
Setelah menutup telepon dari Gibran. Rafly kemudian keluar dari ruangannya untuk pulang ke rumah. Namun saat itu juga netranya tertuju pada Evan yang masih terlihat sibuk di ruangannya. Rafly pun mengintip gerak-gerik Evan di ruangan tersebut.
'Aku harus menyelesaikan semua ini sebelum Bella kembali ke kantor.' kata Evan dalam hati sambil terlihat mengetik sesuatu.
"Jika Bella tidak menjadi milikku, aku harus memiliki cara yang lain agar aku bisa tetap menjadi bagian dari pemilik perusahaan ini, paling tidak lima puluh persen kepemilikan saham perusahaan ini harus bisa menjadi milikku." kata Evan sambil tersenyum menyeringai.
Rafly yang kian curiga dengan gerak-gerik Evan pun mendekat padanya. "Evan, ini sudah petang, apa yang kau lakukan? Apa pekerjaanmu belum selesai? Apa ada yang perlu kubantu?" tanya Rafly yang membuat Evan terlihat sangat panik lalu menutup file yang sedang dikerjakannya.
"Oooh Pak Rafly, pekerjaanku sudah selesai, aku hanya sedang membersihkan file sampah yang sudah tidak perlu."
"Oh, baik Evan sebaiknya kau pulang sekarang jika sudah selesai. Tidak baik terlalu lama di kantor, apalagi saat ini tidak ada Bu Bella." kata Rafly dengan tatapan sedikit mengintimidasi.
"O..Oh iya Pak Rafly, saya juga berencana akan pulang sekarang." jawab Evan kemudian mematikan komputernya lalu bangun dari tempat duduknya.
"Ayo kita ke basemen bersama."
"Iya." jawab Evan kemudian berjalan mengikuti Rafly ke basemen.
'Sial gara-gara dia, aku bahkan belum menyimpan file itu karena aku panik dan menutupnya tanpa menyimpan terlebih dulu.' gumam Evan.
Sesekali Rafly pun melirik pada Evan. 'Tidak semudah itu Evan.' gumam Rafly sambil tersenyum kecut.
πΏπΈπΏπΈπΏπΈπΏ
TOK TOK TOK
Gibran pun mengetuk pintu kamar Arvin. Bella dan Arvin yang masih tertidur setelah lelah melepaskan hasrat mereka pun terbangun.
"Iya sebentar." jawab Bella, dia kemudian beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambil pakaiannya yang tercecer di bawah ranjang lalu mengenakan pakaian tersebut.
'Huh lama sekali, apa saja yang mereka lakukan, bukankah tadi mereka memulainya jauh sebelum aku.' gerutu Gibran.
Beberapa saat kemudian, Bella pun membuka pintu kamar itu.
"Lama sekali." gerutu Gibran.
"Aku sedang tidur, Gibran."
"Memangnya aku tidak mendengar apa yang kalian lakukan? Kau bahkan men*esah dengan sangat keras." kata Gibran sambil tersenyum kecut.
"Sudahlah tidak usah ikut campur urusan kami, ada urusan apa, Gibran?"
"Ada urusan penting yang ingin kubicarakan, ayo kita duduk di sofa." jawab Gibran.
"Sebentar, aku bangunkan Arvin terlebih dulu." kata Bella.
__ADS_1
Gibran pun mengangguk, dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar lalu membangunkan Arvin.
"Sayang." bisik Bella di telinga Arvin. Perlahan Arvin pun membuka matanya.
"Ada apa sayang?"
"Ini sudah sore Arvin, lebih baik kau bangun terlebih dulu."
"Iya Bella." jawab Arvin.
"Aku keluar dulu, Gibran mau membicarakan hal penting denganku."
Arvin pun menganggukkan kepalanya. Bella lalu keluar dari kamar Arvin lalu duduk di samping Gibran.
"Ada apa, Gibran?" tanya Bella saat sudah duduk di samping Gibran.
"Ini mengenai asisten pribadimu."
"Maksudmu Evan?"
"Ya, Evan."
"Ada apa dengan Evan?" tanya Bella pada Gibran sambil memandang Arvin yang kini juga sudah duduk di samping Bella.
"Rafly baru saja menelponku, sejak kau pergi kesini sikapnya terlihat begitu aneh, dia seperti sedang mencari tahu keberadaanmu. Apalagi sejak kau menemui Rafly di kantor, dia selalu mencari tahu maksudmu mendatangi Rafly saat itu."
"Entahlah Bella, dia bahkan menolak saat Rafly menawarkan bantuannya untuk menghubungi lewat telepon. Dia bersikeras untuk meminta bertemu denganmu, untuk saat ini Rafly sedang menyelidiki gerak-gerik Evan."
"Bella, apakah yang Gibran maksud adalah Evan yang pernah menjalin hubungan denganmu?"
