
'Kepala yang baru?' gumam Gibran dalam hati.
Laki-laki berseragam itu lalu mengamati seluruh penghuni yang ada di ruang tahanan Gibran dengan tatapan begitu tajam.
"Siapa yang membuat keributan disini?" bentak laki-laki itu, namun semua yang ada di ruangan itu terdiam.
"Cepat katakan siapa yang sudah berani berbuat onar dan sok jagoan di sini!"
Para tahanan kembali terdiam dan hanya saling berpandangan satu sama lain.
"Jadi kalian tidak mau mengaku? Bagus sekali rasa setia kawan diantara kalian! Baik karena kalian semua begitu setia kawan antara yang satu dengan yang lain maka kalian semua akan mendapatkan hukuman yang sama!" bentak kepala lapas tersebut.
'Brengsek!' umpat Gibran sambil menatap tajam pada kepala lapas tersebut.
"Kalian semua akan dipekerjakan selama 24 jam tanpa mendapatkan makanan sedikitpun!"
Mendengar hukuman yang akan mereka terima, para tahanan pun saling berpandangan, namun mereka tidak ada yang berani buka mulut karena pria bertato itu menatap mereka semua dengan tajam.
"Baik, sepertinya kalian semua sudah siap? Sekarang juga kalian akan dipindahkan ke ruang ketrampilan khusus dan akan dipekerjakan selama 24 jam non stop." kata kepala lapas yang membuat para tahanan terlihat begitu panik, tak terkecuali Gibran.
'Awas kau, jika aku sudah keluar dari sini, akan kubuat perhitungan denganmu dan kau tidak akan kulepaskan!' umpat Gibran dalam hati sambil menatap tajam kepala lapas itu.
"Hei ada apa kau menatapku dengan tatapan seperti itu!" bentak kepala lapas pada Gibran yang tengah memergokinya tengah menatapnya dengan tatapan begitu tajam.
"Tidak." jawab Gibran dengan nada datar.
"Bagus, siapapun dirimu diluar sana kau tetaplah seorang tahanan di tempat ini! Posisi kalian sama saja di sini! Apa kau mengerti?"
"Ya." jawab Gibran sambil memalingkan wajahnya.
Kepala lapas itu lalu memalingkan wajahnya pada beberapa orang sipir yang berdiri di belakangnya.
"Pindahkan semua tahanan yang ada di ruangan ini ke dalam ruang ketrampilan khusus dan pekerjakan mereka selama 24 jam tanpa makanan sedikitpun."
"Baik Pak." jawab para sipir tersebut.
"Ayo cepat kalian keluar sekarang!" bentak para sipir tersebut pada para tahanan yang ada di ruangan itu.
Gibran pun melewati kepala lapas sambil meliriknya.
__ADS_1
'Awas kau, akan kubuat perhitungan denganmu karena kau sudah berani mengusik hidupku.' kata Gibran dalam hati.
☘️☘️☘️☘️☘️
Bella tampak begitu serius mengamati beberapa berkas yang tertumpuk di meja kerjanya.
"Apa ini? Aku benar-benar tak mengerti semua ini!" teriak Bella di ruang kerjanya di depan tumpukan berkas yang ada di depannya.
"Aku tidak pernah mengurus perusahaan dan aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa melakukan semua ini!" Bella kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Tuhan, tolong aku. Beri aku kekuatan untuk menjalani semua ini sendirian tanpa Gibran, tanpa Mama." kata Bella diiringi isakan.
Bella pun kemudian membuka tangannya lalu memijit keningnya. "Aku harus mencari jalan keluar atas semua masalah ini, tapi apa yang harus kulakukan?" gerutu Bella dengan nada putus asa.
"Apakah sebaiknya aku meminta tolong pada Milan dan Rachel? Oh tidak.. tidak, ini bukan ide yang bagus. Aku harus memecahkan semuanya masalah ini sendiri. Aku harus bisa memerintahkan seseorang untuk mengerjakan semua ini karena aku tidak bisa mengurusnya sendiri." kata Bella sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba, Bella pun menyadari kata-kata yang telah diucapkannya.
