Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Menata Hati


__ADS_3

"Arvin." kata Bella lagi sambil terisak, Bella pun kini hanya bisa menangis sambil menatap barang-barang kenangannya bersama Arvin.


"Ini semua sudah terlambat, sekarang aku pun tidak tahu dimana Arvin berada." kata Bella sambil menutup wajahnya. Dengan menegarkan perasannya yang masih begitu berkecamuk. Bella pun kemudian berdiri sambil membawa kardus itu, lalu berjalan ke dalam mobilnya dengan langkah gontai. Bella mengendarai mobilnya dengan perasaan yang begitu sakit, apalagi saat melihat kardus yang kini ada di sampingnya.


"Arvin kau tak pernah tahu jika aku sebenarnya sedang mengandung anakmu, biar anak yang ada di dalam kandunganku sebagai pelipur laraku atas semua rasa bersalahku padamu. Dulu hatiku begitu sakit saat tahu kau menghianatiku hingga aku berjanji dalam hidupku untuk tidak akan pernah memaafkan semua kesalahan yang pernah kau lakukan padaku. Tapi ternyata aku salah....." kata Bella sambil terisak dan tak mampu lagi meneruskan kata-katanya.


Bella lalu memegang perutnya. "Nak, suatu saat semoga kita bisa bertemu lagi dengan ayah kandungmu." kata Bella sambil mengendarai mobilnya dengan tatapan kosong, rasa sakit di hatinya terasa semakin menambah beban hidup yang terasa begitu berat saat ini. Beberapa saat kemudian, dia pun sudah sampai di rumahnya.


"Evan ada disini?" kata Bella saat melihat mobil Evan yang terparkir di depan rumahnya.


"Bella tenangkan hatimu." kata Bella sambil menghapus air matanya. Dia kemudian turun dari dalam mobil lalu masuk ke dalam rumah dan melihat Evan yang kini sudah menunggunya di sofa ruang tamu.


"Kau darimana saja sayang? Bukankah tadi kau mengatakan jika kau ingin beristirahat?" tanya Evan pada Bella.


"Emh, aku ada urusan sebentar Evan."


"Oh, apa itu sangat penting hingga kau pergi sendirian?"


"Ya, itu sangat sangat penting, bahkan menjadi bagian terpenting dalam hidupku." jawab Bella yang membuat Evan sedikit terkejut.


"Kau serius sekali sayang? Apa sesuatu telah terjadi padamu?"


"Oh.. O tidak, mungkin aku hanya ingin beristirahat."


"Mau kutemani?"


"Tidak Evan, sebaiknya kau pulang saja. Ini sudah malam, besok kau harus terbang ke Surabaya kan untuk bertemu salah satu klien kita? Kau harus menjaga kesehatanmu, aku tidak ingin kau terlalu mencemaskanku sampai mengabaikan urusan pekerjaan kita, karena mungkin aku belum bisa kembali ke kantor dalam waktu dekat."


"Kenapa kau tidak bisa kembali ke kantor dalam waktu dekat? Apa sebenarnya yang telah terjadi padamu, Bella?"


"Tidak apa-apa Evan, aku baik-baik saja namun ada sesuatu yang harus kutata."


'Menata hatiku.' gumam Bella dalam hati.


"Oh, baik jika itu maumu Bella, tapi berjanjilah agar kau jangan terlalu lelah, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu."


"Iya Evan, kau tenang saja. Aku akan menjaga kesehatanku."


"Iya sayang, aku pulang dulu." kata Evan kemudian memeluk dan mengecup kening Bella.


Bella pun mengangguk, sambil melihat kepergian Evan. Setelah Evan pergi, dia lalu berjalan ke arah mobilnya untuk mengambil kardus itu. Setelah mengambil kardus di dalam mobilnya. Bella lalu berjalan ke arah kamarnya dengan perasaan yang begitu tak menentu.

__ADS_1


"Kau dimana?" tanya Bella sambil memegang kardus itu, dia kemudian membaca lagi tulisan-tulisan Arvin yang dia tunjukkan padanya.


"Dasar bodoh, sejak kapan kau bisa menulis, Arvin? Bukankah kau tidak pernah bisa menulis surat cinta? Kenapa tiba-tiba kau berubah seperti ini? Kenapa kau tidak mengatakannya saja padaku?"