Bella pun menganggukkan kepalanya. Gibran yang mendengar perkataan Arvin pun begitu terkejut.
"APAAA? JADI KAU PERNAH MEMILIKI HUBUNGAN DENGAN EVAN?" bentak Gibran pada Bella.
Bella pun mengangguk.
"Bella, kenapa kau bodoh sekali. Bukankah dulu sudah kukatakan agar kau lebih berhati-hati dalam menjalani hubungan." gerutu Gibran.
"Sudahlah Gibran, ini sudah berlalu lagipula Bella menjalin hubungan dengan Arvin juga tidak lama."
"Iya benar, benar yang Arvin katakan. Aku hanya menjalin hubungan dengan Evan selama satu hari saja tidak lebih, tepatnya satu minggu sebelum aku pergi kesini." jawab Bella.
"Benar kau menjalin hubungan dengannya selama satu hari saja?" tanya Gibran dengan tatapan tajam.
"Ya benar Gibran, hanya satu hari saja. Tidak lebih, aku tidak berbohong. Bukankah kau tahu sejak keluar dari penjara aku sudah tidak pernah berbohong?" gerutu Bella.
__ADS_1
"Ya, anggap saja aku percaya padamu. Untungnya kau tidak terlalu lama berpacaran dengannya karena ini sangat berbahaya bagi perusahaan kita."
"Berbahaya bagi perusahaan kita? Apa maksudmu Gibran?"
"Bella apa kau belum sadar yang telah kukatakan padamu? Evan sangat berbahaya, coba kau pikir untuk apa dia menyelidiki keberadaanmu dan urusanmu dengan Rafly jika tidak memiliki maksud buruk padamu."
Wajah Bella pun terlihat sangat panik, tubuhnya kini menegang saat mengingat kedekatannya dengan Evan selama satu bulan terakhir ini. "Oh tidak, lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kembalilah secepatnya ke Jakarta."
"Tidak bisa Gibran, besok kita akan menikah."
"APA MENIKAH?" teriak Gibran yang hanya dijawab anggukan oleh Bella dan Arvin sambil tersenyum.
"Kalian memang benar-benar kurang ajar." gerutu Gibran.
"Kau tenang saja Gibran, pernikahan kami digelar secara sederhana hanya ijab qabul saja, setelah itu kami akan kembali ke Jakarta."
"Lalu melangsungkan resepsinya setelah anak kami lahir." kata Bella sambil terkekeh.
"Baik jika itu mau kalian, kalian bisa kembali ke Jakarta besok sore."
"Gibran, apa tidak sebaiknya kau juga kembali ke Jakarta?" tanya Arvin.
"Apa maksudmu? Itu sama saja menyerahkan diri pada polisi."
"Gibran, selama kau berhati-hati kau aman, kau berdiam diri saja di rumah Bella, jangan sampai kau keluar dari rumah untuk sementara waktu. Lagipula kau memiliki anak buah yang selalu menjagamu kan?"
'Gibran, tidak akan kubiarkan kau tinggal sendiri disini dengan Riana, sangat berbahaya untuk kalian berdua. Apalagi dia sedang hamil aku takut polisi sudah mulai mencium keberadaanmu dan saat kau tertangkap Riana akan terkena imbasnya.' gumam Arvin di dalam hati.
Gibran pun mengangguk.
"Baik besok kita kembali ke Jakarta. Arvin, besok lusa sebaiknya kau saja yang menggantikan posisiku di kantor, aku khawatir jika Bella bertemu dengan Evan di kantor, sesuatu yang buruk bisa terjadi pada Bella. Aku akan membantu dan membimbingmu dari rumah."
"Iya Gibran."
'Arvin, dalam waktu dekat aku akan mengendalikan perusahaanku menggunakan tanganmu, akan kuselidiki siapa Evan sebenarnya, aku curiga dia hanya ingin menguasai perusahaan kami saja dengan berpura-pura mencintai Bella.' kata Gibran di dalam hati.
NOTE:
Udah berulangkali othor bilang ya, apa kurang jelas di pengumuman jika ini PARTNER RANJANG season 2!
Pemeran utama disini GIBRAN DAN BELLA dalam mencari cinta sejati, kok masih ada yang menganggap pemeran utamanya Milan dan Rachel? Sampe mengira othor melupakan mereka sebagai pemeran utama π€ Di pengumuman othor kan bilang di sini Rachel dan Milan cuma keluar dikit, nanti ikuti alur.
Kenapa masih di novel yang sama? Karena mereka sama-sama memiliki PARTNER RANJANG tanpa hubungan yang terlalu jelas yaitu RIANA DAN ARVIN.
__ADS_1
Sekali lagi othor tegaskan tokoh utama di PARTNER RANJANG season 2 ini GIBRAN DAN BELLA!!!