dulu berpikir jika anak kita sudah meninggal. Tapi semua kemungkinan masih bisa terjadi Ra." kata Milan sambil memeluk Rachel yang masih terisak.


"Sudah, jangan bersedih. Kita akan menyelidiki semua ini, besok pagi kita akan pergi ke Bandung untuk menyelidikinya."


"Tapi apa itu tidak berbahaya?"


"Tidak, tidak apa-apa Ra. Mulai saat ini aku tidak akan menutupi semua ini lagi, sudah cukup kita berpisah. Kau harus kembali padaku, bukankah kau masih ingat saat kau akan pulang dari apartemenku aku mengatakan padamu jika saat kita bertemu lagi aku tidak akan pernah melepasmu."


"Iya."


"Aku akan memenuhi janjiku padamu, kau tidak akan pernah kubiarkan kembali pada Gibran, mulai saat ini dan selamanya kau harus selalu ada di sampingku."


"Iya Milan, aku mengerti. Tapi bagaimana dengan anak kita? Kita harus mencari tahu tentang dia, jika dia masih hidup aku ingin tahu dimana dia berada sedangkan jika dia sudah meninggal, aku ingin tahu dimana dia dimakamkan." kata Rachel sambil terus terisak.


"Iya Ra, kau tenang saja. Besok kita akan ke Bandung, bisakah kau tunjukkan dimana rumah sakit tempat kau dirawat dulu saat kecelakaan. Kau masih ingat rumah sakit itu kan?"


"Tentu saja aku masih ingat, Milan. Aku dirawat di rumah sakit itu selama dua bulan."


"Bagus, besok pagi kita akan ke Bandung. Sekarang kau istirahat saja."


"Iya Milan." jawab Rachel kemudian merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang.


'Aku harap kau masih hidup, Nak.' kata Rachel dalam hati sambil memejamkan matanya, namun air mata kembali mengalir dari sudut matanya."


"Kau kenapa masih menangis Ra?"


"Milan, tanpa kusadari aku ternyata telah mengalami kejadian yang begitu berat, dan selama ini aku telah begitu bodoh dibohongi oleh Gibran dan Bella. Mereka benar-benar telah mempermainkan hidup kita, Milan. Bahkan anak kita pun menjadi korbannya."

__ADS_1


"Iya Ra, aku tahu itu. Hanya saja aku belum bisa bertindak lebih jauh sebelum hasil tes DNA itu keluar. Tapi kau tenang saja, aku memiliki sedikit rencana untuk mereka?"


"Rencana? Rencana apa Milan?"


"Rencana untuk mempermainkan mereka terlebih dahulu sebelum mereka merasakan dinginnya jeruji besi." kata Milan sambil tersenyum menyeringai.


🍀🍀🍀🍀🍀


"Apa ini tidak terlalu mencurigakan Gibran? Bukankah ini sudah malam? Apa tidak sebaiknya besok saja?"


"Kau benar-benar bodoh, Bella. Justru ini waktu yang tepat untuk mengambil Arsen dari rumah sakit tersebut."


"Jadi, kau akan menculiknya?"


"Tentu saja, aku akan menculik anak itu dan kita akan membuangnya sejauh mungkin."


"Kau tidak jadi membunuhnya?"


"Tidak Bella, itu terlalu berbahaya. Jika mayat bayi itu ditemukan, maka polisi akan menyelidiki orang tua dari bayi tersebut dan jika sampai polisi tahu dia berasal dari panti asuhan, maka itu akan sangat menyudutkan kita karena bagaimanapun juga aku adalah wali dari Arsen dan berniat mengambilnya kembali. Semua yang telah kita lakukan bisa terbongkar Bella."


"Iya Gibran, kau benar, akan sangat berbahaya bagi kita. "


"Ya, karena itulah malam ini kita harus menculik dan membuangnya sejauh mungkin."


Bella pun kemudian mengangguk. Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di sebuah rumah sakit tempat Arsen dirawat.


"Gibran, apakah kau tahu bagaimana wajah Arsen?"


"Lalu bagaimana kita bisa mengenali Arsen di rumah sakit ini?"


"Kau bodoh sekali Bella, bukankah kita bisa menanyakannya pada petugas medis yang ada di sini."


"Kau benar juga Gibran. Lalu kita harus kemana sekarang? Bukankah kita tidak tahu dimana Arsen dirawat?"


Gibran pun kemudian menepuk keningnya. "Tentu saja di ruang perawatan anak-anak, Bella." gerutu Gibran sambil melirik pada Bella.


'Dasar wanita manja, yang kau bisa hanya pergi ke salon tapi otakmu tidak pernah kau gunakan.' kata Gibran dalam hati.


"Kenapa kau diam saja dan malah menatapku seperti itu? Ayo kita ke sana sekarang." kata Bella sambil menarik tangan Gibran.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di kamar perawatan anak. Bella kemudian berjalan ke arah resepsionis yang ada di ruangan tersebut. Tampak ada dua orang perawat dan seorang dokter yang sedang berada di bagian resepsionis tersebut.


"Permisi." kata Bella saat berada di bagian resepsionis, sedangkan Gibran berdiri tak jauh dari Bella.


"Ya, Nyonya ada yang bisa saya bantu?" jawab salah seorang perawat.


"Bisakah anda menunjukkan kamar perawatan baby Arsen?"

__ADS_1


"Oh Arsen ada di kamar nomer lima. Itu kamarnya." jawab perawat tersebut.


"Terimakasih." kata Bella.


Namun saat Bella akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.


"Bella."


Bella pun kemudian membalikkan badannya.


"A.. Anya."


"Hei, Bella. Ini sudah malam, apa yang kau lakukan di sini?"


"Oh, aku akan mengunjungi salah seorang keponakanku yang sedang sakit."


"Oh jadi keponakanmu dirawat di ruangan ini? Siapa namanya? Kebetulan malam ini aku tugas berjaga disini." kata Anya sambil tersenyum.


"Oh.. O.. Lupakan saja Nya, aku tidak jadi mengunjungi keponakanku. Ini sudah malam pasti dia sudah tidur." kata Bella dengan begitu gugup.


Anya pun hanya bisa menatap tingkah laku Bella yang terasa begitu aneh.


"Nya, aku pulang dulu ya." kata Bella sambil tersenyum, kemudian pergi dari ruangan itu sambil menarik tangan Gibran.


"Bella, apa-apaan ini? Mengapa kau malah pergi dari ruangan itu!" teriak Gibran saat mereka sudah ada di luar ruang perawatan anak-anak.


"Gibran, ini sangat berbahaya! Tahukah kau tadi ada dokter yang menyapaku?"


"Ya, memangnya dia siapa sampai membuatmu panik seperti ini?"


"Gibran, dia Anya. Dia saudara sepupu Milan yang baru saja melangsungkan pernikahan belum lama ini."


"Jadi dia dokter di rumah sakit ini?"


"Ya."


"Ini benar-benar gawat." kata Gibran sambil mengusap kasar wajahnya.


"Lalu kita harus bagaimana, Gibran?"


"Kita ke rumah sakit ini lagi besok, saat Anya sedang tidak bertugas disini."


"Iya Gibran. Jadi sekarang kita pulang ke rumah?"


"Tentu saja Bella, apa kau mau menginap di rumah sakit ini?" gerutu Gibran sambil berjalan ke arah mobilnya.


'Breng*ek! Hari ini semua rencanaku gagal!' umpat Gibran dalam hati.

__ADS_1


Note :


Terimakasih readers yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ya, love you all 😘❤️


__ADS_2