Dia lalu menatap surat-surat itu lagi. "Tidak, tidak, bukan kau yang bodoh tapi aku yang tidak pernah memberimu kesempatan." kata Bella kembali sambil terisak.


"Maafkan aku, Arvin. Maafkan aku."'


Di saat itu pula, tiba-tiba ponsel Bella pun berbunyi.


"Evan." kata Bella setelah melihat nama Evan di layar ponselnya. Namun, Bella membiarkan ponsel itu terus berbunyi dan memilih hanyut dalam isak tangisnya.


"Maafkan aku, Evan. Entah mengapa perasaanku kini padamu begitu hampa. Semua ini memang kesalahanku yang tidak bisa memahami sendiri perasaanku. Mungkin selama ini perasaanku padamu hanya sebatas kagum, namun aku mengartikannya sebagai sebuah cinta." kata Bella sambil terisak.


🌿🌸🌿🌸🌿


Saat dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, tiba-tiba ponsel Riana berbunyi.


"Siapa Ri?" tanya Gibran yang penasaran.


"Kakakku, Gibran."


"Oh." jawab Gibran yang sedikit cemburu.


[Halo Kak.]


[Halo Riana, kau ada dimana?]


[Aku sedang di jalan Kak. Ada apa?]


[Oh tidak apa-apa, hari ini aku pulang tapi kau tidak ada di rumah jadi aku menghubungimu.]


[Jadi kakak pulang?]


[Iya Ri, aku ada di depan rumah sekarang.]


[Iya Kak, sebenar lagi aku pulang.] kata Riana kemudian menutup panggilan telepon itu.


"Gibran, kakakku pulang." kata Riana dengan raut wajah yang begitu bahagia. Gibran pun kemudian menghentikan laju mobilnya.


"Kenapa tiba-tiba kau berhenti, Gibran?"

__ADS_1


Gibran pun menatap Riana dengan tatapan tajam kemudian memegang wajahnya.


"Riana, meskipun kakakmu pulang tolong berjanjilah padaku agar kau tidak lagi berpaling padanya."


Mendengar kata-kata Gibran, Riana pun tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum Ri?"


"Apa kau cemburu?"


'Cemburu? Apakah aku cemburu?' gumam Gibran dalam hati.


Melihat raut wajah Gibran yang terlihat bingung, Riana pun kemudian tertawa.


"Gibran, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada kakakku."


"Benarkah?"


"Ya." jawab Riana sambil tersenyum.


'Sial, apakah aku benar-benar telah jatuh cinta padanya? Rasanya sangat sulit menahan gejolak di dalam dada.' gumam Gibran dalam hati sambil melirik pada Riana yang masih tersenyum.


"Gibran, jangan melamun. Ayo kita pulang, kasihan kakakku menunggu kita di luar rumah."


"Iya." jawab Gibran kemudian mengemudikan mobil itu kembali. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah Riana. Sebuah mobil MPV warna hitam kini terparkir di depan rumahnya.


"Itu kakakku." kata Riana sambil tersenyum dan menunjukkan sosok laki-laki yang kini sedang duduk di kursi yang ada di teras rumah tersebut sambil terlihat sibuk memainkan ponselnya.


"Ayo kita turun, Gibran. Kau akan kuperkenalkan dengannya."


Gibran pun mengangguk, dia kemudian turun dari mobil lalu berjalan mengikuti Riana yang berjalan di depannya.


"Kakak, apa kau sudah lama menunggu kami?" tanya Riana pada sosok tersebut.


Laki-laki yang itu pun kemudian mengangkat wajahnya, dan betapa terkejutnya Gibran karena laki-laki yang ada di depannya saat ini adalah laki-laki yang sangat dibencinya. Begitupula laki-laki itu, dia begitu terkejut melihat sosok Gibran yang kini datang bersama Riana.


"GIBBBRAAANNNNNN!!!!!"


"ARRRVVVIIIIIIINNNNN!!!!!!"


Teriak mereka secara bersama-sama yang membuat Riana juga begitu terkejut.

__ADS_1


"Ja.. Jadi kalian sudah saling mengenal satu sama lain?" tanya Riana yang kini melihat mereka dengan raut wajah kebingungan.


__ADS_2