
Milan kemudian mengangkat panggilan itu.
[Ya, halo Gani, bagaimana?]
[Tadi sempat terjadi keributan yang sangat besar saat saya sedang mengintai mereka melalui jendela.]
[Lalu bagaimana dengan wanita itu? Kekasih Evan, bagaimana keadaannya?]
[Saya sebenarnya sedikit mencemaskannya saat beberapa kali Evan memukulnya, tapi saat Evan tahu jika ternyata Celine juga dijebak, emosi Evan sedikit reda.]
[Lalu?]
[Mereka sepertinya sudah berbaikan meskipun masih ada kemarahan di raut wajah Evan.]
[Apakah ada pergerakan dari Evan.]
[Ya, saat ini saya sedang membuntutinya. Kemungkinan dia sedang menuju ke rumah bos.]
[Baik Gani, terimakasih. Kau tetap awasi gerak-gerik mereka.]
[Iya bos.]
Milan kemudian menutup teleponnya.
'Aku sudah menunggumu, Evan.' gumam Milan sambil tersenyum. Dia kemudian mengutak-atik ponselnya lagi.
[Halo Arvin, kau dimana?]
[Aku dalam perjalanan ke rumahmu, sebentar lagi sampai.]
[Cepatlah karena Evan juga sedang dalam perjalanan ke rumahku.]
[Iya Milan.]
πΉβοΈπΉβοΈπΉ
"Evan, bangun! Ini sudah pagi." kata Celine sambil menggoyang-goyangkan tubuh Evan.
"Oh sudah pagi."
"Ya, ini sudah kubelikan sarapan untukmu. Lebih baik kau makan dulu sekarang."
"Iya Celine, lalu bagaimana denganmu?"
"Aku sudah sarapan saat kau tidur tadi."
"Oh."
Evan kemudian memakan sarapan yang diberikan oleh Celine untuknya. Beberapa saat kemudian, penjaga rumah Milan pun tampak membuka gerbang rumah itu.
"Evan lihat itu."
"Ya, lihat penjaga rumah Milan sudah membuka gerbang kecil itu. Lebih baik kita mengintipnya dari celah gerbang." kata Celine.
Evan kemudian memajukan mobilnya.
"Tetap tidak terlihat jelas, Evan. Apakah sebaiknya aku turun saja?"
__ADS_1
"Ya, sebaiknya kau turun saja, Celine."
Celine pun turun dari mobil Evan, kemudian berjalan mendekat ke arah satpam yang berjaga di rumah tersebut.
"Permisi Pak."
"Iya Nona, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Ya, saya mau menanyakan alamat. Apakah benar ini alamat rumah Tuan Candra?"
"Tuan Candra? Sepertinya anda salah alamat. Ini rumah Tuan Milan."
"Oh, rumah Tuan Milan. Lalu apakah wanita itu istri Tuan Milan?" tanya Celine saat melihat seorang wanita berambut panjang di dekat sebuah mobil sedan berwarna hitam yang ada di halaman rumah tersebut.
"Ya, dia Nyonya Rachel, istri Tuan Milan."
Celine pun mengamati gerak-gerik Rachel bersama seorang anak laki-laki yang memakai seragam sekolah serta seorang anak perempuan berusia empat tahun.
"Sayang sekali wajahnya tidak terlihat, aku ingin membandingkan bagaimana sebenarnya istri dari Milan, aku ingin melihatnya secara langsung bukan dari foto di akun sosial media miliknya, aku yakin aku lebih cantik dibandingkan wanita itu." kata Celine sambil memperhatikan gerak-gerik Rachel.
"Permisi Nona, apa ada yang bisa saya bantu lagi? Anda sedang melihat apa?"
"Oh tidak apa-apa, hanya sekedar melihat-lihat saja. Memangnya istri Tuan Milan mau pergi ke mana pagi-pagi seperti ini?"
"Oh itu Nyonya Rachel, dia akan pergi mengantar putra sulungnya ke sekolah. Kenapa anda bertanya seperti itu? Apa anda ada urusan dengan mereka?"
"Oh tidak Pak, saya permisi dulu. Maaf sudah menggangu."
"Iya Nona."
"Bagaimana?"
"Seperti dugaanmu, pagi ini Rachel akan mengantarkan anaknya ke sekolah menaiki mobil sedan berwarna hitam itu yang sudah terparkir di halaman rumah mereka. Saat mobil itu keluar, kita harus segera membuntutinya, Evan."
"Iya Celine."
