Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Kardus Bekas


__ADS_3

Dengan penuh keraguan, akhirnya Bella pun mencoba menelepon nomor Arvin yang ada di ponselnya. Namun beberapa kali dia menelepon nomor tersebut, nomor itu sudah tidak aktif lagi.


"Oh tidak, apa yang harus kulakukan?"


Bella pun tampak berfikir sejenak. "Mungkin nomornya memang sudah tidak aktif lagi, oh iya Jessica, mungkin Jessica atau Felix tahu nomor baru Arvin. Bella pun kemudian menghubungi Jessica.


[Halo Jessica.]


[Iya Bella, ada apa?]


[Jessica, apa kau tahu nomor terbaru, Arvin?]


[Nomor barunya? Setahuku dia belum berganti nomor, Bella.]


[Tapi aku sudah berulangkali menghubunginya dan nomor itu sudah tidak aktif lagi, Jessica.]


[Sebentar kutanyakan pada Felix, mungkin dia tahu saat ini Arvin sudah mengganti nomor ponselnya.]


[Iya Jessica.]


Bella pun menunggu dengan begitu cemas jawaban dari Jessica saat sedang menanyakan nomor Arvin pada Felix.


[Halo Bella.]


[Ya, bagaimana Jess? Apa Felix tahu nomor baru Arvin?]


[Maafkan aku Bella, Felix pun tidak tahu jika Arvin telah berganti nomor.]


'Astaga, apa yang harus kulakukan.' gumam Bella dalam hati.


[Bella, kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba diam?]


[Tidak apa-apa, aku hanya sedang sedikit tidak enak badan.]


[Oh aku pikir ada sesuatu yang bergitu penting untuk dibicarakan dengan Arvin.]


[Tidak terlalu penting, Jessica.]


[Bagaimana jika kau datang saja ke rumahnya.]


[Apa kau tahu alamatnya?]


[Tentu, kami tahu alamat rumah Arvin.]


[Tolong berikan alamatnya padaku, Jessica.]


[Katamu kau tidak punya urusan yang penting dengannya tapi kenapa kau sepertinya sangat ingin bertemu dengannya? Apakah kau merindukannya?] kata Jessica sambil terkekeh.


[Come on Jessica, ini bukan saatnya bercanda.]


[Baik aku akan memberikan alamatnya, alamatnya akan kukirim lewat pesan padamu.]

__ADS_1


[Baik Jessica, terimakasih banyak.]


[Kau sepertinya sangat membutuhkan Arvin, apakah kau masih bisa bilang kau tidak memiliki urusan yang penting dengannya?]


[Oh my God, iya Jessica aku memiliki urusan yang sangat penting dengannya.]


[Bagus jika kau mau mengakuinya, sekarang aku akan mengirimkan alamat Arvin padamu.] kata Jessica sambil tertawa.


[Terimakasih.] jawab Bella kemudian menutup telepon dari Jessica.


Beberapa saat kemudian, Bella lalu menerima alamat yang dikirimkan oleh Jessica.


"Alamat ini? Bukankah alamat ini dekat dengan restoran tadi?" gerutu Bella sambil menutup mulutnya.


"Astaga, apakah kau melakukan semua ini untuk mengingat semua tentang kita, Arvin?" kata Bella, hingga tanpa dia sadari, air mata pun mulai mengalir di pipinya. Hatinya pun kini terasa begitu sesak mengingat semua perlakuannya pada Arvin akhir-akhir ini.


"Oh tidak, kenapa aku tidak pernah memberinya kesempatan walaupun hanya untuk sekedar berbicara denganku?"


"Sebelum semuanya terlambat, aku harus menemui Arvin secepatnya." kata Bella kemudian keluar dari dalam rumah kemudian masuk kedalam mobilnya. Dengan kecepatan begitu tinggi, dia lalu mengendarai mobilnya menuju ke kontrakan milik Arvin.


🌸🌿🌸🌿🌸


Gibran dan Riana keluar dari rumah sakit dengan senyuman penuh kebahagiaan. "Akhirnya gips di kakimu sudah bisa dilepas juga, Gibran."


"Ya, dan ini akan semakin memudahkan kita kan sayang?"


"Mudah? Memudahkan apa maksudmu?"


"Lebih baik kita pulang sekarang, Gibran." kata Riana untuk menyembunyikan wajahnya yang kini bersemu merah.


Gibran pun kemudian tersenyum melihat tingkah Riana. "Dia benar-benar gadis yang sangat polos dan lugu, dimana lagi aku bisa menemukan gadis seperti itu di jaman sekarang?" kata Gibran sambil melihat Riana yang masuk ke dalam mobilnya bak terbukanya. Dia kemudian berlari kecil untuk mengejar Riana.


