
Riana menatap Gibran yang kini sedang sibuk merawat tanaman miliknya yang beberapa hari tidak dia rawat. Dia bahkan sempat tersenyum saat melihat Gibran yang sedikit kesulitan membersihkan rumput yang ada di sekitar tanaman bunganya. Saat Gibran membersihkan peluh yang mengalir di dahinya, hati Riana pun tergerak untuk mendekat padanya.
"Ini kubawakan minuman." kata Riana.
Gibran pun kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat Riana yang kini sudah berdiri di belakangnya sambil membawakan minuman.
"Riana." kata Gibran disertai raut wajah penuh kebahagiaan.
"Minumlah, kau pasti haus." kata Riana sambil memberikan air minum pada Gibran.
Gibran pun bergegas mengambil air minum itu sambil tersenyum. "Terimakasih banyak, Riana."
"Jangan pikir aku sudah memaafkanmu, aku melakukan ini sebagai rasa terimakasihku karena kau sudah merawat tanamanku yang sudah beberapa hari ini terbengkalai."
"Iya, aku tahu itu. Aku tahu kau tidak akan pernah bisa memaafkan aku, kau berbuat seperti ini saja sudah cukup bagiku."
Riana kemudian membalikkan tubuhnya lalu beranjak pergi meninggalkan Gibran, namun Gibran mencekal tangannya. "Riana tinggu."
"Ada apa lagi?"
"Bukankah kau sedang mengandung?"
"Ya, memangnya kenapa? Apa kau tidak percaya jika ini adalah anakkmu?"
"Tidak bukan itu maksudku, Riana."
"Lalu?"
"Apakah kau sedang menginginkan sesuatu?"
"Menginginkan sesuatu?" tanya Riana kembali sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, maksudku nyidam sama seperti Bella." jawab Gibran sambil meringis.
"Memangnya kenapa?"
"Riana, bukankah kau mengatakan hanya menganggapku sebagai ayah dari bayi yang kau kandung?"
"Ya."
"Jika kau menganggapku seperti itu, biarkan aku memenuhi semua keinginan bayi yang ada di dalam kandunganmu."
Riana kemudian mengangguk. "Ya, nanti kau akan kuberitahu jika aku menginginkan sesuatu." jawab Riana, dia kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Gibran, namun tiba-tiba kepalanya terasa begitu sakit. Riana pun kemudian memegang kepalanya. Gibran yang melihatnya lalu menghampiri Riana.
"Kau kenapa, Riana?"
__ADS_1
"Kepalaku tiba-tiba pusing."
"Riana, lebih baik kau istirahat saja, ayo kita masuk." kata Gibran kemudian menuntun Riana masuk ke dalam kamar Riana.
"Sebentar Riana, akan kuambilkan obat sakit kepala dan vitamin kehamilan yang kemarin diresepkan dokter untukmu."
Riana kemudian mengangguk, dia lalu menatap Gibran yang keluar dari dalam kamarnya.
'Seandainya kau tidak berbohong padaku, aku pasti sangat bahagia bisa memiliki suami sepertimu, Gibran. Tapi kebohongan dan status narapidana yang tersemat padamu selalu membuatku ragu.' gumam Riana dalam hati.
Tiba-tiba perutnya pun terasa begitu mual, namun saat akan bangkit dari tempat tidurnya, tubuh Riana pun juga terasa begitu lemas.
'Oh Tuhan, apa ini? Kenapa rasanya seperti ini?' gerutu Riana di dalam hati, air matanya pun mulai menetes. Di saat itulah Gibran sudah ada di sampingnya untuk memberikan obat dan vitamin untuk Riana.
"Riana, minum ini." kata Gibran, namun Riana tetap memejamkan matanya, air mata kini mulai mengalir deras membasahi wajahnya.
"Riana, kau kenapa? Apa kehadiranku begitu menyakitimu?"
Riana pun menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau menangis?"
"Kepalaku." kata Riana.
"Kau pusing? Ini kuambilkan obat sakit kepala untukmu. Minumlah Riana." kata Gibran sambil memberikan obat dan vitamin itu. Namun Riana menggelengkan kepalanya.
"Tidak Gibran, perutku juga begitu mual, rasanya aku seperti ingin muntah."
"Ayo kutemani ke belakang." jawab Gibran.
"Tidak Gibran, tidak bisa tubuhku juga tiba-tiba begitu lemas." gerutu Riana sambil menangis kembali.
"Aku akan menggendongmu."jawab Gibran kemudian mengangkat tubuh Riana ke dalam pelukannya lalu membawa Riana ke dalam kamar mandi.
'Oh tidak.' gumam Riana dalam hati saat berada dalam gendongan Gibran.
Gibran kemudian mengendong Riana kembali ke dalam kamarnya saat Riana sudah keluar dari kamar mandi.