'Milan, kini nasib istri dan anakmu ada di tanganku.' gumam Evan sambil tersenyum menyeringai.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan berwarna hitam pun keluar dari rumah Milan.
"Evan, itu mereka. Cepat buntuti mereka."
"Iya Celine."
Evan pun bergegas mengendarai mobilnya mengikuti mobil sedan berwarna hitam yang ada di depannya.
"Apa kau tadi sudah melihat istri dari Milan?"
"Kenapa kau menanyakan seperti itu?"
Evan lalu tersenyum kecut.
"Setidaknya kau bisa membandingkan antara dirimu dan dia sampai kau begitu yakin jika Milan tertarik padamu." kata Evan sambil terkekeh.
"Kau tidak usah meledekku, Evan. Aku tadi hanya melihatnya sepintas dari samping dan belakang, aku tidak begitu jelas melihat wajahnya."
"Dasar bodoh."
__ADS_1
"Tolong Evan, tolong kau tidak usah berkata seperti itu lagi padaku, untuk saat ini yang terpenting adalah membalas dendam pada Milan."
"Baik, baik Celine sayang." jawab Evan sambil terkekeh.
Mereka pun terus mengikuti mobil sedan itu, awalnya mobil tersebut berjalan di sekitar pusat kota, tapi semakin lama, mobil itu melaju memasuki jalan tol keluar dari Jakarta.
"Celine, bukankah Rachel akan mengantarkan putranya ke sekolah? Tapi kenapa mereka malah pergi keluar dari ibu kota?"
"Entahlah Evan, aku tidak tahu. Mungkin Rachel ada urusan keluar kota."
"Apa kau yakin Rachel menaiki mobil itu?"
"Tentu saja, satpam rumah itu sendiri yang mengatakannya. Lagipula saat itu aku juga melihat Rachel ada di samping mobil tersebut bersiap untuk pergi. Lalu kau juga lihat kan, tadi di dalam mobil itu ada seorang wanita berambut panjang serta sopir yang mengantarkannya."
"Ya, aku memang melihat wanita berambut panjang yang kemungkinan adalah Rachel duduk di bagian kursi belakang mobil. Tapi aku hanya heran, kenapa tiba-tiba mobilnya menuju keluar kota?"
"Entahlah, mungkin Rachel hari ini tidak mengantarkan putranya ke sekolah karena ada urusan di luar kota."
"Ya, mungkin saja."
"Bukankah lebih baik seperti itu, Evan? Kita bisa lebih mudah menghilangkan jejaknya jika kita menculiknya saat dalam perjalanan keluar kota."
"Ya, kau benar Celine."
Mereka lalu terus mengikuti mobil sedan berwarna hitam yang ada di depannya, hingga mobil tersebut memasuki sebuah desa di pinggiran ibu kota.
"Evan, sebenarnya Rachel akan pergi kemana? Kenapa kanan dan kiri kita hanya ada pepohonan saja? Bahkan sudah lama aku tidak melihat rumah penduduk." kata Celine sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Entahlah, mungkin dia ingin pergi ke suatu tempat terpencil." jawab Evan yang juga mulai terlihat panik.
πΉπΏπΉπΏπΉπΏ
Sementara di dalam mobil sedan berwarna hitam yang ada di depan mobil Evan, dua orang yang menaiki mobil tersebut sedang tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.. Hahahaha."
"Mereka masih mengikuti kita kan Arvin?"
"Ya, mereka masih ada di belakang kita."
"Hahahaha mereka benar-benar bodoh. Membedakan istriku yang cantik dengan Arvin yang memakai rambut palsu saja tidak bisa." kata Milan sambil terkekeh.
"Kau juga pantas memakai seragam sopir itu Milan. Hahahaha."
"Hahahaha, aku juga tidak menyangka ternyata begitu mudah mengecoh mereka. Ternyata mereka tidak sepintar yang kupikirkan." kata Milan sambil tersenyum kecut.
"Milan, sepertinya ini sudah sangat jauh. Kita sudah ada di tengah hutan. Lebih baik kita beri pelajaran pada mereka sekarang."
"Iya Arvin." jawab Milan sambil menghentikan laju mobilnya.
πππππ
"Evan, lihat mereka menghentikan mobilnya."
"Iya Celine, tapi untuk apa Rachel berhenti di tengah hutan seperti ini?"
"Evan, apakah ini berarti kita sudah dijebak?" kata Celine sambil mengigit bibirnya.
__ADS_1