"Itu dia, itu yang harus kulakukan!" kata Bella dengan bersemangat, dia lalu tampak menelepon seseorang.
TOK TOK TOK
"Masuk."
"Ibu Bella memanggil saya?" tanya seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Asisten pribadi?" tanya Sinta yang merupakan sekertaris Bella.
"Ya. Sinta, bukankah kau tahu sendiri aku tidak pernah bekerja, selama ini yang memegang perusahaan ini adalah Mama dan Gibran. Aku benar-benar tidak mengerti semua ini."
"Ooh iya Ibu Bella, saya bisa memahami keadaan anda sekarang, anda memang membutuhkan seorang pendamping yang membantu anda dalam menangani perusahaan ini."
"Iya Sinta, sekarang tolong kau bilang pada bagian HRD untuk mencarikan asisten yang benar-benar profesional dan pintar, agar dia bisa menghandle semua pekerjaanku dan aku cukup mengawasinya saja. Tolong carikan secepatnya, kalau bisa besok kita sudah harus melakukan interview." kata Bella sambil meringis.
"Baik Bu Bella."
"Terimakasih, kau bisa pergi sekarang."
Bella pun menatap kepergian Sinta dari ruangannya dengan senyum yang begitu merekah.
"Bagus sekali, sebentar lagi aku tidak perlu mengurus semua ini. Ini semua benar-benar menghabiskan tenaga, emh lebih baik sekarang aku ke salon saja." kata Bella sambil meninggalkan ruangannya.
Bella kemudian berjalan ke arah basemen lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia mengendarai mobil tersebut ke sebuah salon mewah yang tidak jauh dari kantornya. Senyum pun tersungging di bibirnya saat turun dari dalam mobilnya.
__ADS_1
"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa merawat kembali wajah dan tubuhku." kata Bella sambil melangkahkan kakinya menuju salon tersebut. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Maaf Nona, apa ini milik anda?" sapa sebuah suara.
Bella pun kemudian membalikkan badannya dan melihat seorang lelaki berbadan tegap dengan postur tubuh yang begitu atletis serta memiliki lekuk wajah begitu macho.
'Wow tampan sekali, dia jauh lebih tampan dibandingkan Milan dan Arvin.' gumam Bella sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Nona, apakah ini milik anda?" tanya laki-laki itu lagi sambil memberikan kunci mobil pada Bella.
"Oooh iya, itu milikku." jawab Bella dengan begitu gugup karena menahan perasaannya yang kini begitu tak menentu.
"Oh tadi kunci itu terjatuh saat anda menaruhnya ke dalam tas."
"Terimakasih." kata Bella sambil tersenyum dengan begitu manis.
"Saya permisi dulu, nona."
"Silahkan." jawab Bella sambil menahan debaran yang ada di dalam hatinya.
Bella lalu memandang laki-laki tersebut yang kini sedang berjalan ke arah sebuah cafe yang terletak di samping salon tempat Bella akan melakukan perawatan.
"Astaga, Bella kendalikan dirimu." kata Bella sambil menghembuskan nafas panjang
☘️☘️☘️☘️☘️
Gibran tampak mengerjakan anyaman bambu yang ada di tangannya dengan begitu malas.
'Tempat ini sekarang benar-benar menjadi neraka bagiku!' gumam Gibran sambil meremas anyaman yang ada di tangannya.
"Breng*ek!" umpat Gibran yang membuat semua tahanan yang ada di ruang ketrampilan tersebut terkejut.
"Hei kenapa kau berteriak?" tanya laki-laki bertato yang beradu mulut dengan Gibran.
Gibran pun kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Maukah kau bekerjasama denganku?" tanya Gibran pada Jamal, lelaki bertato tersebut.
"Bekerjasama? Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Bantu aku kabur dari penjara terkutuk ini." kata Gibran sambil tersenyum menyeringai.