"Riana, biarkan aku yang mengendarai mobil ini, kakiku sudah sembuh, kau duduk saja di sampingku."


"Benar kau sudah bisa mengendarai mobil lagi?"


"Tentu Riana."


"Baik."


"Gibran kau sudah sembuh, apa setelah ini kau akan kembali ke rumahmu?" tanya Riana saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Kenapa kau bicara seperti itu?"


"Aku takut kau akan meninggalkanku." kata Riana dengan wajah tertunduk. Gibran pun melirik wajah Riana, wajah polos cantiknya kini terlihat begitu murung yang membuat perasaan Gibran tak menentu.


'Oh Tuhan, kenapa tiba-tiba aku merasakan perasaan seperti ini? Getaran apa ini?' gumam Gibran.


"Tentu tidak, Riana. Aku akan tetap berada di sampingmu."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Ya, aku akan selalu ada di sampingmu, selamanya." jawab Gibran dengan senyum tersungging di wajahnya.


"Terimakasih Gibran." kata Riana sambil menyenderkan kepalanya di bahu Gibran yang sedang menyetir mobil.


'Astaga, kenapa tiba-tiba aku berkata seperti ini?' gumam Gibran sambil melirik Riana yang kini menyenderkan kepalanya sambil memejamkan matanya.


🌿🌸🌿🌿🌸


Setengah jam kemudian, Bella pun sudah sampai di kontrakan milik Arvin, dia lalu bergegas turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu kontrakan itu.


TOK TOK TOK


TOK TOK TOK


TOK TOK TOK


Sudah begitu lama Bella mengetuk pintu kontrakan itu namun tetap tidak ada jawaban, kontrakan itu pun terlihat sepi, hingga akhirnya seorang wanita paruh baya mendekat ke arahnya.


"Permisi nona, anda mencari siapa?" tanya wanita paruh baya tersebut.


"Maaf Bu, saya mencari Arvin."


"Oh Arvin? Dia sudah tidak tinggal di sini lagi."


"Tidak tinggal di sini lagi?"


"Ya, saya pemilik kontrakan ini dan baru saja satu jam yang lalu dia pergi dari kontrakan ini dengan membawa semua barang-barangnya dan mengembalikan kunci rumah ini pada saya."


"Apakah ibu tahu kemana Arvin pergi?"


Wanita paruh baya itu lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Terimakasih bu." kata Bella.


"Iya, ibu pergi dulu ya Nak."


Bella pun mengangguk, perasannya kini terasa begitu hancur. Dengan langkah yang begitu lemah dia lalu berjalan keluar dari rumah kontrakan tersebut. Namun saat akan keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba tasnya tersangkut sebuah kawat yang ada di tong sampah. Bella pun kemudian melepaskan bagian yang tersangkut dari kawat tersebut. Namun saat itu juga netranya tertuju pada sebuah kardus yang ada di dekat tong sampah itu.


"Kardus apa ini?" kata Bella kemudian membuka kardus tersebut, dan betapa terkejutnya Bella saat mengetahui isi dalam kardus tersebut ternyata berupa benda-benda kenangannya dengan Arvin saat mereka masih menjalin hubungan dulu.


"Benda-benda ini?" kata Bella.


"Semua benda-benda ini adalah benda kesayangan kami dulu saat kami masih tulus mencintai satu sama lain, belum ada Milan di hidupku dan belum ada Vania yang masuk dalam kehidupannya." kata Bella sambil menutup mulutnya.


Bella lalu menemukan sebuah kertas, kemudian dia membaca kertas itu.


Bertemu dengan Vania dan terbujuk oleh rayuannya adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, setelah semuanya berlalu baru kusadari jika ternyata aku hanya mencintaimu, Bella.


Melupakanmu adalah bagian tersulit dalam hidupku karena mungkin aku tidak akan pernah bisa, hingga akhirnya aku menyerah dalam belenggu cinta ini. Sampai kapanpun hati ini hanya untukmu, meskipun ini terasa begitu pahit tapi aku sadar cinta memang tidak harus memiliki. Namun selamanya aku akan tetap mencintaimu, Bella.


Membaca tulisan di kertas tersebut, hati Bella pun terasa begitu hancur, air mata kini mengalir deras membasahi pipinya hingga dia tak mampu lagi menahan gejolak yang ada di dalam dadanya yang membuatnya berteriak.

__ADS_1


"AAARRRVVVIIIIINNNNNNNNN." teriak Bella diiringi isakan yang begitu menyayat hati.


__ADS_2