"Bagaimana, apa sudah jauh lebih baik?" tanya Gibran saat menggendong Riana. Namun Riana hanya menggelengkan kepalanya. Gibran lalu meletakkan tubuh Riana kembali di atas ranjang kemudian duduk di sampingnya.
"Lebih baik kau meminum obat ini dulu, Riana." kata Gibran sambil memberikan obat dan vitamin yang dia bawakan. Riana pun kemudian mengambil obat itu lalu meminumnya.
"Sekarang beristirahatlah." kata Gibran. Riana kemudian memejamkan matanya. Gibran pun menatap Riana yang kini memejamkan matanya dengan perasaan yang begitu tak menentu, sebuah getaran hangat yang merasuk ke hatinya seolah membangkitkan nalurinya untuk menyentuh wajah cantik Riana yang kini ada di hadapannya. Tangan Gibran pun terangkat, mendekat pada wajah cantik itu, namun saat sudah hampir menyentuhnya, Gibran mengurungkan niatnya.
"Tidak, aku tidak ingin menyentuhmu Riana, aku tidak ingin kau terluka karena sudah lancang menyentuh wajahmu tanpa seizin mu." kata Gibran sambil tersenyum kecut. Riana yang mendengar perkataan Gibran pun hanya bisa terdiam dan pura-pura tertidur sambil menahan sesaknya rasa sakit di dada.
__ADS_1
πΈππΈππΈπ
Arvin tersenyum saat melihat tingkah Bella yang sedang bercermin dengan tingkah centilnya. "Kau kenapa, Bella?"
"Arvin, apakah aku terlihat gemuk?"
"Hahahaha... hahahaha."
"Kenapa kau tertawa?"
"Aku yang seharusnya bertanya kenapa kau berkata seperti itu?"
"Arvin, apa kau lupa jika aku sedang hamil? Bukankah kau tahu jika seorang wanita hamil tubuhnya pun akan membengkak."
"Iya tapi tidak sekarang, Bella. Usia kehamilanmu saja baru memasuki lima minggu."
"Tapi suatu saat tubuhku tetap akan membengkak." gerutu Bella.
Arvin kemudian mendekat pada Bella, lalu melingkarkan tangannya di perut Bella.
"Memangnya kenapa jika kau gemuk? Aku akan tetap mencintaimu." kata Arvin sambil menciumi tengkuk Bella yang membuat Bella tersipu malu.
Arvin kemudian membalikkan tubuh Bella. "Sekarang dengarkan aku, kau sedang mengandung anak kita, jangan pernah berfikiran yang terlalu berat Bella, mulai sekarang yang kau pikirkan cukup menjaga kehamilanmu saja, jaga anak kita sebaik mungkin."
"Iya Arvin, mulai sekarang aku tidak akan berfikiran macam-macam, aku akan menjaga kehamilanku sebaik mungkin."
"Iya Bella, ini aku punya kejutan untukmu." kata Arvin sambil memberikan sebuah kotak pada Bella.
"Ini." kata Bella dengan raut wajah begitu bahagia sambil memegang sekotak cokelat London
"Ya, sebelum pergi meninggalkanmu sebenarnya aku ingin memberikan cokelat ini untukmu, itu cokelat kesukaanmu kita sering membelinya saat di London dulu, aku memperoleh ini dari salah seorang teman kuliahku yang pulang dari London. Namun saat aku melihatmu bersama laki-laki itu, aku mengurungkan niatku karena aku tidak mau mengganggumu."
Raut wajah Bella pun kembali murung. "Tolong jangan kau ungkit itu lagi Arvin, aku sudah tidak ingin mengingat laki-laki manapun kecuali dirimu."
Arvin pun kemudian tersenyum. "Iya Bella, tentu saja."
Bella pun ikut tersenyum lalu membuka cokelat pemberian Arvin kemudian memakannya. Namun saat sedang asyik memakan cokelat tersebut, sebuah benda keras terasa begitu mengganggu di dalam mulutnya.
"Apa ini?" kata Bella kemudian mengeluarkan benda tersebut dari mulutnya lalu meletakkan benda itu di tangannya.
"ARVINNNNNNN!!! Kau mau memberi kejutan untukku?" teriak Bella saat melihat sebuah cincin yang kini ada di tangannya.
Arvin pun tersenyum kemudian memeluk tubuh Bella kembali. "Iya Bella, maukah kau menikah denganku?" bisik Arvin dengan begitu manja di telinga Bella.
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1
"BRENGSEK!!!" umpat Evan saat melihat foto di postingan sosial media Bella saat dirinya tengah mengenakan cincin yang Arvin berikan untuknya.
"Lihat saja Bella, tidak akan kubiarkan kau menikah dengan laki-laki itu! Sebelum terlambat lebih baik sekarang aku harus mencari tahu dimana keberadaanmu!" kata Evan sambil berjalan keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Rafly.