Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Terkepung


__ADS_3

"Oh tidak, ini benar-benar jebakan Celine. Kita sudah masuk ke dalam perangkap mereka." kata Evan sambil menelan ludahnya dengan kasar. Kini tampak satu buah mobil MPV pun berhenti di belakang mereka.


"Kita terkepung Celine."


Celine pun kini terlihat begitu pucat.


"Lalu kita harus bagaimana? Apakah kita harus menyerah begitu saja?"


"Entahlah, aku pun tidak tahu harus bagaimana. Mereka ternyata lebih licik dibandingkan dengan yang aku pikirkan."


Milan dan Arvin pun sudah keluar dari dalam mobil, kini mereka berdiri di belakang mobil yang mereka naiki. Arvin pun menunjuk wajah Evan yang masih ada di dalam mobil serta memberikan isyarat agar dia turun dari mobil miliknya.


"Sial, kita benar-benar telah dijebak, yang menaiki mobil tersebut bukanlah Rachel dan supirnya tapi Milan dan Arvin. Dasar brengsek!" umpat Evan sambil mengusap kasar wajahnya.


"Kau kita harus bagaimana?"


"Kita tidak punya pilihan lagi selain mengikuti perintah mereka."


"Jadi maksudmu, kita harus turun dan menyerahkan diri?"


"Ya, hanya itu yang bisa kita lakukan."


Baru saja Evan menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba tiga orang berperawakan besar mengetuk kaca jendela mobil mereka dan mengisyaratkan untuk turun.


"Oh tidak Evan, aku takut. Aku takut jika kita akan dipenjara, Evan." kata Celine yang mulai menangis.


"Tolong kau jangan menangis di saat seperti ini, Celine." kau akan semakin menambah bebanku saja."


"Tapi aku tidak mau masuk penjara, Evan."


Pintu kaca mobil mereka pun diketuk kembali.


"Evan kita harus bagaimana?"


"Sebaiknya kita turun sekarang Celine. Tidak ada pilihan lain!"


"Astaga." kata Celine sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ayo kita turun." kata Evan sambil membuka pintu mobilnya.


Perlahan Celine pun ikut turun mengikuti Evan. Mereka kemudian berdiri di depan mobil mereka tepat di hadapan Milan dan Arvin. Melihat Evan dan Celine yang kini berdiri di hadapan mereka. Arvin dan Milan pun saling berpandangan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kita sudah lama tidak bertemu, Evan." kata Arvin sambil tersenyum sinis.


"Dasar bedebah, kalian berdua benar-benar breng*ek!" kata Evan. Dia kemudian mendekat ke arah Arvin dan Milan sambil melayangkan tinjunya pada mereka. Tapi Arvin bergerak cepat, dia menahan pukulan tersebut lalu menghempaskan tubuh Evan ke atas tanah. Milan lalu memberi kode pada anak buahnya untuk meringkus Evan. Tiga orang preman tersebut kemudian mendekat ke arah Evan lalu mencekal tubuhnya dan mengikat tubuh Evan dengan menggunakan sebuah tali.


"Hei, lepaskan aku! Kalian berdua memang benar-benar BRE*GSEK!" kata Evan saat tiga orang preman tersebut sudah selesai mengikatnya.


"Lalu bagaimana dengan teman wanitanya bos?"


Mendengar perkataan preman tersebut, Celine pun langsung berteriak.


"Tidak! Jangan pernah sentuh aku karena aku tidak akan melarikan diri, aku tidak rela tubuh mulusku disentuh oleh orang seperti kalian, nanti tubuhku bisa gatal!" teriak Celine pada tiga orang preman yang mulai mendekat ke arahnya.


"Dasar sombong!" gerutu ketiga preman tersebut.


"Wanita itu tidak usah kalian ikat karena dia tidak akan melarikan diri." kata Milan pada anak buahnya.


"Baik bos."


Evan pun kini semakin menatap tajam ke arah Milan dan Arvin.


"DASAR BRE*GSEK KALIAN BERDUA! KALIAN HANYA BISA BERMAIN KROYOKAN SEPERTI INI!"


Celine pun menelan ludahnya dengan kasar.


"Jadi, kita akan masuk penjara?" bisik Celine pada Evan.


Melihat Celine yang berbisik, Milan pun tersenyum.


"Kau kenapa, Celine? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" tanya Milan sambil menyunggingkan sebuah senyuman pada Celine.


"Dasar laki-laki kurang ajar kau Milan! Kau telah menipuku mentah-mentah!" kata Celine sambil menatap Milan dengan tatapan tajam.


"Aku hanya melakukan apa yang dilakukan oleh Evan pada Bella, bukankah itu sama saja Evan?" tanya Milan sambil mengerutkan keningnya pada Evan.


"Kalian benar-benar licik!"


"Sebelum berkata seperti itu lebih baik kau bercermin terlebih dulu, Evan. Kau juga sudah sangat licik mempermainkan perasaan Bella, kau berpura-pura jatuh cinta padanya lalu memanfaatkan situasi hanya untuk kepentingan pribadimu! Lalu kau juga kan yang membuat konspirasi agar Gibran ditangkap polisi saat sedang menunggu istrinya melahirkan agar kau bisa leluasa menguasai seluruh akses data di perusahaan milik Gibran?" kata Arvin sambil tersenyum kecut.


"Untung saja aku bertemu dengan Bella saat anak buahmu akan menculik anaknya." tambah Milan.


"Oh, jadi semua rencanaku hancur itu karenamu, Milan? Jadi kau juga yang sudah menyembunyikan Amran dan melumpuhkan semua anak buahku?"

__ADS_1


"Bisa dibilang seperti itu." kata Milan sambil tersenyum kecut.


"Kau benar-benar jahat Milan, kau telah mempermainkan perasaanku."


Celine pun kini menatap Milan dengan tatapan sinis. Arvin kemudian menatap Milan yang tersenyum disertai raut wajah yang sedikit merasa bersalah.


"Maafkan aku Celine, aku terpaksa melakukan ini karena hanya inilah satu-satunya cara untuk bisa melumpuhkan kalian berdua."


"Kau benar-benar licik! Kau benar-benar telah mempermainkan perasaanku, apa kau tahu bagaimana sakitnya diriku saat ini karena sikapmu yang telah menipuku mentah-mentah?"


"Maaf Celine, sebenarnya aku tidak pernah tertarik pada wanita selain istriku, dan aku sangatlah mencintainya. Sekali lagi maafkan aku Celine."


"Celine, kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau telah jatuh cinta pada Milan? Bukankah kau adalah kekasih Evan? Apa kau juga menggunakan perasaanmu saat Milan mendekatimu?" tanya Arvin sambil mengerutkan keningnya.


Celine pun kini terlihat gugup dan salah tingkah, Evan pun kini melirik padanya sambil menatapnya dengan tatapan tajam.


"Celine!" bentak Evan.


"Ti.. Tidak Evan, aku tidak pernah mencintai Milan. Aku hanya ingin bersenang-senang dan mendapatkan banyak uang dari lelaki kaya seperti dirinya." jawab Celine dengan begitu gugup.


Arvin pun tersenyum.


"Tapi raut wajahmu tidak bisa berbohong jika kau sangatlah tertarik pada Milan." jawab Arvin sambil terkekeh yang membuat Evan semakin naik pitam.


"Lebih baik kau diam saja Arvin! Cepat katakan apa yang kalian inginkan dari kami berdua!"


Arvin dan Milan pun berpandangan sambil tersenyum.


"Milan, kau dengar dia masih menanyakan hal seperti ini. Apa kau tidak sadar akan kesalahan yang telah kau lakukan?"


"Kesalahan?" kata Evan sambil tersenyum kecut.


"Jadi kau belum sadar juga?"


Evan pun tersenyum kemudian menatap Arvin dengan tatapan tajam.


"Asal kau tahu, aku melakukan semua ini karena kalianlah yang terlebih dulu mengusik kehidupanku!"


"Apa maksudmu? Kami tidak pernah mengusik hidupmu karena kami sebelumnya tidak pernah mengenalmu!"


"Kau salah jika punya pemikiran seperti itu! DASAR BODOH!!" kata Evan disertai tatapan tajam sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2